Lebih dari delapan bulan berlalu sejak Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi. Kegiatan yang melibatkan banyak orang mesti dibatasi guna mencegah penularan COVID-19 yang lebih masif. Hal ini pun berdampak pada aktivitas kemasyarakatan, salah satunya Kelompok Lintas Generasi (KLG)—kelompok dengan anggota lintas usia yang bergerak untuk isu kelanjutusiaan. Di masa pandemic ini, pertemuan KLG yang biasanya diadakan setiap bulan menjadi terhenti untuk sementara. Setelah bisa berkumpul kembali, pertemuan yang biasanya diikuti 50 orang kini dibatasi tak lebih dari 20 saja. Anggota hadir bergantian dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Tak sedikit anggota KLG merindukan saat-saat bisa berkumpul bersama. Meski demikian, inovasi dan kreativitas tidak berhenti.
Di Desa Tridadi Kecamatan Sleman, Kelompok Lintas Generasi (KLG) Berseri berinisiatif untuk mengembangkan kebun untuk berkegiatan bersama. Selain untuk rekreasi dan menjalin silahturahmi, hasil panen dari kebun dikonsumsi untuk pemenuhan gizi dan sekaligus menambah pemasukan bagi KLG dan anggota-anggota yang mengelola kebun ini.
Lahan berukuran 425 meter persegi ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama untuk menanam jagung manis, sementara bagian lain untuk cabai dan sayur-mayur.
Ide mengelola kebun KLG pertama kali muncul saat pertemuan kelompok perdana setelah empat bulan vakum akibat pandemi. Diskusi diantara anggota KLG berjalan cukup panjang untuk menentukan jenis tanaman jangka pendek yang sebaiknya ditanam.
Bukan hanya itu, diskusi ini juga menunjuk empat anggota lansia (lanjut usia) untuk menjadi ‘mentor’ bagi KLG dalam pengembangan usaha pertanian ini.
Mengelola kebun bersama menjadi pengalaman baru bagi KLG Berseri. Sejak awal KLG menyusun kesepakatan bersama mulai dari pembagian tugas seperti menyiram aaumemberi pupuk, penggalangan sumber daya swadaya baik pengadaan benih, tong penyimpan air, hingga gubuk bambu. Tak ketinggalan, pembagian persentase yang detail untuk hasil panen nanti.
Piket harian dibagi sesuai kelompok kecil misalnya Kelompok Satu bertugas menyiram di hari Rabu, kelompok yang lain di hari Senin, dan sebagainya.
Pada bulan Agustus 2020, KLG Berseri juga mengirimkan proposal untuk pengadaan bibit cabai dan palawija ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman. Hanya saja, benih yang diminta belum tersedia sehingga DLH memberikan 100 bibit buah antara lain kelengkeng, manggis dan mangga. Bibit ini kemudian dibagikan ke anggota-anggota KLG. Setidaknya tiap anggota mendapat 2 bibit.
“Sebagai awal, kami tidak mematok target. Yang penting kebersamaan dan ini sebagai kesempatan untuk latihan. Semoga kebun ini bisa membawa manfaat buat anggota KLG apalagi di masa pandemi ini, kalau anggota perlu sayur, bisa petik di kebun, untuk mengusir jenuh pertemuan KLG juga sering dilakukan di lahan,” kata Ketua KLG Berseri, Ibu Marini.
Bicara soal manfaat meski penanaman pertama baru dilakukan di awal Agustus, KLG merasa sudah banyak manfaat yang dirasakan. Melalui KLG, para anggota belajar langsung di lapangan dan mempraktikan ketrampilan bertani yang mereka miliki menambah motivasi bagi para anggota yang lain. Bukan hanya itu, anggota yang menjadi mentor pun semakin percaya diri karena diakui dan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan kelompok.
Kebersamaan juga semakin besar, anggota bahu-membahu memenuhi kebutuhan pengembangan kebun ini. Selain itu yang tidak kalah penting, tubuh juga menjadi lebih sehat karena setiap hari berjalan kaki ke kebun dan menggerakan tubuh saat bertani, setelah sampai di kebun tak jarang kita isi dengan aneka perlombaan ringan yang tetap memperhatikan protokol kesehatan tentunya.
“Saya belajar dari pengalaman KLG di Vietnam. Ada KLG yang mengelola kebun bersama untuk pemasukan KLG,” kata Marini lagi. KLG Berseri adalah salah satu KLG dari 19 KLG yang dibentuk YAKKUM Emergency Unit bekerja sama dengan Komisi Daerah Lanjut Usia, Dinas Sosial Kabupaten Sleman, dan pemerintah desa setempat di Kabupaten Sleman sejak 2015.