Sebagai negara dengan banyak ancaman bencana, mengharuskan masyarakat Indonesia untuk dapat lebih mengenali ancaman dan risiko bencana yang dihadapi di masing-masing daerah. Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) merupakan salah satu bentuk organisasi masyarakat pada tingkat desa/kaeurahan yang memiliki fokus dalam pengurangan risiko bencana, serta perencanaan strategi tanggap darurat jika terjadi bencana.
Sampai dengan bulan Januari 2024 sebanyak 10 FPRB di tingkat kalurahan sudah menyelesaikan Gladi Lapang Kesiapsiagaan Bencana di Daerah Istimewa Yogyakarta. Adapun kesepuluh kalurahan tersebut adalah Klitren, Prawirodirjan, Canden, Seloharjo, Pakembinangun, Hargobinangun, Kedungpoh, Girikarto, Banaran, dan Purwosari.
Kegiatan ini melibatkan anggota FPRB Kalurahan, Pemerintah Kalurahan, masyarakat, BPBD Kabupaten, Dinas Sosial, Puskesmas, PMI, dan stakeholder terkait. Ancaman bencana yang disimulasikan berdasarkan Dokumen Rencana Kontingensi dari masing-masing kalurahan.
Untuk sampai pada tahap simulasi kebencanaan, 30 anggota FPRB telah melakukan kajian risiko bencana, pelatihan kesiapsiagaan bencana, serta penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi, termasuk skenario yang akan digunakan dalam Gladi Lapang Kesiapsiagaan Bencana.
Kajian Risiko Bencana Sebagai Titik Awal Penentuan
Kajian Risiko Bencana merupakan tahap awal yang harus dilakukan. Masyarakat di masing-masing kelurahan/kalurahan, bersama dengan stakeholder terkait dilibatkan dalam proses pemetaan masalah kebencanaan yang terdapat di masing-masing kelurahan. Dalam prosesnya masyarakat diminta untuk memetakan daerah-daerah yang memiliki risiko bencana paling tinggi di tiap ancaman bencana.

Adapun ancaman bencana yang dipetakan seperti angin kencang, tanah longsor, kebakaran, gempa bumi, maupun bencana-bencana lainnya. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk memetakan wilayah yang memiliki dampak risiko paling parah, seperti dampak secara sosial, ekonomi, fisik, dan sebagainya. Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat mampu mengenal dengan baik potensi kebencanaan yang terdapat di wilayah masing-masing, serta mampu menemukan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi risiko bencana yang ada di wilayah mereka.
Output yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah peta ancaman bencana serta risiko yang mungkin terjadi, termasuk jalur evakuasi yang aksesibel. Selain itu dari kajian risiko bencana ini, dihasilkan dokumen karakteristik ancaman bencana, peringkat ancaman bencana, dan rasio perhitungan perkiraan dampak yang ditimbulkan dari bencana.
Pembentukan FPRB dan Peningkatan Kapasitas
Forum Pengurangan Risiko Bencana atau FPRB dibentuk berdasarkan hasil musyawarah dan kesepakatan bersama. Penentuan anggota FPRB di masing-masing wilayah wajib melibatkan kelompok-kelompok berisiko, seperti lansia, kelompok disabilitas dan perempuan sebagai bentuk kesetaraan gender.
Kelompok-kelompok berisiko ini perlu dilibatkan dalam proses pengurangan risko bencana, karena mereka memiliki risiko yang lebih tinggi jika dibandingkan kelompok-kelompok lainnya. Sehingga pengurangan risiko bencana ini harus bersifat inklusif untuk meminimalisir dampak akibat bencana.

Dengan melibatkan kelompok-kelompok berisiko kedalam anggota FPRB, diharapkan perencanaan mitigasi kebencanaan dapat membantu mereka melakukan evakuasi secara mandiri saat bencana terjadi. Dalam perencanaan yang lebih lanjut, kelompok-kelompok berisiko juga dapat terpenuhi kebutuhannya selama masa tanggap darurat kebencanaan.
Setelah FPRB terbentuk, masing-masing anggota mendapatkan pelatihan kesiapsiagaan bencana, seperti Penanggulangan Penderita Gawat Darurat, Manajemen Tempat Pengungsian, Manajemen Dapur Umum, Data Pilah dan Kaji Cepat, serta Manajemen Keuangan untuk komunitas. Dengan memberikan pelatihan-pelatihan tersebut, diharapkan kelompok FPRB dapat lebih tanggap, tangkas dan tangguh saat menghadapi bencana.
Penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi
Dokumen Rencana Kontingensi atau lazim disebut RENKON merupakan dokumen pendukung yang menjadi acuan bersama saat terjadi bencana. Dokumen ini disusun berdasarkan satu jenis ancaman bencana. Masing-masing FPRB difasilitasi oleh BPBD Kabupaten untuk membuat satu dokumen rencana kontingensi.

Rencana kontingensi terdiri dari profil kelurahan/kalurahan, pemetaan dan peringkat ancaman bencana, sejarah kebencanaan, sistem peringatan dini, peta jalur evakuasi, serta rencana mitigasi yang sebelumnya telah ditentukan bersama masyarakat saat melakukan kajian risiko. Dokumen tersebut juga merupakan salah satu syarat administratif yang harus dipenuhi oleh kelurahan/kalurahan untuk mendapatkan predikat Kalurahan Tangguh Bencana.
Gladi Lapang Kesiapsiagaan Bencana
Gladi Lapang Kesiapsiagaan Bencana merupakan sebuah simulasi kebencanaan guna menambah pengalaman tim FPRB, Pemerintah Kelurahan/Kalurahan, serta masyarakat itu sendiri dalam hal kesiapsiagaan bencana. Tim FPRB dan pemerintah setempat akan mempraktikkan kesiapsiagaan bencana, serta masyarakat akan melakukan peran sesuai dengan skenario simulasi yang disepakati.

Simulasi ini bertujuan untuk menguji kesiapsiagaan dan ketangkasan Tim Tanggap Bencana dalam menghadapi situasi darurat. Mereka akan melakukan evakuasi korban, pertolongan pertama pada korban bencana, pendataan warga terdampak, serta mengatur tempat pengungsian yang dapat diakses oleh semua kelompok.
Skenario simulasi bencana ini didasarkan pada dokumen rencana kontingensi yang telah disusun, dan berkaitan dengan bencana yang sering terjadi di wilayah tersebut serta memiliki dampak yang tinggi bagi masyarakat. Simulasi bencana ini juga bertujuan untuk menguji efektifitas rencana mitigasi yang telah disusun dalam dokumen rencana kontingensi.