Di rumahmu yang menggunakan galon sebagai sumber air minum, ke mana galon itu pergi setelah airnya habis? Diisi ulang di depo langganan? Dijual ke tukang rongsok? Atau bahkan dibuang begitu saja?
Di Kalurahan Tepus, Gunungkidul, galon yang mungkin sama dengan yang ada di dapur atau kamar kosmu punya perjalanan yang sangat berbeda ketika kemarau tiba.
Saat musim kemarau datang, air tidak lagi mengalir dari keran. Ia datang dengan truk tangki. Dari truk, air dipindahkan ke galon-galon yang digendong, diangkut dengan sepeda, atau dipanggul warga menuju rumah masing-masing.

Foto: Warga mengambil air dari bak komunal di Kalurahan Tepus, Gunungkidul
Bagi warga yang mampu membeli, air biasanya langsung disalurkan ke bak penampung di rumah. Harganya sekitar Rp130.000 per tangki berkapasitas 5.000 liter. Air sebanyak itu pun lebih sering hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga.
Bagi Sutriyana, seorang petani di Tepus, kebutuhan air semakin besar ketika ia juga harus menyediakan air untuk ternak. Enam ekor kambing miliknya adalah tabungan keluarga, yang selama ini menjadi simpanan untuk kebutuhan mendadak, terutama biaya sekolah anak. Namun, kemarau tahun ini lebih berat dari biasanya. Rumput di gunung tidak lagi cukup, sehingga ia harus membeli tiga ikat pakan setiap hari. Tabungan yang seharusnya dijaga, kadang juga ikut terpakai untuk bertahan hidup, terutama untuk membeli air.
Namun, membeli air bukanlah pilihan yang mampu dilakukan semua orang. Bagi sebagian warga, air datang bukan melalui pembelian, melainkan melalui distribusi ke bak komunal. Dari sana, warga mengisi galon-galon bekas air minum lalu dibawa dengan tangan atau dipanggul. Tak cukup sekali, mereka harus bolak-balik antara rumah dan bak komunal untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Di rumah-rumah yang hanya dihuni oleh simbah-simbah, mereka pun harus menggendong galon-galon itu sendiri untuk membawa air pulang.

Foto: Tumpukan galon di dapur rumah warga di Kalurahan Tepus, Gunungkidul
Setelah air di dalamnya habis, galon-galon itu kembali menunggu dipojok rumah-rumah warga. Menunggu truk tangki air berikutnya datang mengisi bak bersama sampai terisi penuh, seperti pada musim-musim kemarau sebelumnya.
Galon di dapurmu mungkin hanya menunggu depo isi ulang atau tukang rongsok. Di Tepus, galon-galon itu menunggu kapan air berikutnya datang.