Foto oleh Devi: Peserta pelatihan teknik pertanian adaptif-iklim yang diselenggarakan YEU di Kalurahan Banjarsari mempraktikan pembuatan pakan ternak fermentasi bersama fasilitator.
“Di musim kemarau seperti ini, sapi makan kambing, kambing makan sapi.”
– Kelompok petani di Kalurahan Banjarsari, Kulon Progo
Kalurahan Banjarsari merupakan salah satu desa di Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo yang memiliki fitur bentang alam perbukitan dengan kemiringan lereng yang cenderung curam. Air menjadi tantangan utama bagi penduduk terutama saat musim kemarau datang, dimana produktivitas pertanian menjadi terhenti karena kesediaan air sangat terbatas bahkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Usaha ternak menjadi penyokong ekonomi keluarga ketika kegiatan pertanian tidak bisa dilakukan, tetapi tantangan lain muncul ketika sumber pakan hijau semakin sulit didapatkan di musim tersebut. Komunitas harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk mendapatkan sumber pakan hijau hingga ke luar daerah dengan biaya yang tidak murah. Hal ini tentu semakin menyulitkan komunitas ketika mayoritas petani adalah lansia yang mulai mengalami hambatan mobilitas. Seringkali, situasi ini memaksa komunitas untuk menjual ternak yang lain untuk membeli pakan ternak utama, seperti candaan yang sering terdengar “sapi makan kambing, kambing makan sapi”.

Foto oleh Devi: Pelatihan teknik pertanian adaptif-iklim di Kalurahan Banjarsari
Menanggapi isu ini, YEU bersama komunitas di Kalurahan Banjarsari berdiskusi untuk mencari solusi sumber penghidupan yang lebih adaptif-iklim di tengah situasi perubahan iklim yang tidak menentu. Pelatihan pembuatan pakan ternak alternatif dengan teknik fermentasi menjadi jawaban atas isu ini.
“Kami sangat senang setelah mengikuti pelatihan pembuatan pakan fermentasi. Biasanya kami harus mencari pakan hijauan hingga ke luar desa, bahkan ke kabupaten lain. Dalam sebulan biaya membeli pakan bisa mencapai Rp1–1,5 juta. Kalau membeli secara rombongan, kami harus menyewa mobil sekitar Rp250 ribu, lalu ongkosnya dibagi bersama.”
– Bapak Seniran dan Bu Muryani, Petani di Kalurahan Banjarsari

Foto oleh Devi: Hasil fermentasi pakan ternak
Fermentasi pakan ternak adalah teknik pengawetan pakan menggunakan mikroorganisme (bakteri atau jamur) yang sekaligus menambah nilai nutrisinya. Teknik ini relatif mudah dipraktikkan karena tingkat kegagalannya rendah. Petani bisa menggunakan limbah tanaman seperti jerami, tongkol jagung, batang pisang hingga daun-daun kering yang tersedia di sekitar, sehingga biaya penyediaan pakan menjadi lebih murah dan aksesnya lebih dekat. Dengan teknik ini, petani bisa menyimpan pakan yang melimpah saat musim hujan sebagai cadangan untuk musim kemarau.
Pasca pelatihan, sejumlah petani mulai mempraktikkan teknik ini secara mandiri, sebagian bahkan membawa pulang hasil praktik langsung dari pelatihan. Meskipun transisi ke pakan fermentasi membutuhkan waktu, termasuk kemungkinan ternak awalnya menolak pakan baru ini, respons yang muncul sejauh ini cenderung positif.

Foto oleh Devi: Rohman, anggota kelompok tani di Kalurahan Banjarsari, memberikan hasil fermentasi pakan ternak ke kambing.
“ Ada perbedaan dari semenjak menggunakan pakan fermentasi, ternak saya lebih lahap dan bulunya lebih halus”
– Bapak Muryana, Petani di Kalurahan Banjarsari
Di tengah ancaman kemarau yang akan jadi lebih panjang akibat fenomena El Nino, praktik pembuatan pakan ternak fermentasi menjadi langkah sederhana untuk memperkuat ketahanan penghidupan petani. Meskipun periode musim hujan sudah selesai, petani tetap bisa menyuplai kebutuhan pakan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di sekitar.
Pelatihan ini merupakan bagian dari rangkaian implementasi kegiatan PROSPER. Proyek “PROSPER: Memperkuat Komunitas Tangguh dan Tahan Pangan di Wilayah Rawan Bencana Provinsi Yogyakarta” ini dilaksanakan oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU), dan didukung oleh AWO International dengan pendanaan dari Kementerian Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (BMZ) dan German Relief Coalition (ADH).