Cerita

Pelatihan Literasi Iklim untuk Perempuan: Membangun Ketangguhan dari Tingkat Komunitas

13 Agustus 2026

Perubahan Iklim Semakin Nyata di Kehidupan Perempuan

Perubahan iklim bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Dampaknya kini semakin nyata dirasakan oleh masyarakat, terutama perempuan di tingkat akar rumput. Cuaca yang tidak menentu, musim kemarau yang lebih panjang, kekeringan, banjir, hingga gagal panen menjadi tantangan yang langsung memengaruhi kehidupan keluarga dan komunitas.

Di banyak wilayah pedesaan maupun perkotaan, perempuan memegang peran penting dalam mengelola kebutuhan rumah tangga, menyediakan pangan keluarga, hingga menjaga kesehatan lingkungan sekitar. Ketika perubahan iklim terjadi, perempuan sering menjadi kelompok yang paling terdampak karena mereka berhadapan langsung dengan kebutuhan air, pangan, kesehatan keluarga, dan keberlanjutan mata pencaharian.

Namun di sisi lain, perempuan juga memiliki pengetahuan lokal, pengalaman, dan kemampuan untuk membangun ketangguhan komunitas. Oleh karena itu, peningkatan literasi iklim bagi perempuan menjadi langkah penting agar perempuan tidak hanya menjadi kelompok terdampak, tetapi juga menjadi aktor utama dalam solusi perubahan iklim.

Apa Itu Literasi Iklim?

Literasi iklim adalah kemampuan untuk memahami penyebab, dampak, dan cara menghadapi perubahan iklim. Literasi iklim membantu masyarakat memahami bagaimana aktivitas manusia memengaruhi lingkungan, bagaimana perubahan cuaca terjadi, dan bagaimana komunitas dapat beradaptasi terhadap berbagai risiko iklim.

Dalam pelatihan ini, peserta mempelajari berbagai materi seperti:

  • Konsep dasar perubahan iklim
  • Perbedaan cuaca dan iklim
  • Gas rumah kaca dan pemanasan global
  • Dampak perubahan iklim terhadap kehidupan sehari-hari
  • Informasi cuaca dan iklim dari BMKG
  • Proyeksi iklim di masa depan
  • Identifikasi risiko dan kerentanan komunitas
  • Penyusunan rencana aksi adaptasi dan mitigasi iklim

Pelatihan dilakukan dengan metode partisipatif melalui diskusi kelompok, refleksi bersama, pemetaan risiko, hingga simulasi pengambilan keputusan berbasis informasi iklim.

Mengapa Perempuan Perlu Memahami Literasi Iklim?

Perempuan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pengelolaan sumber daya alam dan keberlangsungan kehidupan keluarga. Dalam banyak komunitas, perempuan bertanggung jawab terhadap kebutuhan air, pangan, kesehatan keluarga, hingga pengelolaan sampah rumah tangga.

Ketika terjadi perubahan iklim, perempuan sering menghadapi beban tambahan. Misalnya saat kekeringan terjadi, perempuan harus mencari air lebih jauh, mengatur penggunaan air rumah tangga, atau menghadapi meningkatnya biaya kebutuhan sehari-hari. Di sektor pertanian, perempuan juga menghadapi risiko gagal panen akibat perubahan musim dan cuaca ekstrem.

Karena itu, perempuan perlu memiliki pemahaman mengenai perubahan iklim agar dapat:

  • Mengenali risiko yang terjadi di wilayahnya
  • Mengambil keputusan yang lebih adaptif
  • Mengurangi kerentanan keluarga dan komunitas
  • Mengembangkan solusi berbasis komunitas
  • Mendorong aksi kolektif yang lebih inklusif

Literasi iklim juga penting untuk memperkuat posisi perempuan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat komunitas maupun desa.

Dampak Perubahan Iklim yang Dirasakan Perempuan

Salah satu peserta pelatihan, Ine Indriyani, membagikan pengalamannya mengenai dampak perubahan iklim di wilayahnya. Menurutnya, kekeringan menjadi salah satu dampak yang paling dirasakan oleh perempuan.

Foto 1: Ine Indriyani membagikan pengalamannya selama pelatihan

Perempuan yang paling sering terpapar dengan kebutuhan air untuk memasak, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Selain itu, kekurangan air juga sangat mempengaruhi pertanian kami,” jelasnya.

Ia menceritakan bahwa cuaca ekstrem menyebabkan sawah menjadi kering, tanaman mati, dan gagal panen. Jika sebelumnya masyarakat masih dapat memanfaatkan air hujan, kini mereka harus membeli air dari luar wilayah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Kami harus menyiram tanaman 4–5 kali dalam sebulan. Semakin panas cuaca, semakin sering kami membutuhkan air, dan itu menambah biaya pertanian,” tambahnya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada ekonomi keluarga, kesehatan, dan kesejahteraan perempuan.

Belajar Membaca Informasi Iklim untuk Kehidupan Sehari-hari

Dalam pelatihan, peserta juga mendapatkan materi dari BMKG mengenai informasi cuaca dan iklim. Peserta diajak memahami bagaimana informasi iklim dapat digunakan untuk membantu pengambilan keputusan di tingkat komunitas. Peserta juga diajak memahami bagaimana merespons peringatan dini cuaca ekstrem. Diskusi dilakukan untuk menentukan:

  • Siapa yang perlu bertindak
  • Apa yang harus dilakukan
  • Kapan tindakan dilakukan

Melalui sesi ini, perempuan didorong untuk lebih percaya diri dalam membaca dan menggunakan informasi iklim untuk mendukung ketangguhan komunitas.

Foto 2: Diskusi mengenai identifikasi risiko dan ketimpangan di komunitas

Membangun Aksi Kolektif dari Tingkat Komunitas

Pelatihan tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan. Peserta juga diajak menyusun rencana aksi perubahan iklim berbasis komunitas.

Dalam diskusi kelompok, para perempuan saling belajar dan memberikan masukan terhadap rencana aksi masing-masing kelompok. Mereka mendiskusikan pertanyaan penting seperti:

  • Apakah permasalahan dan ketimpangan sudah terjawab dalam rencana aksi?
  • Apa manfaat yang dapat dirasakan perempuan dan kelompok rentan lainnya?
  • Bagaimana aksi tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan?

Melalui proses tersebut, peserta belajar melihat keterkaitan antara perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan kebutuhan kelompok rentan.

Diskusi ini juga memperkuat solidaritas antar kelompok perempuan dalam mengembangkan solusi yang lebih inklusif dan relevan dengan kondisi komunitas masing-masing.

Perempuan Mulai Mengembangkan Praktik Adaptasi

Setelah mengikuti pelatihan, beberapa perempuan mulai menerapkan aksi adaptasi sederhana di tingkat rumah tangga dan komunitas.

Menurut Ine Indriyani, perempuan di wilayahnya mulai memilah sampah karena memahami bahwa pembakaran sampah dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca.

Awalnya masyarakat membakar sampah. Sekarang mulai memilah sampah organik dan non-organik. Sampah organik dimasukkan ke dalam tanah untuk dijadikan pupuk,” ujarnya.

Selain itu, perempuan juga mulai:

  • Menghemat penggunaan air
  • Menggunakan bibit tanaman berumur pendek
  • Memilih tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan cuaca
  • Mengembangkan pupuk organik untuk menjaga kualitas tanah

Langkah-langkah kecil tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun ketangguhan komunitas terhadap perubahan iklim.

Harapan Perempuan untuk Masa Depan yang Lebih Tangguh

Di akhir pelatihan, para peserta menyampaikan harapan agar semakin banyak perempuan sadar akan dampak perubahan iklim dan mulai melakukan aksi adaptasi di komunitas masing-masing.

Mereka berharap:

  • Lebih banyak perempuan mulai memilah sampah
  • Pertanian mulai menggunakan bibit tahan cuaca
  • Penggunaan pupuk organik semakin meningkat
  • Perempuan lebih terlibat dalam pengambilan keputusan komunitas
  • Kelompok perempuan semakin aktif dalam aksi lingkungan dan ketangguhan

Harapan tersebut menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya menjadi kelompok yang terdampak perubahan iklim, tetapi juga menjadi bagian penting dari solusi.

Perubahan iklim telah memberikan dampak nyata terhadap kehidupan perempuan, terutama dalam aspek air, pangan, kesehatan, dan mata pencaharian. Oleh karena itu, peningkatan literasi iklim menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas perempuan dalam menghadapi berbagai risiko perubahan iklim.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Foto oleh Devi: Peserta pelatihan teknik pertanian adaptif-iklim yang diselenggarakan ...

Sore itu, 4 Juni 2026, suasana di Aula Hotel Fajar, ...

Di balik senyumnya yang tenang, Mursal 43 tahun menyimpan kisah ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.