Pada 18 Agustus 2026, tim YAKKUM Emergency Unit (YEU) tiba di Flores bersama tim medis untuk mendukung masyarakat yang terdampak gempa. Setelah beberapa hari pertama, tim mulai memfokuskan pelayanan pada kaji kebutuhan cepat di wilayah Manggarai dan Manggarai Timur. Dari hasil kajian ini, tim berusaha melihat lebih dekat kebutuhan warga, terutama mereka yang paling rentan dan masih bertahan di tengah keterbatasan setelah gempa.
Di saat yang sama, tim medis yang terdiri dari satu dokter dan dua perawat dari RS Bethesda YAKKUM Yogyakarta bergerak ke wilayah-wilayah yang diprioritaskan oleh Dinas Kesehatan. Banyak warga masih mengungsi di tenda-tenda dan tempat terbuka. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit, sementara akses terhadap layanan kesehatan juga belum sepenuhnya pulih.
Dalam perjalanan melakukan kajian kebutuhan dan pelayanan kesehatan di Manggarai Timur pada 22 Agustus 2026, kami tiba di Desa Golo Lero, Kecamatan Lamba Leda Timur. Desa ini merupakan salah satu wilayah dengan kerusakan rumah yang cukup berat. Di tengah rumah-rumah yang terdampak, kami bertemu dengan seorang perempuan lanjut usia bernama Oma Lusia Inus, 86 tahun.
Oma Lusia sudah kesulitan berjalan dengan stabil. Untuk berpindah tempat, ia harus dituntun. Sejak gempa terjadi, sebagian besar waktunya dihabiskan dengan duduk di depan rumah, karena ia tidak mampu bergerak cepat seperti warga lainnya.
Kami melihat Oma Lusia duduk di sebuah sudut rumah. Tempat duduknya sederhana, sebuah kasur yang dilapisi karung. Di situlah ia menghabiskan waktu pada siang hari, sambil menunggu dan berjaga-jaga jika gempa kembali mengguncang.
Yang paling membuat kami terdiam adalah ketika Oma bercerita tentang malam hari.
Jika gempa susulan terjadi pada malam hari, Oma tidak bisa ikut berlari keluar rumah. Dengan kondisi tubuhnya yang sudah sulit bergerak, ia memilih tetap berada di dalam kamar. Ia hanya bisa pasrah, berdoa, dan menyerahkan keselamatannya kepada Tuhan.
Bagi sebagian orang, keluar rumah saat gempa mungkin merupakan tindakan yang sederhana. Tetapi bagi Oma Lusia, hal itu tidak mudah. Tubuh yang sudah lanjut usia membatasi geraknya. Setiap guncangan membuatnya kembali berhadapan dengan rasa takut, sekaligus dengan kenyataan bahwa ia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dengan cepat.
Namun, di tengah ketidakberdayaan itu, kami melihat sesuatu yang lain: iman yang tetap ia pegang.
Oma Lusia tidak tahu kapan gempa benar-benar akan berhenti. Ia juga tidak tahu kapan rumah dan kehidupan masyarakat akan kembali seperti sebelum bencana. Ia tidak tahu kapan bantuan berikutnya datang. Tetapi setiap kali rasa takut datang bersama guncangan, ia memilih untuk tetap berdoa.
Pertemuan dengan Oma Lusia mengingatkan kami bahwa bencana tidak mengenal usia. Gempa dapat mengguncang siapa saja, tetapi dampaknya tidak dirasakan dengan cara yang sama. Bagi seorang lansia yang sudah kesulitan berjalan, satu kali guncangan dapat berarti ketakutan yang jauh lebih besar karena kemampuan untuk menyelamatkan diri sangat terbatas.
Di tengah situasi yang belum pasti, kami juga melihat betapa pentingnya lingkungan sekitar. Ketika seseorang tidak lagi mampu bergerak sendiri, perhatian dari keluarga, tetangga, dan komunitas menjadi sangat berarti. Kepedulian sederhana, menemani, membantu berjalan, memastikan kebutuhan terpenuhi, atau sekadar duduk bersama, dapat menjadi sumber kekuatan bagi mereka yang paling rentan.
Oma Lusia mungkin tidak dapat berlari ketika gempa datang. Tetapi ia tetap bertahan dengan caranya sendiri: dengan doa, dengan iman, dan dengan dukungan orang-orang di sekitarnya.
Bagi kami di YEU, perjumpaan dengan Oma Lusia bukan sekadar bagian dari sebuah asesmen. Ia mengingatkan bahwa di balik angka, data kerusakan, dan jumlah pengungsi, selalu ada manusia dengan cerita dan perjuangannya masing-masing. Dan di tengah ketidakpastian tentang kapan bantuan akan datang dan kapan kehidupan kembali normal, iman dan komunitas yang saling peduli menjadi bagian penting dari kekuatan untuk bertahan.