Berita

Menumbuhkan Anak Tangguh dan Siaga Bencana melalui Sekolah Alkitab Liburan (SAL) se-Klasis Kulon Progo

18 Agustus 2026

“Anak-anak Sekolah Minggu perlu belajar tentang bencana sejak dini. Ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan memahami cara menghadapi bencana, gereja pun akan semakin kuat dalam menghadapi berbagai tantangan.” — David Pattinama, YAKKUM Emergency Unit (YEU) 

Pentingnya Pendidikan Kebencanaan bagi Anak 

Ketika bencana terjadi, anak-anak termasuk kelompok yang paling terdampak. Selain menghadapi ancaman terhadap keselamatan dan kesejahteraan mereka, anak-anak juga memiliki keterbatasan dalam memahami situasi darurat dan cara meresponsnya. Meski demikian, pendidikan kesiapsiagaan bencana masih jarang menyasar kelompok usia anak. Padahal, pengetahuan dan keterampilan dasar tentang kesiapsiagaan perlu diperkenalkan sejak dini agar anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh, peduli, dan siap menghadapi berbagai risiko di masa depan. 

Kesadaran inilah yang sejalan dengan semangat Paskah Sinode GKJ (Gereja Kristen Jawa) tahun 2026 yang mengangkat tema Paskah Ekologis. Tema tersebut mengajak umat untuk semakin menyadari pentingnya menjaga dan merawat ciptaan Tuhan. Berbagai bencana yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan dan perubahan alam dapat berdampak besar terhadap kehidupan manusia. Oleh karena itu, upaya merawat alam tidak dapat dipisahkan dari kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana. Sebagai wujud pertobatan ekologis, umat diajak tidak hanya menjaga keseimbangan alam, tetapi juga membangun kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi berbagai ancaman bencana secara bijaksana dan bertanggung jawab. 

Berangkat dari semangat tersebut, Bidang Persekutuan Warga Gereja (PWG) GKJ Klasis Kulon Progo bersama YEU menyelenggarakan Sekolah Alkitab Liburan (SAL) dengan tema “Menjadi Penolong bagi Sesama: Waspada, Tanggap, dan Berempati” bagi anak-anak Sekolah Minggu se-Klasis Kulon Progo di GKJ Kalipenten. Dalam kegiatan ini, anak-anak tidak hanya mendengarkan cerita Alkitab, tetapi juga belajar mengenali ancaman bencana, mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan diri, dan memahami pentingnya saling menolong sebagai wujud kasih kepada sesama. Melalui pendekatan tersebut, SAL menjadi ruang belajar yang menanamkan nilai iman, empati, dan kesiapsiagaan sejak usia dini. 

Belajar Siaga dan Peduli Melalui Kisah Alkitab 

Salah satu kisah Alkitab yang diperkenalkan dalam SAL adalah kisah Nabi Nuh. Dalam kisah tersebut, Nuh menunjukkan ketaatan dan kesiapsiagaan dengan mengikuti petunjuk Tuhan untuk membangun bahtera sebelum bencana air bah terjadi. Melalui cerita ini, anak-anak diajak memahami pentingnya mengenali ancaman bencana, peka terhadap tanda-tanda peringatan, serta mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi. 

Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, mereka belajar bahwa kesiapsiagaan bukanlah bentuk ketakutan terhadap bencana, melainkan upaya untuk melindungi diri dan sesama ketika menghadapi situasi darurat.

Foto 1. Pdt. Aris Kristian Widodo menceritakan kisah Nabi Nuh dan Orang Samaria yang Baik Hati

Selain kesiapsiagaan, SAL juga mengajarkan nilai kepedulian terhadap sesama melalui kisah Orang Samaria yang Baik Hati. Anak-anak belajar bahwa kasih tidak hanya diwujudkan dalam perkataan, tetapi juga dalam tindakan nyata untuk menolong siapa pun yang membutuhkan. Dalam konteks kebencanaan, nilai tersebut menjadi sangat penting karena proses pemulihan tidak hanya bergantung pada bantuan material, tetapi juga pada empati, solidaritas, dan dukungan dari orang-orang di sekitar.

Nilai-nilai yang dipelajari dari kisah Alkitab kemudian diperkuat melalui berbagai aktivitas interaktif, seperti permainan dan lagu bertema kebencanaan yang mengajak anak-anak mengenali berbagai jenis bencana. Pembelajaran juga dilengkapi dengan simulasi gempa bumi, di mana mereka mempraktikkan langkah-langkah dasar penyelamatan diri, mulai dari melindungi kepala, mencari tempat yang aman, hingga melakukan evakuasi secara tertib setelah guncangan berhenti. Simulasi ini memberikan pengalaman langsung kepada anak-anak sehingga mereka lebih siap menghadapi situasi darurat. 

Foto 2. Anak-anak saat memasang puzzle Orang Samaria yang Baik Hati

Foto 3. Anak-anak belajar mengenal jenis-jenis bencana dalam permainan “Tupai dan Pohon”

Pembelajaran ini tidak berhenti pada pemahaman anak-anak tentang bencana, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan di lingkungan gereja. 

“Penting diajarkan, karena gereja perlu memiliki kesadaran untuk mempersiapkan diri, belajar, berlatih, dan memiliki dasar teologis yang benar dalam membantu orang lain. Jangan sampai kita baru berpikir secara darurat ketika bencana sudah terjadi. Memberikan pertolongan darurat juga perlu diajarkan dan dilatih. Dengan adanya integrasi SAL dan pembelajaran kesiapsiagaan bencana ini, gereja semakin siap menghadapi bencana ke depan,” jelas Pdt. Aris Kristian Widodo.

Foto 4. Anak-anak melakukan simulasi gempa bumi

Metode pembelajaran yang memadukan kisah Alkitab dengan edukasi kebencanaan mendapat respons positif dari para pendamping. Novi, pendamping dari GKJ Wates Selatan menilai materi yang disampaikan relevan dengan kehidupan anak-anak sehingga mereka mengikuti setiap sesi dengan antusias dan lebih mudah memahami pesan yang disampaikan. 

“Anak-anak sangat antusias mengikuti pembelajaran hari ini karena mereka hidup berdampingan dengan ancaman bencana dan pernah mengalaminya, terutama di wilayah Wates Selatan yang berada di kawasan pesisir dengan ancaman gempa bumi dan tsunami. Apalagi pembelajaran hari ini dihubungkan dengan Alkitab, sehingga anak-anak lebih mudah memahami kebencanaan melalui firman Tuhan,” ujarnya.

Mewujudkan Kepedulian dan Kesiapsiagaan dalam Aksi Nyata

Sekolah Alkitab Liburan (SAL) menjadi bukti bahwa gereja tidak hanya berperan dalam membangun iman anak-anak, tetapi juga membekali mereka dengan nilai-nilai kepedulian dan kesiapsiagaan sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan, termasuk risiko bencana.

Dengan memadukan kisah Alkitab, permainan, lagu, dan simulasi, pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan anak-anak sekaligus menumbuhkan kepedulian, keberanian, dan kesiapsiagaan sejak usia dini. Lebih dari sekadar kegiatan pembelajaran, SAL diharapkan menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya kesiapsiagaan di lingkungan gereja. 

Foto 5. Anak-anak Sekolah Minggu se-Klasis Kulon Progo bersama para pendamping dan pendeta dalam kegiatan SAL 

“Kesiapsiagaan bencana merupakan hal baru bagi anak-anak, maka Klasis berharap ini bisa menjadi program yang berkelanjutan. Melalui SAL, muatan-muatan tentang kesiapsiagaan bencana dapat terus diberikan sehingga anak-anak semakin terbiasa dan belajar lebih jauh tentang bencana,” ujar Pdt. Krisnanda P Putra, perwakilan Klasis Kulon Progo.

Keberlanjutan program ini diharapkan dapat memperkuat pendidikan kesiapsiagaan bencana sebagai bagian dari pembelajaran anak di gereja sekaligus meningkatkan kapasitas anak-anak dalam menghadapi berbagai ancaman bencana. Dengan demikian, nilai-nilai iman, kepedulian, dan kesiapsiagaan yang ditanamkan melalui SAL dapat terus bertumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak, sehingga mereka tumbuh sebagai generasi yang peduli, tangguh, dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan. 

Catatan Foto: Seluruh foto anak-anak yang digunakan dalam artikel ini telah diambil dengan persetujuan (consent) dari orang tua/wali dan pihak terkait.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Upaya membangun komunitas yang lebih tangguh dan inklusif terus dilakukan ...

Foto 1: Presentasi mengenai bagaimana menganalisa data dari fasilitator BMKG, ...

Foto oleh Devi: Peserta pelatihan teknik pertanian adaptif-iklim yang diselenggarakan ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.