Berita

YEU sebagai Perwakilan Nasional untuk Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Inklusif-Disabilitas di Thailand

28 Maret 2023

Gambar 1: Peserta dan panitia.

Program Pelatihan Negara Dunia Ketiga atau Third Country Training Program (TCTP) 2022 mengenai “Penguatan Pengurangan Risiko Bencana yang Inklusif-Disabilitas (DiDRR)” di Kawasan ASEAN telah dilakukan secara langsung selama lima hari pada tanggal 5-11 Februari 2023 di Thailand. Peserta yang mengikuti pelatihan ini berasal dari negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yaitu; Kamboja, Indonesia, Republik Demokratik Rakyat Laos, Myanmar, Filipina, Thailand dan Vietnam. Jessica Novia dan Nanda Annisa dari YEU merupakan perwakilan dari Indonesia yang mengikuti pelatihan ini setelah lolos kualifikasi pada bulan Juni 2022. Sebelum mengikuti pelatihan ditempat ini, para peserta harus mengikuti pelatihan online pada tanggal 23 s.d 29 Juli 2022.

Badan yang mendukung pelatihan ini adalah Badan Kerjasama Internasional Jepang (JICA) dan Kementerian Luar Negeri Thailand (TICA),  Kementerian Pembangunan Sosial dan Keamanan Manusia Thailand (MSDHS), dan Pusat Pengembangan Disabilitas Asia-Pasifik (APCD). JICA memulai TCTP sejak tahun 1975 yang merupakan salah satu skema Kerjasama Selatan-Selatan (SSC) dimana negara berkembang menerima pelatihan dari negara berkembang lainnya dengan bantuan JICA untuk tujuan transfer atau diseminasi teknologi (sumber: https://www.jica.go.jp/).

Gambar 2 : Nanda dan Jessica mempresentasikan tentang program Inklusif penuh Indonesia.

Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk memberdayakan penyandang disabilitas dan keluarganya untuk menjaga keamanan dan kemandirian di komunitas mereka selama masa krisis atau bencana. Hal ini tidak hanya memastikan keamanan fisik, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berpartisipasi penuh dalam upaya dan perencanaan pengurangan risiko bencana. Ini termasuk dengan mendidik dan meningkatkan kesadaran tentang kesiapsiagaan bencana, dan secara aktif melibatkan penyandang disabilitas dan keluarganya dalam proses pengambilan keputusan. Selain itu, tujuan khusus dari pelatihan ini adalah mengembangkan dan mendistribusikan metodologi DiDRR ke negara-negara anggota ASEAN, dan menyoroti manfaat DIDRR di negara-negara anggota ASEAN melalui berbagi pengetahuan dan pembelajaran dari Jepang.

Gambar 3 : Kunjungan belajar.

Jessica dan Nanda berbagi bahwa mereka belajar lebih banyak tentang Kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap perubahan iklim; Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Pengurangan Risiko Bencana Inklusif- Disabilitas yang memberikan contoh nyata di tingkat komunitas ASEAN; Kolaborasi untuk mewujudkan kawasan yang damai, aman, stabil, dan tangguh oleh Negara-negara Anggota ASEAN, relasi Thailand dan Jepang diperkuat; saling bertukar praktik baik terkini tentang DiDRR di ASEAN dan Jepang; dan kesenjangan pengetahuan DiDRR antara Negara-negara ASEAN dan Jepang.

Gambar 4 : Peserta Pelatihan DiDRR dari Thailand, Laos, Myanmar dan Indonesia.

Banyak peserta juga membagikan praktik baik mereka dalam partisipasi disabilitas seperti dari Myanmar yang memasukkan PRB dalam kurikulum mereka. Ini adalah cara yang bagus untuk memperkenalkan anak-anak untuk menyadari masalah ini. Di Filipina ‘Go Bag’ dibagikan kepada anak-anak di sekolah yang berisi barang-barang darurat jika terjadi bencana.

Gambar 5: Prof. Shigeo Tatsuki sedang menjelaskan tentang “Bosai” dalam bahasa Jepang berarti Pengurangan Risiko Bencana.

Beberapa pembicara dalam pelatihan ini adalah Somchai Rungsilp sebagai Pakar Fasilitasi Pelatihan Jangka Pendek Thailand, Tatsuki Shigeo sebagai Spesialis DiDRR Jepang, Aiko Akiyama sebagai Divisi Pengembangan Sosial di Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik, Bill Ho selaku Direktur ADPC Jepang, dan Grirkseksen Wasasiri dari Departemen Pencegahan & Mitigasi Bencana Thailand.

Gambar 6: Perwakilan Indonesia mengenakan kostum nasional

Pada hari terakhir pelatihan, Nanda dan Jessica mempresentasikan sebuah Rencana Aksi yang akan dilaksanakan mengenai DiDRR. “Ada banyak pelajaran yang mencerahkan kita untuk bisa kita bawa pulang untuk dibagikan dan diimplementasikan kepada masyarakat dan pemerintah” ujar Nanda.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Program SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action Through Cluster Mechanism/Penguatan ...

Kini, ia tidak lagi ragu menyuarakan pendapat ... Ia merasa ...

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.