Berita

Gladi Ruang Membawa Respons Kebencanaan Inklusif Selangkah Lebih Maju: SEHATI Finalisasi SOP Sub Klaster LDR

16 April 2026

Program SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action Through Cluster Mechanism/Penguatan Inklusi dalam Aksi Kemanusiaan melalui Mekanisme Klaster) yang diimplementasikan oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU) bersama Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), dengan dukungan CBM Global Indonesia, menyelenggarakan kegiatan Gladi Ruang dan Workshop Finalisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Sub Klaster Lansia, Disabilitas, dan Kelompok Berisiko lainnya (LDR).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada 31 Maret hingga 1 April 2026 di Jakarta ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kementerian Sosial, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Pemerintah Aceh khususnya Dinas Sosial Provinsi Aceh dan Kabupaten Aceh Utara, serta organisasi penyandang disabilitas dan organisasi kemanusiaan.

Penguatan Koordinasi untuk Respons Tanggap Bencana

Pertemuan ini menekankan pentingnya penguatan peran strategis Sub Klaster LDR sebagai wadah koordinasi yang efektif dalam penanganan situasi darurat. Para peserta secara kolaboratif melakukan pembahasan dan finalisasi SOP untuk memastikan kejelasan mekanisme kerja, pembagian peran dan tanggung jawab, serta alur koordinasi yang lebih terstruktur antarpemangku kepentingan.

Sebagai bagian dari penguatan SOP tersebut, kegiatan ini juga menghadirkan sesi terkait Aksi Antisipatif untuk Peringatan Dini (AMPD). Peringatan dini menjadi poin penting dalam memastikan respons yang inklusif dapat berjalan optimal. Melalui penguatan pada fase ini, perlindungan terhadap kelompok berisiko dapat dilakukan secara lebih efektif serta mampu mengurangi dampak yang ditimbulkan melalui koordinasi lintas sektor yang lebih baik.

Suara dari Lapangan

Merefleksikan kegiatan tersebut, Adeline dari Obor Berkat Indonesia menyampaikan, “Pertemuan ini sangat menarik dan memberikan visibilitas yang kuat, sehingga peserta dapat lebih memahami perkembangan program yang sedang berjalan.”

Sejalan dengan hal tersebut, Berliana Purba juga menekankan nilai pembelajaran dari kegiatan ini, “Pertemuan ini memberikan pembelajaran yang sangat bermanfaat dan dapat diterapkan di daerah, khususnya di internal organisasi kami. Hal ini membantu penyandang disabilitas untuk lebih mengenal isu-isu kebencanaan secara inklusif serta memahami cara-cara mitigasinya.”

Komitmen Bersama — Tidak Meninggalkan Siapa Pun

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas dalam memperkuat penanggulangan bencana yang inklusif. Keterlibatan aktif pemerintah, organisasi kemanusiaan, serta perwakilan kelompok berisiko termasuk penyandang disabilitas dan lanjut usia menunjukkan komitmen bersama bahwa tidak ada satu pun yang tertinggal. Perlindungan terhadap kelompok berisiko bukan hanya menjadi prioritas, tetapi merupakan tanggung jawab bersama lintas sektor.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Kini, ia tidak lagi ragu menyuarakan pendapat ... Ia merasa ...

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

Kisah Bu Warsilah dan Suara Petani Perempuan di Konferensi Kemanusiaan ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.