Cerita

Dari Tangan yang Merawat, Tumbuh Desa yang Siaga

30 Agustus 2026

Rumiyati atau akrab disapa Tinuk, merupakan masyarakat Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. Bu Tinuk merupakan seorang pensiunan perawat yang kini menjadi bagian dalam FPRB Desa Banyutowo. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, bagi Bu Tinuk, pengalaman hidup sebagai perempuan dan perawat bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi menjadi bekal untuk melihat, membaca, dan ikut menentukan bagaimana desanya bersiap menghadapi risiko bencana. 

“Saya memang selalu ada keinginan untuk menolong,” ujar Bu Tinuk.

Bagi Bu Tinuk, menolong orang bukan hanya sekadar bagian dari pekerjaannya. Menolong sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak lama. Semasa menjadi perawat, ia memegang satu prinsip sederhana: hidup untuk melayani sesama. Setiap kali ada orang yang membutuhkan pelayanan kesehatan, ia selalu berusaha membantu, terlepas dari apakah mereka mampu membayarnya atau tidak. Semangat yang sama membawanya menjadi relawan kesehatan saat gempa Bantul 2006, melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para lansia di gerejanya setiap bulan, serta menggerakkan para perempuan di komunitas gereja untuk menyiapkan makanan bagi keluarga yang terdampak COVID-19.

Kini, semangat melayani itu menemukan ruang baru di FPRB. Bu Tinuk melihat bahwa dalam kesiapsiagaan bencana, perempuan memiliki peran penting dalam kesiapsiagaan bencana, termasuk dalam pengambilan keputusan tentang bagaimana desa bersiap dan merespons risiko bencana. Menurutnya, perempuan sering kali memiliki cara yang berbeda dalam memahami kebutuhan masyarkat

“Perempuan perlu hadir dan mengambil peran. Sebab, ada kalanya orang tidak hanya membutuhkan pertolongan, tetapi juga seseorang yang mau mendengarkan dan merengkuhnya. Dan perempuan sering kali punya ruang itu,” katanya.

Namun, Bu Tinuk menyadari bahwa perjalanan FPRB Desa Banyutowo masih panjang. Edukasi kebencanaan di masyarakat masih perlu diperkuat. Karena itu, ia berharap keberadaan FPRB dapat membuka jejaring yang lebih luas, mempertemukan desa dengan lebih banyak pihak, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat.

“Harapannya, dengan adanya FPRB Banyutowo, edukasi kesehatan dan kebencanaan bisa menjangkau lebih banyak warga, terutama mereka yang selama ini belum tersentuh. Dengan membawa nama FPRB Banyutowo, semoga masyarakat juga semakin percaya dan lebih terbuka untuk menerima informasi serta menyampaikan kebutuhannya.”

Dari ruang pengabdian yang pernah ia jalani sebagai perawat hingga keterlibatannya dalam FPRB, Bu Tinuk terus membawa satu hal yang sama: keinginan untuk melayani. Bedanya, kini yang ia rawat bukan hanya kesehatan seseorang, tetapi juga kesadaran sebuah komunitas untuk mengenali risikonya sendiri.

Di Banyutowo, kepemimpinan perempuan mungkin tidak selalu hadir dalam bentuk jabatan atau keputusan besar. Kadang ia tumbuh dari kesediaan untuk mendengar, keberanian untuk bersuara, dan kemauan untuk terus hadir ketika orang lain membutuhkan. Bagi Bu Tinuk, merawat dan memimpin ternyata memiliki titik temu yang sama: memastikan tidak ada seorang pun yang menghadapi risiko seorang diri.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Di rumahmu yang menggunakan galon sebagai sumber air minum, ke ...

Pada 18 Agustus 2026, tim YAKKUM Emergency Unit (YEU) tiba ...

Bayangkan sebuah bencana datang tiba-tiba. Di tengah kepanikan dan proses ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.