Berita

YEU, PRY, dan UMY Mendorong Partisipasi Bermakna untuk Difabel

10 Desember 2023

Memperingati Hari Disabilitas Internasional (HDI), YAKKUM Emergency Unit (YEU), Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRY), dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan satu hari kegiatan yang terdiri dari beragam diskusi panel, tanya–jawab, dan pameran inovasi-inovasi lokal dari para mitra. Acara ini bertempat di gedung baru Dasron Hamid Research and Innovation Center (DHRIC) di UMY yang berada di Yogyakarta.

Hari Disabilitas Internasional pertama kali diperingati pada 3 Desember 1992 dan terus diperingati tiap tahunnya sejak saat itu. Hari ini ditujukan untuk, “… mempromosikan hak-hak dan kesejahteraan difabel pada setiap tingkatan masyarakat dan pembangunan, dan untuk meningkatkan kesadaran terkait keadaan difabel di seluruh aspek kehidupan politik, sosial, ekonomi, dan budaya.” (WHO, 2022) Tahun ini, YEU dan PRY berkolaborasi dengan UMY mengadakan diskusi-diskusi panel di mana masyarakat dapat mengangkat isu-isu yang mereka hadapi terkait disabilitas.

YEU adalah suatu lembaga nirlaba dengan mandat melakukan respons dan kesiapsiagaan bencana yang efektif. Melalui program-programnya, YEU mengusahakan pengurangan risiko bencana yang inklusif dengan meningkatkan partisipasi kelompok paling berisiko, termasuk difabel, anak-anak, dan lansia.

PRY adalah unit lain selain YEU di bawah payung yang sama, yakni Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM). Pusat rehabilitasi ini mendukung difabel untuk memperjuangkan hak-haknya, serta menyediakan layanan-layanan inklusif yang terjangkau dan holistik.

UMY adalah universitas di Yogyakarta yang dikelola oleh Persyarikatan Muhammadiyah, salah satu organisasi masyarakat sipil terbesar. Melalui Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas UMY, universitas ini memperjuangkan pemberdayaan difabel. Hanya dengan komitmen dan dukungan UMY-lah, YEU dan PRY dapat menyelenggarakan acara ini.

Gedung Dasron Hamid di UMY, di mana acara HDI digelar, merupakan model ruang bersama yang inklusif. Gedung sembilan lantai ini dilengkapi toilet-toilet yang aksesibel, jalur kursi roda/ramp, dan kelengkapan keamanan, demi meningkatkan aksesibilitas untuk difabel. Gedung ini juga menjadi tempat berkantor Lembaga Riset dan Inovasi (LRI) UMY, tempat inovasi-inovasi inklusif dikembangkan.


Booth Inovasi, Talkshowdan Deklarasi

Kegiatan HDI ini menjadi kesempatan bagi para inovator lokal memamerkan hasil inovasi mereka dalam proyek Community-Led Innovation Partnership (CLIP) IDEAKSI (Ide Inovasi Aksi Inklusi). Para inovator mempromosikan karya-karya mereka yang ditujukan untuk meningkatkan aksesibilitas dan inklusi yang gagasannya berasal dari masyarakat sendiri.

PRY menawarkan kopi gratis dari Cupable, suatu kedai kopi inklusif yang dijalankan oleh difabel. Beberapa kelompok swabantu (SHG—self-help group) yang didukung PRY pun menyediakan beragam produk dagangan yang mereka tawarkan. UMY menampilkan inovasi-inovasi inklusif dari para dosen, seperti kursi roda listrik dan proyek gedung yang aksesibel.

Di panggung utama, berlangsung tiga diskusi panel yang melibatkan beberapa aktor pentahelix lokal dan nasional yang sudah lama dikenal di Indonesia. Talkshow ini semakin memperkaya peringatan HDI kali ini. Di antara para narasumber yang hadir, terdapat perwakilan pemerintah dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Komisi Nasional Disabilitas (KND), inovator lokal IDEAKSI, akademisi UMY, dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Diskusi-diskusi tersebut mencakup beragam topik, termasuk penerapan Deklarasi Jakarta dari Pertemuan Tingkat Tinggi Asia-Pasifik untuk Penyandang Disabilitas yang digelar tahun ini. Para peserta talkshow juga berkesempatan membagikan pandangan mereka terkait pemberdayaan ekonomi dan kebijakan inklusif yang dibahas oleh panel para ahli.

Para pemangku kepentingan pentahelix mengakhiri Peringatan HDI 2022 kali ini dengan pembacaan deklarasi bersama yang dirumuskan oleh sembilian perwakilan pentahelix. Mereka mendeklarasikan komitmen bersama dalam memastikan partisipasi yang bermakna dari difabel untuk pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Semua pihak yang terlibat menyatakan tindak lanjut masing-masing yang akan dikerjakan di DIY, bahkan di lingkup yang lebih luas.

Deklarasi yang disusun tertulis di bagian akhir dari artikel ini.

Ditulis oleh: Lorenzo Fellycyano
Disunting oleh: Taylor Lemmon

Komitmen Bersama

 Hari Disabilitas Internasional 2022

di D.I Yogyakarta


Komitmen bersama ini perlu diwujudkan dengan pemahaman bersama bahwa:

  1. Setiap orang memiliki identitas jamak dan beragam, baik berdasarkan jenis kelamin, usia, kondisi disabilitas, status sosial dan ekonomi, serta identitas lainnya yang melekat. Keragaman tersebut harus difasilitasi dengan tata kelola dan penggunaan data terpilah;
  2. Komitmen ini disusun dengan merujuk pada Deklarasi Jakarta dan merupakan bagian dari upaya mendorong inklusivitas agar penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas benar-benar diwujudkan dengan mempertimbangkan identitas jamak tersebut di atas yang meliputi seluruh siklus kehidupan; untuk pembangunan yang berkeadilan, inklusif, dan berkelanjutan.  

Berdasarkan pemahaman di atas, dalam hari Disabilitas Internasional 2022 di D.I Yogyakarta ini para pihak berkomitmen untuk:

  1. Mendorong semua kebijakan dan regulasi untuk merujuk dan dilakukan harmonisasi dengan  CRPD (KHPD-Konvensi Hak Penyandang Disabilitas) dan undang-undang beserta kebijakan turunannya;
  2. Mendorong sinergitas pentahelix (pemerintah, akademisi, swasta, media dan masyarakat) termasuk di dalamnya organisasi lintas iman dan memperkuat peran akademisi dalam melakukan penelitian untuk terbentuknya peta jalan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas untuk mewujudkan partisipasi bermakna dari penyandang disabilitas dalam segala bidang di wilayah D.I Yogyakarta, dengan memastikan tersedianya pemenuhan akses dan akomodasi yang layak serta peningkatan kapasitas;
  3. Memastikan dan mendorong akses layanan publik yang inklusif di wilayah perkotaan maupun desa, serta memastikan adanya analisis dan mitigasi risiko bagi penyandang disabilitas dan kelompok berisiko lainnya untuk pembangunan yang berkelanjutan;
  4. Mewujudkan pengembangan inovasi teknologi dan informasi yang aksesibel dengan memperhatikan sumberdaya dan kearifan lokal D.I Yogyakarta dalam rangka mengeliminasi hambatan dan pengarusutamaan inklusi disabilitas;
  5. Menggunakan kerangka dan alat monitoring dan evaluasi yang efektif dengan mengoptimalkan alat dan metode yang telah tersedia  untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan;
  6. Mendorong adanya pendanaan untuk memperkuat inovasi dan langkah-langkah menuju pembangunan inklusif dan berkelanjutan, baik yang diinisiasi oleh masyarakat sipil maupun pemerintah melalui mekanisme perencanaan pembangunan daerah dengan memastikan inisiasi ini tersampaikan ke pembuat kebijakan di level mikro maupun makro.

Komitmen bersama ini tidak hanya disampaikan sebagai himbauan saja, tetapi untuk memperkuat praktik-praktik baik yang telah dilakukan dan akan terus ditindaklanjuti dengan aksi-aksi konkret berikut ini:

  1. Rencana Aksi Daerah (RAD) Penyandang Disabilitas;
  2. Rencana Aksi Daerah (RAD) Hak Asasi Manusia;
  3. Rencana Aksi Daerah (RAD) untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan; 
  4. Buku Refleksi Pemenuhan Hak Difabel dalam Mewujudkan Pembangunan Yang Inklusi dan Berkelanjutan;
  5. Agenda pembangunan DIY menuju Provinsi Inklusif;
  6. Agenda Asosiasi Pemerintah Kota Inklusi Seluruh Indonesia; 
  7. Aksi dan agenda lainnya yang berkaitan.

Komitmen Bersama ini mengikat seluruh pihak yang terlibat dalam peringatan Hari Disabilitas Internasional 2022 D.I Yogyakarta, akan ditinjau serta dilakukan monitoring dan evaluasi dalam pencapaiannya setiap tahun.

Tim Perumus:

  1. Arni Surwanti (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
  2. Arshinta (PKMK YAKKUM)
  3. Doddy Kaliri (DIFAGANA DIY, inovator IDEAKSI)
  4. Farid Bambang Siswantoro (Komite Disabilitas D.I Yogyakarta)
  5. Ida Putri (YAKKUM Emergency Unit)
  6. Indah Putri (Konsultan Inklusi)
  7. Iswanto (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
  8. Jonna Aman Damanik (KND)
  9. Laelia Dwi Anggraini (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
  10. M. Taufiq (BAPPEDA/FPRB DIY)
  11. Rani Hapsari (Pusat Rehabilitas YAKKUM)
  12. Warih Andan Puspitosari (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)


DAFTAR TERLAMPIR

  1. Pemerintah (Kementerian Sosial, BNPB, Dinas Sosial D.I.Yogyakarta, Dinas Sosial Kab. Sleman, BAPPEDA DIY, Dinas Sosial Kab. Gunungkidul, Dinas Sosial Kab. Kulonprogo, Dinas Sosial Kota Yogyakarta, Dinas Sosial Kab. Bantul, BPBD D.I.Yogyakarta, BPBD Sleman, Komite Nasional Disabilitas, Komite Disabilitas D.I.Yogyakarta, Dinas P3AP2, Dinas Kesehatan D.I.Yogyakarta, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Dinas koperasi dan UKM DIY, UN-OCHA)
  2. Akademisi (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Gadjah Mada)
  3. Masyarakat Sipil (YAKKUM Emergency Unit, Pusat Rehabilitasi YAKKUM, LINGKAR, PB PALMA, FPRB Gunungkidul, FPRB DIY, Sekoci, CIQAL, DIFAGANA, OHANA, Forum Komunitas Winongo Asri, Merapi Rescue Community, Humanitarian Forum Indonesia, Yayasan Lentera Harmoni Jiwa, KPSI, Sapadifa, Kamadifa, Pinilih, Kelompok Swabantu)
  4. Media (AJI, TVRI, RRI, Solider)
  5. Lembaga Usaha (KADIN, Zola Batik dan Forum CSR)
Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Tujuan dan Agenda Proyek SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action ...

Dalam situasi kebencanaan, risiko kekerasan berbasis gender (KBG) dan pelanggaran ...

Sultan (44 tahun), pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulawesi ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.