Di bawah terik matahari di sebuah desa di Kabupaten Bireuen, deretan galon air tertata rapi di atas terpal biru. Warga berdiri berkelompok, sebagian menunggu giliran, sebagian lain membantu mengangkat beban yang berat. Di tengah kesibukan itu, tampak seorang pria berpakaian polo gelap berinteraksi langsung dengan para warga, memastikan proses distribusi berjalan lancar. Dialah Shoji, perwakilan donor dari Peace Winds Japan (PWJ), yang hadir untuk mendampingi dan memantau pelaksanaan program distribusi bantuan oleh YEU bekerja sama dengan Peace Winds Japan.
Kehadiran Shoji di Aceh merupakan bagian dari upaya untuk memastikan bahwa respons kemanusiaan yang diberikan kepada masyarakat terdampak banjir bandang akhir tahun 2025 dilaksanakan secara akuntabel, transparan, dan tepat sasaran. Kabupaten Bireuen menjadi salah satu wilayah prioritas, di mana kebutuhan dasar masyarakat masih berada dalam tahap pemulihan.

Foto: Shoji (tengah) menyerahkan bantuan kepada salah satu warga saat kegiatan distribusi di Bireuen.
Namun, pendekatan yang diterapkan melampaui sekadar pemantauan. Shoji terlibat langsung dalam proses distribusi, mulai dari membantu logistik dan pengemasan di gudang hingga mendukung pelaksanaan di lapangan. Tingkat keterlibatan ini memungkinkan verifikasi secara langsung sekaligus memastikan bantuan yang disalurkan memenuhi standar yang dipersyaratkan.
Kehadiran perwakilan donor di lapangan juga berkontribusi pada peningkatan transparansi dalam proses distribusi. Mekanisme antrean menjadi lebih tertib, alur distribusi lebih jelas, dan informasi terkait bantuan dapat diakses secara terbuka oleh masyarakat. Hal ini membantu membangun kepercayaan antara peserta program dan pelaksana kegiatan.
Selain itu, interaksi langsung dengan masyarakat menciptakan ruang bagi umpan balik yang lebih cepat dan responsif. Pertanyaan, saran, dan keluhan dari masyarakat dapat segera diidentifikasi dan ditindaklanjuti oleh tim lapangan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas layanan, tetapi juga memastikan program tetap adaptif terhadap kebutuhan nyata masyarakat.
Komunikasi menjadi salah satu kekuatan utama dari pendekatan ini. Shoji berinteraksi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari aparat desa hingga masyarakat umum, menggunakan bahasa Inggris dan Melayu. Kemampuan ini memperlancar arus informasi dan membantu membangun hubungan yang lebih setara dan saling menghormati antara donor, pelaksana, dan masyarakat.
Sebagai contoh, di Desa Pante Baro Kumbang, Keuchik (kepala desa) Marwan secara langsung menyampaikan bahwa desa tersebut sangat membutuhkan alat berat untuk membersihkan rumah-rumah yang masih tertimbun lumpur sisa banjir bandang. Merespons hal tersebut, PWJ melalui Shoji segera memberikan bantuan tidak hanya kepada desa itu, tetapi juga kepada enam desa di sekitarnya di Kecamatan Peusangan Siblah Kreung.
Dalam refleksinya, Shoji berbagi bahwa pengalamannya di Jepang, sebuah negara yang kerap menghadapi bencana, menjadi motivasi utama keterlibatannya dalam kerja kemanusiaan. Ia juga mengapresiasi proses distribusi yang tertib di Bireuen, serta ketangguhan masyarakat dalam situasi pascabencana. Hal ini menunjukkan bahwa kerja kemanusiaan bukan hanya tentang apa yang disalurkan, tetapi juga tentang bagaimana proses itu dijalankan.