Anticipatory Action|Cerita

Dari Kebun ke Kepemimpinan: Perubahan Fransiska Odilia Lewat Aksi Antisipasi

15 April 2026
Ibu Odilia dan anggota kelompok Du'a Jaga Nian sedang membuat fermentasi pakan ternak

Di desa Hoder yang berada diantara dua topografi pantai dan bukit, seorang Tutor PAUD perempuan bernama Fransiska Odilia, 39 tahun atau akrab disapa Ody telah mengalami banyak perubahan sejak masuknya Program AKTIF-P yang difasilitasi oleh Yayasan FREN dan YAKKUM Emergency Unit (YEU). Ia dikenal oleh anak-anak sebagai tutor PAUD yang sabar dan penuh kasih, namun di balik kesederhanaannya, Ody juga seorang petani perempuan yang setiap hari bergulat dengan tanah, air, dan musim yang semakin tak menentu di ladang milik keluarganya.

Sejak bergabung dengan kelompok perempuan Dua Jaga Nian, Ody tidak lagi hanya memikirkan bagaimana menjaga kebunnya tumbuh subur, tetapi juga bagaimana desanya bisa bertahan menghadapi bencana kekeringan dan bencana lainnya yang disebabkan oleh kekeringan ekstrim. Ia dipercayakan menjadi bendahara kelompok Dua Jaga Nian Desa Hoder, dan terlibat aktif dalam Program Aksi Antisipasi yang Dipimpin oleh Perempuan (AKTIF-P). Ody mengambil peran besar dalam program kegiatan kelompoknya yaitu menjadi koordinator aksi antisipasi bencana kekeringan dalam hal mengamankan pakan ternak dan pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi saat bencana.

Bagi Ody, pengalaman itu membuka cakrawala baru. “Saya dulu hanya tahu berkebun dan mengajar anak-anak. Belum banyak mengenal tentang Desa Hoder sendiri. Tapi lewat program ini, saya belajar mengenal tanda-tanda alam yang ada di setiap dusun desa ini, memahami kapan terjadinya bencana kekeringan dan bagaimana membaca peringatan dari BMKG, serta mampu menyiapkan langkah-langkah aksi antisipasi sebelum bencana datang,” ungkapnya.

Kini, ia tidak lagi ragu menyuarakan pendapat dalam musyawarah desa. Ia merasa didengarkan. Ia belajar bahwa perempuan bisa menjadi bagian penting dari keputusan bukan hanya penerima manfaat. “Saya merasa mampu mengkoordinir kegiatan, bisa memberi masukan, dan ikut menentukan arah kebijakan kecil di desa kami,” tambahnya.

Perubahan itu juga terasa hingga ke keluarganya. Saat desanya berada dalam status siaga bencana kekeringan parah, Ody bersama kelompoknya berinisiatif menyampaikan keluhan warga kepada pemerintah desa dan BPBD. Hasilnya, bantuan tangki profil dan air bersih akhirnya datang. Sebuah kebutuhan nyata yang akhirnya dijawab dengan aksi nyata. “Kami tidak hanya menunggu, tapi berkoordinasi dan terlibat langsung menyampaikan pendapat melalui musyawarah di Desa. Ini hasil dari pelatihan dan pendampingan AKTIF-P,” ujarnya.

Meski sempat terkendala oleh transportasi dan jarak antar wilayah kegiatan, Ody dan kelompoknya tak menyerah. Dengan semangat gotong royong, mereka memanfaatkan dana yang ada untuk memastikan kegiatan tetap berjalan.

“Kuncinya adalah solid. Kalau kita kompak, tidak ada yang tidak bisa diatasi,” katanya mantap.

Kini, masyarakat mulai melihat kelompok perempuan bukan lagi sebagai pelengkap, tapi sebagai pelopor. Mereka dianggap mampu memahami dan merespons ancaman bencana kekeringan dengan cara yang bijak dan terencana. Perjalanan Ody adalah kisah perubahan dari seorang perempuan desa biasa, menjadi pemimpin yang tangguh dan inspiratif, yang tak hanya mengajarkan anak-anak tentang huruf dan angka, tapi juga menanamkan pada generasinya bahwa perempuan bisa menjadi penjaga kehidupan di tengah perubahan iklim dan tantangan zaman.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

Kisah Bu Warsilah dan Suara Petani Perempuan di Konferensi Kemanusiaan ...

Tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang menyapu Kecamatan Peusangan ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.