Berita

Erupsi Merapi Merombak Tatanan Masyarakat

10 November 2022

Ia masih trauma. Peristiwa demi peristiwa saat erupsi gunung berapi itu terus saja muncul di mimpinya, 12 tahun setelah terjadinya bencana. Erupsi Merapi tahun 2010 telah terpatri di ingatan anak-anak yang sudah lahir sebelumnya. Saat diminta menggambar bebas, siswa-siswi seringkali menggambar Gunung Merapi yang memuntahkan lahar dan abu. Gambaran tersebut berbeda dari panorama gunung yang menenteramkan dengan petani menggarap sawah di sekitarnya.

Ia bernama Tri Winarni. Ketika Merapi meletus, Ibu Tri meninggalkan sapi-sapinya terikat kencang, sementara ia sendiri mengungsi dari desanya, Kepuharjo, dengan ibunya yang sudah lanjut usia, saudara lelakinya, serta anaknya yang masih balita.

Tanda-tanda erupsi sebenarnya sudah datang jauh-jauh hari. Beberapa bulan sebelum kejadian, burung-burung dari hutan di sekitar gunung bermunculan di desa. Mereka hinggap di rumah Ibu Tri dan kicauan yang terdengar tak seperti biasanya. Monyet-monyet telah meninggalkan daerah kekuasaan mereka, sebagaimana hewan-hewan liar berpindah ke tempat aman. Kucing dan binatang rumahan lainnya tampak lebih cemas, mondar-mandir mengelilingi manusia di sekitarnya.

Sekalipun dengan semua tanda alam ini, Ibu Tri dan banyak warga lainnya tidak menyadari arti tanda-tanda ini hingga semuanya sudah terlambat. Orang-orang di sekitar zona bahaya menilai bahwa dampak Merapi tidak akan sampai ke mereka, dan bahwa aktivitas vulkanik akan segera mereda. Sayangnya, mereka salah.

Ancaman erupsi Gunung Merapi sudah di depan mata. Ibu Tri mengingat saat ia meninggalkan sapi-sapinya yang membuatnya amat menyesal. Ia nyaris berurai air mata mengenang bagaimana ia dan peternak-peternak lainnya menyelamatkan diri sendiri sementara hewan piaraan mereka tinggal terikat di kandangnya. Ketika material gunung berapi akhirnya sampai ke sana, tidak ada kesempatan bagi para ternak untuk melarikan diri. Ketujuh sapi Ibu Tri termasuk dalam sekian banyaknya ternak yang, sayangnya, tidak selamat dari kejadian tersebut.

Dalam kawasan rawan bencana gunung berapi, banyak warga yang belajar dari pahitnya pengalaman bahwa rencana evakuasi diperlukan tak hanya untuk manusia, tapi juga ternak. Dengan demikian, saat erupsi terjadi kembali, binatang-binatang dapat terselamatkan bersama dengan seluruh warga masyarakat.

Ibu Tri menceritakan perubahan yang terjadi pascaerupsi.


Perubahan kultural

Peristiwa semacam erupsi Merapi biasanya membuat masyarakat bersatu. Tetapi dari yang dapat dilihat dari Kepuharjo dan desa-desa (kalurahan) sekitarnya adalah berubahnya budaya di masyarakat. Ibu Tri mencontohkan budaya gotong royong yang agak tersingkir. Semenjak erupsi, warga enggan bergerak tanpa insentif finansial. Buruh konstruksi berbayar kini menggantikan gotong royong para warga saat ada pembangunan rumah.

Erupsi telah mengubah hidup banyak orang, termasuk status sosial dan kondisi ekonomi mereka. Sebagian warga telah bangkit kembali, salah satunya dengan masuk ke bisnis rekreasi yang menggiurkan, seperti Lava Tour atau terkenal dengan Jip Merapi. Industri pariwisata berkembang pesat sejak erupsi Merapi dengan banyaknya spot foto baru dan destinasi semua umur. Tempat-tempat ini biasanya penuh sesak oleh wisatawan di akhir pekan. Untuk memanfaatkan momentum ini, banyak warga desa yang meninggalkan profesinya sebagai petani atau peternak sementara waktu. Kadang kala, tak lagi jelas apakah usaha utama mereka masih sebagai petani dan operator tur sebagai sampingan atau sebaliknya.

Ibu Tri melihat pada banyak keluarga muda, para orang tua sibuk dengan pekerjaan utama dan sampingan mereka. Sebelum erupsi, keluarga-keluarga ini biasanya mengantar anak-anak mereka ke sekolah dan juga menjemput seusai sekolah. Hari-hari ini, para siswa sekolah dasar sudah diberi sepeda motor dan telepon seluler.

Perubahan ini juga didorong oleh ketiadaan transportasi publik. Sebelum terjadinya erupsi, angkot (angkutan kota) masih menjadi sarana transportasi tradisional warga. Mereka menggunakan mobil-mobil kecil untuk mengangkut warga di wilayah sekitar. Angkot kini sudah menghilang. Oleh karena jalanan yang telah diperbaiki dan saat ini kondisinya mulus, banyak anak yang enggan berjalan kaki lagi. Mereka menginginkan sepeda motor untuk pergi ke sekolah. Sebagian bahkan menolak melanjutkan sekolah jika para orang tua tidak membelikan mereka sepeda motor.

Anak-anak sejak umur 10 tahun kini jauh lebih bebas dari sebelumnya. Mereka mengendarai sepeda motor dan dapat bepergian sendiri. Para orang tua seringkali tak tahu kemana mereka pergi dan apa yang mereka lakukan.

Kenakalan remaja saat ini merupakan masalah serius di Yogyakarta. Kebebasan yang baru bagi para anak usia remaja awal ini dapat dianggap sebagai salah satu faktor penyebabnya. Kenakalan mereka kerap membahayakan nyawa warga masyarakat. Sekalipun demikian, banyak keluarga yang tetap memprioritaskan pekerjaan di atas segalanya dengan banyak kesempatan pendapatan baru terbuka setelah erupsi Merapi.


Menghadapi bencana bersama-sama

Ada banyak hal lain yang muncul sejak erupsi Merapi 2010, di samping kenangan-kenangan menyedihkan dan perubahan nilai-nilai budaya. Di Kalurahan Wukirsari dan Kepuharjo, warga belajar untuk tidak sekali-kali meninggalkan siapapun. Pascabencana, Yayasan CIQAL (Centre for Improving Qualified Activities in the Life of People with Disabilities), bersama dengan masyarakat Kepuharjo, menginisiasi berdirinya Komdik (Komunitas Disabilitas Kepuharjo). Komdik adalah suatu wadah bagi warga difabel untuk meningkatkan partisipasi publik mereka di lingkup desa. Komdik pertama kali dimulai di Kalurahan Kepuharjo.

CIQAL sendiri adalah organisasi yang telah mengadvokasi inklusi melalui pembuatan peraturan dan pemberdayaan ekonomi difabel selama lebih dari satu dekade. Masyarakat Kepuharjo, dengan dukungan dari CIQAL, membentuk forum Komdik yang dimungkinkan dengan adanya pendanaan dari program IDEAKSI dari YAKKUM Emergency Unit (YEU).* Selain memelopori forum Komdik, mereka juga membangun sistem informasi manajemen (SIM) untuk difabel (www.simdis.desakepuharjo.id). CIQAL menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis data dapat berkontribusi pada kesiapsiagaan dan respons bencana yang inklusif.

Melalui pendataan terpilah (disaggregated data collection), terdapat 112 difabel yang teridentifikasi bertempat tinggal di Kalurahan Kepuharjo, padahal sebelumnya tercatat hanya 20 orang. Pendataan juga telah dilakukan di desa tetangga, Kalurahan Wukirsari, dengan 221 orang yang tercatat sebagai difabel. Dengan difasilitasi CIQAL dan YEU, Kalurahan Wukirsari berencana belajar dari Kepuharjo untuk membuat ‘Komdik’-nya sendiri. Kedua kalurahan akan berkolaborasi untuk mempersiapkan rencana kontingensi, termasuk prosedur evakuasi dan barak pengungsian yang aksesibel. Selain itu, keduanya juga akan mengintegrasikan SIM data disabilitas desa (SIMDIS) yang sudah ada di Kepuharjo dengan data dari Wukirsari.

Pendirian Komdik dan integrasi sistem serta pendataan di Wukirsari sebagai sister village (desa bersaudara) Kepuharjo adalah suatu hal yang penting. Warga di Kepuharjo yang merupakan desa terakhir sebelum puncak Merapi akan mengevakuasi diri menuju Wukirsari sebagai desa terdekat. Demi memberi dukungan pada difabel, kedua desa perlu berkoordinasi, salah satunya bisa dilakukan melalui tampilan web SIMDIS. Sistem tersebut dapat menunjukkan lokasi tempat warga difabel tinggal sehingga usaha penyelamatan dapat berlangsung efektif.

Arni Surwanti, Manajer Program CIQAL dan ketua tim inovasi untuk IDEAKSI, mengatakan bahwa pihaknya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat dengan memberi edukasi pada difabel terkait ancaman bencana di sekitar mereka. Kedua, pihaknya juga berencana menambah pengetahuan para petugas desa tentang proses evakuasi difabel. Dengan demikian, tim-tim respons bencana di tiap desa dapat memprioritaskan evakuasi untuk para difabel saat terjadinya bencana.

Dengan kehadiran mereka yang signifikan di masing-masing desa, komunitas semacam Komdik dapat meningkatkan partisipasi warga difabel di ruang publik secara substansial, termasuk dalam tanggap bencana. Di Kepuharjo dan Wukirsari, kelompok-kelompok tersebut diharapkan mampu memberdayakan warga dan memotivasi mereka untuk tampil di masyarakat, keluar dari batasan tembok-tembok rumah mereka.


Berubah lebih baik

Kalurahan Kepuharjo tak ayal lagi adalah model masyarakat yang berubah menjadi lebih baik. Kita patut mengapresiasi gerakan bahu membahu antarwarga desa untuk mengembangkan rencana respons bencana yang inklusif.

Dua belas tahun berlalu, Ibu Tri saat ini tinggal di hunian tetap (huntap) Batur di Kalurahan Kepuharjo. Huntap Batur dibangun pemerintah sebagai pemukiman bagi para warga terdampak erupsi tahun 2010. Ibu Tri dan keluarganya, seperti halnya banyak warga lainnya, masih membangun kembali kehidupan mereka. Di lingkungan yang baru ini, tiga kandang kelompok dimanfaatkan oleh 150 kepala keluarga, menggantikan kandang-kandang ternak yang dulunya ada di pekarangan rumah masing-masing.

Ibu Tri bersama penduduk lainnya adalah penyintas erupsi Merapi 2010. Sebagai seorang difabel, ia paham betul tantangan evakuasi dadakan. Inisiatif-inisiatif seperti pendirian Komdik dan program sister village Kepuharjo–Wukirsari memungkinkan Ibu Tri dan komunitasnya mendapat keahlian tanggap bencana. Mereka kini lebih percaya diri dalam menghadapi erupsi-erupsi Merapi di masa depan.

Inovasi inklusif berupa pendirian Komdik, dengan dukungan CIQAL dan Kepuharjo serta Wukirsari sebagai sister village, dapat membuktikan bahwa tanggap bencana yang inklusif sangat bisa dilakukan. Melalui kerja bersama dan kolaborasi, masyarakat dapat saling mendukung dalam situasi darurat sekalipun. Hal ini mengajarkan pada kita bahwa tak seorangpun boleh diabaikan.

—–

*Program IDEAKSI (akronim dari Ide, Inovasi, Aksi, dan Inklusi) adalah bagian dari Kemitraan untuk Inovasi Berbasis Komunitas (CLIP—Community-Led Innovation Partnership) yang dilaksanakan oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU). Kemitraan ini mendukung munculnya sekaligus mengembangkan solusi-solusi yang digerakkan oleh warga sendiri untuk menjawab beragam tantangan kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo (ditangguhkan), Guatemala, Indonesia, dan Filipina. Sebagai bagian dari kemitraan ini, IDEAKSI hadir untuk menemukan gagasan-gagasan yang inovatif serta inklusif dalam penanggulangan bencana untuk kelompok difabel, lansia, dan kelompok paling rentan lainnya.

Melalui dukungan dari Elrha, Start Network, the Asia Disaster Reduction and Response Network (ADRRN) Tokyo Innovation Hub, dan pendanaan dari the UK Foreign, Commonwealth, and Development Office (FCDO), YEU dapat menjalankan IDEAKSI sebagai program CLIP di Indonesia.

Penulis: Lorenzo Fellycyano
Penyunting: Taylor Lemmon

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Tujuan dan Agenda Proyek SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action ...

Dalam situasi kebencanaan, risiko kekerasan berbasis gender (KBG) dan pelanggaran ...

Sultan (44 tahun), pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulawesi ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.