Belum selesai proses pemulihan pascagempa bumi, likuefaksi dan tsunami yang terjadi pada 28 September 2018, para penyintas di Sulawesi Tengah juga mulai merasakan dampak dari pandemic COVID-19 ini. Penyintas tidak bisa secara maksimal mematuhi anjuran pemerintah dalam upaya pencegahan penularan wabah COVID-19 misalnya dengan tetap berada di rumah atau menjaga jarak. Sebagian besar penyintas merasa sangat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Apalagi mayoritas yang tinggal di hunian sementara (huntara) bekerja sebagai buruh lepas yang hanya mengandalkan keuntungan harian. Kondisi ini memaksa mereka untuk tetap bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Beberapa inisiatif sudah dimulai Pemerintah Daerah seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palu yang sudah mengaktifkan Pasar Daring (online) dengan harapan masyarakat tidak perlu pergi ke pasar untuk memenuhi kebutuhan namun bisa dengan menghubungi kontak yang terdaftar dalam pasar daring. Hal ini disambut cukup baik oleh pedagang dan masyarakat. Di samping itu, tanggal 16 April 2020 Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah juga telah menambah daftar rumah sakit rujukan pasien COVID-19 yakni menjadi 12 rumah sakit rujukan dan pendukung melalui Surat Edaran Gubernur Sulawesi Tengah Nomor 443/141/DIS-KES tentang Pencegahan dan Antisipasi Penyebaran COVID-19 di Sulawesi Tengah. Adapun RS rujukan ini antara lain RSUD Undata Palu, RSUD Madani Palu, RSUD Anutapura Palu, RSU Wirabuana Palu, RSU Bhayangkara Palu, RSU Alkhairaat Palu, RSU Samaritan Palu, RSU Wood Ward Palu, RSU Budi Agung Palu, RSUD Mokopido Tolitoli, RSUD Kolonodale Morowali Utara, dan RSUD Luwuk Banggai.
Upaya-upaya pencegahan COVID-19 dan dukungan kemanusiaan juga dilakukan YAKKUM Emergency Unit di Sulawesi Tengah. Dukungan kemanusiaan ini dilakukan bagi lanjut usia, penyandang disabilitas dan ODHA yang tergabung dalam Kelompok Dukungan Sebaya dan Kelompok Lansia di 5 Desa/Kelurahan tersebar di beberapa wilayah pendampingan YEU pasca bencana yang terjadi tahun 2018 lalu. Dukungan ini dilakukan untuk memastikan lanjut usia dan ODHA terpenuhi kebutuhan dasarnya, mendapatkan informasi yang jelas dan mudah dipahami terkait COVID-19 dan mampu melakukan upaya pencegahan mandiri baik bagi diri sendiri maupun lingkungannya.
Dengan dukungan CBM, HelpAge International, dan Christian Aid, YEU telah mendistribusikan 442 paket kebersihan (ember, sabun, tisu antiseptik), melakukan pemasangan 14 unit wastafel sebagai fasilitas cuci tangan yang bisa diakses komunitas, 342 paket bibit sayuran untuk dimanfaatkan dan ditanam lansia dan penyandang disabilitas di lingkungan rumah, 535 paket sembako antara lain terdiri dari beras, minyak goreng, gula, teh, telur, kecap, dan bumbu dapur, serta diseminasi informasi terkait COVID-19 yang diwujudkan dengan mencetak dan membagikan 443 poster edukasi (Etika Batuk, 7 Langkah Cuci Tangan, dan Informasi mengenai COVID-19) baik dalam Bahasa lokal maupun Indonesia.
Ketika ditemui YEU pada pertengahan Maret lalu, seorang lansia di Desa Ngatabaru – Sigi pernah menyampaikan kekhawatirannya bilamana ada lansia yang sakit sementara jarak dari Desa ke Puskesmas sekitar 7 km dan kunjungan bidan juga mulai terbatas. Untuk itu, dukungan akses terhadap pemeriksaan kesehatan dan pengobatan juga menjadi bagian dalam pelayanan respons COVID-19 ini. Beberapa waktu lalu, WHO menyebutkan bahwa ODHA yang menggunakan obat-obatan ARV (antiretroviral) harus memastikan bahwa mereka memiliki setidaknya 30 hari ARV dan memastikan bahwa vaksinasi mereka mutakhir (vaksin influenza dan pneumokokus)[1]. Tidak hanya ODHA, lanjut usia maupun penyandang disabilitas dengan riwayat penyakit kronis (penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit pernapasan kronis, dan hipertensi) juga perlu mendapat dukungan guna memastikan obat-obatan dan kontrol rutin termasuk terapi sehingga pengobatan dan pemulihan tidak terputus.
Wabah COVID-19 pasti membawa dampak yang cukup besar bagi masyarakat, meski demikian upaya-upaya pencegahan dan diseminasi informasi yang benar dan jelas perlu terus dilakukan untuk meminimalisir penularan yang lebih luas juga untuk mengurangi rasa takut/cemas yang umum dirasakan di situasi seperti saat ini.
[1] https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-on-hiv-and-antiretroviral