Tidak bisa dipungkiri, saat memulai penulisan tentang laporan cerita baik kali ini, air mata mulai mengembang di pelupuk mata. Dada terasa sesak dan napas sedikit berat, karena serangkaian memori yang merasuk menyatakan bahwa semua itu telah terlewat dan tidak mungkin kembali. Kenangan-kenangan manis sudah tidak mungkin diraih kembali, di antaranya adalah berjibaku di tengah distribusi di bulan-bulan tanggap darurat dalam rangka respons bencana banjir Aceh-Sumatera yang melanda akhir 2025. Di sini saya mengamini bahwa berproses merupakan serangkaian peristiwa yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan menuai hasil.
Saat itu saya datang, ibaratnya hanya membawa diri dan pikiran dalam misi kemanusiaan. Tanpa dinyana, ekspektasi saya jauh melampaui itu—sangat bersyukur dengan cara yang mengejutkan. Saya menemukan persahabatan yang tidak direncanakan bersama teman-teman relawan yang tergabung dalam kegiatan respons YEU. Total semua relawan yang bekerja dengan kami adalah sekitar 10 orang dewasa awal dengan rasio laki-laki dan perempuan yang sebanding. Bahasa dan kebiasaan kami sungguh berbeda, namun ternyata di hati masing-masing ada semburat persaudaraan yang lahir tanpa disadari.
Pertama kali aku bertemu dengan teman-teman relawan, saat itu di suatu hari kerja pada malam yang lembap. Pekerjaan respons darurat yang kami jalani memang mengharuskan kami untuk bekerja siang-malam, bisa dibilang tidak kenal waktu dan tidak mengenal rasa mengeluh untuk beristirahat. Semua datang dengan kesopanan yang nyata, senyuman lebar, dan rasa kemanusiaan yang tulus untuk membantu warga terdampak bencana tanpa melihat nominal yang bisa dibilang tidak sebanding dengan energi yang diberikan.
Usia mereka terpaut 10-14 tahun lebih muda dariku, sehingga aku menyapa mereka dengan sebutan Adik, namun tawa kami tetap bersahutan dan tanpa canggung. Bahkan mereka cukup tercengang dengan umur kami yang ternyata berbeda jauh karena pembawaan saya begitu menyatu dengan mereka. Ya, kami memang berbeda generasi: bisa dibilang ini adalah narasi tentang persahabatan lintas generasi antarmilenial dengan apa yang sekarang familiar disebut Gen Z. Terlepas dari perbedaan usia, pengalaman bersama yang kami alami selama penanganan keadaan darurat dengan cepat menghapus segala batasan yang mungkin ada.
Saya masih ingat pada malam pertama kali kami melakukan simulasi kegiatan distribusi untuk persiapan esok harinya, di situlah kami berkesempatan untuk berkenalan secara resmi. Salah satunya dengan Cut, perempuan dengan kecantikan khas Aceh yang menentramkan, menyapaku terlebih dahulu sambil mengulurkan tangan, “Kita belum berkenalan. Siapa namamu?” Saya menyambutnya dengan sukacita, merasa diterima di tanah yang sebelumnya tidak pernah kupijakkan ini, dengan hangat.
Memverifikasi data sekitar 4.000 kepala keluarga di tengah keriuhan distribusi tentu bukanlah hal yang mudah. Hari kami dimulai sejak pukul tujuh pagi di kantor, kemudian menyiapkan perlengkapan seperti spanduk Zero Tolerance dan mekanisme pengaduan untuk kegiatan distribusi Paket Sanitasi Keluarga atau Alat Kebersihan Komunal. Ketika senja berganti malam, kami kembali pulang melewati jalanan yang macet akibat bencana banjir yang memutus akses mobilitas. Akan tetapi, rutinitas yang terjadi berbulan-bulan tersebut tidak meredam tawa mereka, melainkan senantiasa menyambutku di pagi hari dengan senyum yang merekah beriringan dengan anggukan ringan. Di situ saya mempelajari sebuah hal yang sangat berharga: pelajaran tentang kerendahan hati dalam ketangguhan pemuda-pemudi rakyat Aceh.
Secara profesional, para relawan memainkan peran penting dalam membantu tim kami melaksanakan respons kemanusiaan organisasi. Namun, di luar tanggung jawab bersama kami, mereka mengajarkan saya pelajaran yang tak akan pernah bisa diberikan oleh pelatihan apa pun. Kesopanan mereka yang tak tergoyahkan, sudut pandang yang bijaksana meskipun tumbuh besar jauh dari hiruk-pikuk kota-kota besar, serta kerendahan hati yang tulus—yang terbentuk dari kehidupan yang dijalani dalam harmoni erat dengan alam—meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya. Sifat-sifat tersebut menjadi salah satu hadiah terbesar yang saya bawa pulang dari Aceh.
Namun, itu semua sudah berakhir. Program tanggap darurat telah usai. Kini, 23 desa yang kami kelola di Kabupaten Bireuen sudah memasuki tahap pemulihan. Tugas pun berakhir. Saya datang di penghujung bulan Januari dan pergi menjadi bagian dari tim yang menutup pintu kantor di pertengahan bulan Juni. Lima bulan yang berlari tanpa ampun bagaimanapun kita menjalaninya. Mungkin karena kami terlena dengan hari-hari penuh canda tawa di sela aroma kopi Gayo yang semerbak, menyadarkan bahwa 150 hari sudah kami membersamai perjuangan.
Satu yang akhirnya disadari, bahwa saya dan tim ternyata bukan datang untuk membantu warga di sini, melainkan kami yang dibantu dengan bertambahnya kehidupan yang bermakna, sebuah hal yang tidak bisa diukur dengan mata uang mana pun. Definisi kekayaan yang sesungguhnya kami temui bergeser menjadi manusia yang bisa menemukan hikmah di balik derita, menerima untuk memberi lebih banyak, dan berjuang dalam kesetaraan alih-alih maju paling depan sendirian. Daya lenting warga Aceh yang luar biasa diwakili oleh muda-mudi relawan ini, menginspirasiku, kemudian menumbuhkan kesadaran dalam diri: kalau mereka yang hidup dengan penuh kesederhanaan ini saja bisa membagi kisahnya dalam kasih, kenapa kita tidak?
Dalam cerita ini, izinkan aku menutupnya dengan kalimat yang sudah lama kupegang teguh: jangan bersedih karena itu semua telah berakhir, melainkan tersenyumlah karena semua itu terjadi. Semua orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Ada jejak-jejak yang tertinggal, kemudian dengan cepat bisa hilang tersapu. Namun, dapat kupastikan, untuk langkah-langkah mungil yang melewati kehidupanku sebagai staf Infokom YEU di Bireuen, ibarat terjebak dalam semen basah, tapaknya tercetak di lubuk hatiku yang paling dalam.
Aceh, terimong geunaseh.