Bagi masyarakat di Pagerharjo dan Ngentakrejo, Kulon Progo, perubahan cuaca tidak sekadar pergantian musim. Curah hujan yang tidak menentu, musim kemarau yang lebih panjang, hingga meningkatnya risiko hama turut memengaruhi hasil pertanian, ketersediaan pakan ternak, dan ketahanan pangan. Kondisi ini juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, terutama karena sebagian besar masyarakat bergantung pada sektor pertanian dan peternakan sebagai sumber penghidupan. Di tengah risiko bencana seperti longsor, kekeringan, gempa bumi, dan cuaca ekstrem, kemampuan masyarakat untuk beradaptasi menjadi semakin penting.
Ketika kondisi lingkungan berubah, dampaknya juga langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ketangguhan komunitas tidak hanya berbicara tentang bagaimana merespon bencana, tetapi juga bagaimana masyarakat terus menjaga penghidupan dan beradaptasi di tengah perubahan.
Pertanian yang Lebih Adaptif Iklim
Untuk mendukung upaya pengurangan risiko bencana, kolaborasi antar masyarakat dan komunitas lintas iman termasuk gereja di Pagerharjo dan Ngentakrejo belajar bersama dalam pelatihan pertanian adaptif iklim. Pendekatan ini membantu masyarakat memahami cara mengelola pertanian yang lebih ramah lingkungan sekaligus lebih tangguh menghadapi dampak perubahan iklim.
Kegiatan ini juga bertujuan memperkuat ketahanan komunitas dalam menghadapi, beradaptasi, dan pulih dari berbagai guncangan sosial, ekonomi, lingkungan, maupun bencana. Selain itu, peningkatan kapasitas komunitas menjadi penting agar masyarakat semakin berdaya untuk mengelola dan mengembangkan aksi ketangguhan sesuai ancaman dan risiko di wilayahnya.
Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari komunitas dampingan YEU di Gunung Kidul yang telah menerapkan praktik pertanian adaptif iklim di wilayahnya. Warsilah dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Watu Gajah dan Warno dari Petani Milenial berbagi pengalaman mengenai pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya lokal, dan praktik-praktik adaptasi yang telah diterapkan dalam kegiatan pertanian sehari-hari. Pendekatan ini membuat proses belajar menjadi lebih kontekstual karena pengetahuan dan pengalaman dibagikan langsung oleh masyarakat kepada masyarakat.

Foto 1. Proses pembakaran arang sekam dengan menggunakan drum yang dilengkapi cerobong dan lubang sirkulasi
Salah satu praktik yang dipelajari adalah pembuatan arang sekam dari pembakaran sekam padi atau kulit padi yang digunakan sebagai campuran media tanam. Arang sekam membantu tanah menjadi lebih gembur dan mampu menyimpan kelembapan lebih baik, sehingga tanaman lebih tahan menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu. Selain memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan, praktik ini juga membantu mengurangi limbah pertanian.

Foto 2. Koordinasi komunitas dalam praktik pembuatan pupuk organik
Upaya menjaga kualitas tanah juga dilakukan melalui pembuatan pupuk organik dari bahan alami seperti kotoran hewan, sisa sayuran, dan kulit buah. Penggunaan pupuk organik membantu menjaga kesuburan tanah secara lebih berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Cara ini tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga membantu menekan biaya produksi pertanian.

Foto 3. Proses pembuatan pestisida hayati
Selain menjaga kualitas dan kesuburan tanah, masyarakat juga belajar melindungi tanaman dari serangan hama melalui penggunaan pestisida hayati. Pestisida hayati dibuat dari bahan-bahan alami seperti bawang putih, daun mimba, daun sirsak, serai, atau tembakau yang diolah menjadi larutan semprot. Bahan-bahan ini memiliki sifat alami yang dapat membantu mengurangi serangan hama tanpa merusak lingkungan. Di tengah perubahan iklim yang dapat meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman, pengetahuan ini membantu masyarakat melindungi tanaman sekaligus menjaga produktivitas pertanian sebagai sumber penghidupan.
Menumbuhkan Ketangguhan dari Tingkat Komunitas

Foto 4. Komunitas Pagerharjo dan Ngentakrejo bersama YEU dalam pelatihan pertanian adaptif iklim
Pembuatan arang sekam, pupuk organik, dan pestisida hayati merupakan bagian dari upaya pengurangan risiko bencana melalui penguatan ketahanan pangan dan kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan iklim. Pendekatan melalui pertanian adaptif iklim ini tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil pertanian, tetapi juga pada upaya mengurangi dampak risiko cuaca ekstrem dan degradasi lingkungan.
Manfaat dari praktik yang dipelajari mulai dirasakan dan diterapkan oleh masyarakat. Joko, anggota KSB (Kampung Siaga Bencana) Pagerharjo, menyampaikan bahwa arang sekam yang dipelajari dalam pelatihan telah mulai digunakan oleh KWT di wilayahnya. Menurutnya, penggunaan arang sekam dapat membantu menjaga kelembapan tanah sehingga menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat mendukung kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi risiko kekeringan.
“Arang sekam ini sudah mulai dimanfaatkan oleh kelompok KWT. Harapannya, cara sederhana seperti ini bisa menjadi salah satu aksi dini untuk menghadapi kekeringan. Selain mudah dibuat, bahannya juga tersedia di sekitar masyarakat,” ujar Joko.
Praktik pembelajaran ini menunjukkan bahwa ketangguhan dapat dibangun dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari mengelola lahan pertanian hingga memperkuat kerja sama komunitas, setiap langkah kecil menjadi bagian penting dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim.
Melalui penguatan kapasitas dan kolaborasi antarkomunitas, masyarakat di Pagerharjo dan Ngentakrejo terus membangun cara-cara adaptif yang sesuai dengan kondisi wilayah mereka. Tidak hanya untuk menghadapi risiko hari ini, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan kehidupan dan penghidupan komunitas di masa depan.