Cerita|Respons Bencana Banjir Bandang Aceh

Di Balik Ketangguhan, Ada Harapan yang Terus Dijaga

6 Juli 2026

Di balik senyumnya yang tenang, Mursal 43 tahun menyimpan kisah tentang ketangguhan yang telah ditempa jauh sebelum bencana datang. Pada tahun 2017, ia mengalami kecelakaan lalu lintas di Lhokseumawe yang melibatkan tiga sepeda motor. Cedera pada tangan kanannya menyebabkan keterbatasan fungsi yang masih ia alami hingga saat ini. Namun, keterbatasan itu tidak menghentikan langkahnya untuk terus mengabdi kepada masyarakat.

Saat ini, Mursal menjabat sebagai Kepala Seksi Pembangunan di Gampong Blang Mee. Tanggung jawabnya meliputi pembangunan serta pengelolaan berbagai sarana dan prasarana desa. Ketika banjir besar melanda Aceh pada akhir 2025, ia berada di garis depan bersama pemerintah desa untuk memastikan warganya tetap mendapatkan pelayanan dan bantuan.

Bencana ini berdampak sangat besar,” tuturnya. “Listrik padam, air bersih tidak ada. Banyak masyarakat kehilangan mata pencaharian.

Baginya, tantangan terbesar bukan hanya menghadapi banjir, tetapi juga memikirkan bagaimana kehidupan warga dapat kembali berjalan setelah air surut. Sawah yang menjadi sumber penghidupan banyak keluarga masih tertimbun lumpur hingga sekitar 80 sentimeter. Pemulihan, menurutnya, bukanlah proses yang selesai dalam hitungan minggu.

Melalui program respons kemanusiaan, YEU tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga memberikan pelatihan promosi kesehatan, manajemen gudang, dan safeguarding kepada aparat desa serta relawan. Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting bagi Mursal dan masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan serta pengelolaan bantuan di tingkat desa.

Meski demikian, bagi Mursal, pekerjaan belum selesai. Ia berharap proses pemulihan dapat terus berlanjut, terutama dalam menghidupkan kembali perekonomian masyarakat yang masih terdampak.

Harapan kami adalah keberlanjutan. Masyarakat masih membutuhkan pendampingan agar bisa benar-benar pulih, terutama untuk mengembalikan mata pencaharian mereka,” ujarnya.

Cerita dari Mursal mengingatkan kembali bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya diukur dari banyaknya bantuan yang telah disalurkan, tetapi juga dari harapan yang masih terus dijaga oleh orang-orang seperti Mursal. Di tengah keterbatasan yang ia hadapi sebagai disabilitas, ia tetap memilih untuk hadir, melayani, dan memastikan desanya dapat bangkit bersama.

Barangkali, itulah makna ketangguhan yang sesungguhnya: bukan tentang siapa yang tidak pernah jatuh, melainkan tentang siapa yang terus memilih berdiri dan berjalan, bahkan ketika keadaan belum sepenuhnya pulih.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Sore itu, 4 Juni 2026, suasana di Aula Hotel Fajar, ...

Tidak bisa dipungkiri, saat memulai penulisan tentang laporan cerita baik ...

Bagi masyarakat di Pagerharjo dan Ngentakrejo, Kulon Progo, perubahan cuaca ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.