Cerita

Belajar dari Pengalaman, Membangun Ketangguhan Melalui Tantangan

6 Juli 2026

Sore itu, 4 Juni 2026, suasana di Aula Hotel Fajar, Bireuen, masih dipenuhi diskusi yang hangat. Puluhan peserta tampak serius menyusun rekomendasi hasil pembelajaran dari implementasi Proyek Aceh Relief and Integrated Support in Emergencies (ARISE), sebuah program kolaborasi Yayasan Fondasi Hidup dan YAKKUM Emergency Unit (YEU) yang telah mendampingi masyarakat terdampak banjir di Kabupaten Bireuen sejak Desember 2025 hingga Mei 2026. Learning Event ini diselenggarakan sebagai ruang bersama untuk mengevaluasi praktik baik, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan rekomendasi bagi program-program kemanusiaan di masa mendatang.

Peserta berasal dari berbagai latar belakang. Ada perwakilan pemerintah daerah, pemerintah desa, komite air, penyintas penerima bantuan akses air bersih, penyintas penerima Bantuan Multiguna (Multi-Purpose Cash Assistance), media, serta organisasi kemanusiaan. Mereka dibagi ke dalam beberapa kelompok Diskusi Kelompok Terarah (DKT), masing-masing didampingi oleh fasilitator dan co-fasilitator untuk mendiskusikan pengalaman mereka selama pelaksanaan proyek. Tujuannya sederhana, tetapi penting: memastikan setiap suara menjadi bagian dari pembelajaran bersama.

Menjelang pukul empat sore, ketika sesi presentasi kelompok hampir memasuki penghujung acara, tiba-tiba lampu padam. Dalam hitungan detik, aula yang sejak pagi dipenuhi suara diskusi berubah menjadi gelap gulita. Pendingin ruangan berhenti bekerja. mikrofon mati. Proyektor kehilangan cahaya. Hanya sinar matahari yang mulai meredup dari sela-sela jendela yang tersisa menemani ruangan.

Semua orang saling berpandangan. Namun tidak ada yang beranjak pulang.

Alih-alih menghentikan kegiatan, para peserta justru mengangkat lembar-lembar hasil diskusi mereka. fasilitator tetap memandu percakapan. Perwakilan kelompok masih bersiap menyampaikan rekomendasi yang telah mereka rumuskan bersama. Seolah-olah mereka sepakat bahwa tujuan mereka hari itu jauh lebih penting daripada keterbatasan fasilitas.

Ketika akhirnya dipastikan aliran listrik belum juga kembali, seluruh peserta berpindah ke lobi hotel yang masih mendapat cahaya alami. Kursi-kursi ditata kembali secara sederhana. Tidak ada layar presentasi, tidak ada pengeras suara, hanya suara-suara peserta yang bergantian membacakan hasil diskusi mereka.

Justru di ruang yang lebih sederhana itulah esensi kegiatan terasa semakin nyata. Learning Event ini memang dirancang bukan sekadar untuk memaparkan capaian proyek. Sejak awal, kegiatan ini bertujuan mendokumentasikan praktik baik, menggali tantangan selama implementasi, serta menghasilkan rekomendasi berbasis pengalaman dari para pemangku kepentingan untuk memperkuat respons kemanusiaan di masa depan. Karena itulah, setiap pengalaman yang dibagikan peserta memiliki nilai yang sama pentingnya dengan data dan laporan program.

Pengalaman hidup mereka memberikan wawasan yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap oleh data statistik semata, sehingga memperkaya pembelajaran bersama yang akan membantu membentuk tindakan kemanusiaan yang lebih efektif dan inklusif di masa depan.

Mereka tetap berdiskusi di tengah keterbatasan. Pemandangan tersebut mencerminkan pada satu hal sederhana: semangat belajar tidak pernah bergantung pada listrik, layar presentasi, ataupun ruangan yang nyaman. Semangat itu tumbuh dari orang-orang yang percaya bahwa pengalaman layak dibagikan agar tidak perlu terulang sebagai kesalahan di masa depan. Pada saat itu, pemadaman listrik yang tak terduga itu menjadi lebih dari sekadar gangguan. Hal itu secara diam-diam mencerminkan esensi sejati dari pekerjaan kemanusiaan: beradaptasi dengan tantangan, memanfaatkan sumber daya yang ada sebaik-baiknya, dan terus melangkah maju dengan komitmen bersama untuk belajar dan berkembang.

Bencana telah mengajarkan masyarakat Bireuen untuk bertahan dalam situasi yang jauh lebih sulit daripada pemadaman listrik selama beberapa jam. Mungkin karena itulah, sore itu tidak seorang pun mengeluh. Yang mereka pikirkan hanyalah bagaimana diskusi tetap selesai, bagaimana setiap rekomendasi tetap tersampaikan, dan bagaimana proyek ARISE dapat menjadi bekal bagi respons kemanusiaan berikutnya.

Cahaya tidak selalu berasal dari lampu. Kadang, cahaya justru datang dari sekelompok orang yang memilih untuk tetap duduk bersama, saling mendengarkan, dan terus belajar—bahkan ketika ruangan di sekitar mereka telah menjadi gelap.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Di balik senyumnya yang tenang, Mursal 43 tahun menyimpan kisah ...

Tidak bisa dipungkiri, saat memulai penulisan tentang laporan cerita baik ...

Bagi masyarakat di Pagerharjo dan Ngentakrejo, Kulon Progo, perubahan cuaca ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.