Beberapa bulan terakhir, Muji Hartini (57 tahun), mempunyai kegemaran baru. Kegemaran ini bermula saat ia diajak mengikuti pelatihan batik tulis yang diadakan Pemerintah Desa Tridadi pada bulan Juli lalu. Saat itu bukan hanya dilatih membatik, Pemerintah Desa juga menyediakan peralatan membatik. Bu Tini, begitu panggilannya, mencoba membuat taplak meja batik tulis. Di percobaan kedua ia ingin membuat baju dari kain batik tulis yang ia buat sendiri. Namun, membuat batik tulis bukan hanya memerlukan kreatifitas saja, ketekunan dan modal usaha juga diperlukan karena proses yang cukup panjang dari yang awalnya berupa kain polos, digambari dengan canting, dicat, dijemur dan lain sebagainya hingga kain bisa dijahit menjadi sarung atau baju. Untuk membuat satu kain batik tulis, Bu Tini biasanya memerlukan modal kurang lebih Rp. 150.000 untuk membeli kain dan alat-alatnya. Prosesnya pun bervariasi dari 1 minggu hingga lebih tergantung panjang kain, motif, dan tentu saja waktu. Karena itu, kegemaran ini tidak selalu bisa dilakukan Bu Tini karena terbatas modal. Di satu sisi, Bu Tini juga mengerjakan jahitan, membuat sandal, membantu menjaga anak saudara di rumah, atau apapun yang bisa ia lakukan supaya ada penghasilan setiap hari biarpun tidak banyak.
Pada 13 Agustus 2018, Pemerintah Desa Tridadi meresmikan pembentukan Kelompok Lintas Generasi Berseri yang anggotanya terdiri dari lansia dan pra lansia di dusun Beteng, Dukuh dan Pisangan. Sesuai singkatannya, KLG berharap supaya anggotanya bersemangat, sehat, dan mandiri. Bagi Bu Tini, pertemuan bulanan KLG menjadi kegiatan yang Ia tunggu-tunggu. Bu Tini hanya tinggal sendiri di rumah, memang ada saudara yang tinggal di rumah sebelah, namun sehari-hari ia hanya tinggal sendiri. Pertemuan bulanan menjadi ruang melepas kebosanan karena bisa bertemu dengan anggota lainnya, tertawa dan bernyanyi bersama, dan ada pengetahuan baru yang Ia dapat. “Kemarin saat pertemuan bulanan saya diajari bikin kecambah, lalu yang juga dari gedebok. Saya buat juga di rumah, hasilnya baik tapi saya tidak tahu mau diapakan. Akhirnya yang kecambah, saya tanya ke tukang sayur apakah bisa kecambah dititipjualkan, dan katanya bisa tapi jangan banyak-banyak”. Tidak hanya itu, Ia juga bisa mengajukan proposal mikro kredit ke KLG. Dana ini ia gunakan untuk meneruskan kegemarannya—membuat batik tulis.
“Awalnya saya kepikiran untuk membuka usaha warung makan, tapi karena saya hanya tinggal numpang nunggui rumah saudara saya, saya jadi tidak enak, takut dibilang merusak pemandangan. Jadi saya pikir membatik itu lebih menyenangkan, saya bisa kerjakan di dalam rumah, tidak terbatas waktu, dan bisa saya sambi. Saya suka melukis karena bisa untuk hiburan dan kalau saya bosan saya bisa buat yang lain dulu.” Ia bersyukur bisa mengakses dana mikro kredit KLG untuk menekuni usaha dari kegemarannya. Memang membuat batik tulis perlu waktu agar motif yang dibuat bagus, tapi dengan bantuan mikro kredit Bu Tini bisa lebih fokus membuat motif yang bagus tanpa perlu terpikir modal usaha. Harapannya tentu saja supaya batik tulisnya laku terjual dan ia tidak lagi tergantung pada pemberian saudara-saudaranya.
______________
Sejak 2015, YEU mulai membentuk 16 kelompok swabantu berbasis komunitas dengan menggunakan pendekatan lintas generasi untuk meningkatkan kesejahteraan lanjut usia. Kelompok Lintas Generasi (KLG) terdiri dari anggota beragam usia (- + 70% di atas 60 tahun; 30% kurang dari 60 tahun), latar belakang pendapatan yang berbeda (masyarakat kurang mampu dan mereka yang memiliki pendapatan stabil), penyandang disabilitas serta laki-laki dan perempuan. Setiap bulan, setiap kelompok mengadakan pertemuan bulanan yang akan dimulai dengan pemeriksaan kesehatan rutin seperti memeriksa tekanan darah dan mengukur indeks massa tubuh. Selain pertemuan bulanan, KLG juga mengelola kegiatan usaha, perawatan rumah berbasis sukarela, dan kegiatan swabantu/tali kasih dan dukungan untuk masyarakat. Memberikan perawatan dan dukungan pada masyarakat sekitar tempat tinggalnya menjadi langkah kunci dalam mendorong hubungan masyarakat yang kuat satu sama lain serta untuk memperkuat ‘nilai-nilai tradisional’ dalam merawat lanjut usia di rumah.