Bagaimana penyandang disabilitas menghadapi bencana? Penyandang disabilitas termasuk dalam kelompok rentan saat bencana terjadi. Kebanyakan dari kelompok tersebut menghadapi berbagai tantangan dalam situasi sulit, terutama saat mereka ingin menyambung hidup menuju kemandirian selama masa pemulihan pasca bencana. Kesulitan tersebut juga dipicu oleh pandangan masyarakat yang masih menganggap remeh para penyandang disabilitas. Hal ini membuat mereka memiliki kesempatan yang terbatas dalam mengisi posisi-posisi strategis dalam mengambil kebijakan di tingkat lokal.
Erti Suhastri, adalah tokoh masyarakat berusia 36 tahun, seorang ibu sekaligus penyandang disabilitas berasal dari Desa Ciputri. Sadar akan tantangan yang dihadapi oleh penyandang disabilitas pada saat bencana mendorong Erti untuk terus berjuang mempejuangkan terwujudnya kesetaraan dan menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya nilai-nilai inklusi. Erti menjadi contoh nyata sosok disabilitas yang menjadi pemimpin di Desa. Dia dipilih sebagai ketua posko di salah satu lokasi pengungsian di Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur dan terus berusaha menyediakan layanan informasi dan mendistribusikan bantuan ditengah keterbatasan yang dimiliki.
Terlahir sebagai seseorang yang memiliki disabilitas fisik sejak lahir, Erti menyadari itu bukan menjadi hambatan yang berarti bagi dia untuk terus berkontribusi kepada komunitasnya. Kemampuan Erti kemudian ia buktikan saat ia dipercayakan oleh warga desa menjadi ketua posko pengungsian di Desa. Sudah lebih dari 2 minggu, Erti bersama tim terus melakukan koordinasi terkait distribusi bantuan yang masuk. Sesekali ia mengalami kesulitan akses, karena harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan dan mendistribusikan bantuan. Ditengah situasi pasa bencana yang membuat warga menjadi pasif untuk beraktivitas membuat Erti malah semakin semangat untuk mencari bantuan dan menolong tetangga yang tinggal berdekatan dengan lokasi tempat ia dan keluarga mengungsi.
Menurut Erti, awalnya akses dan bantuan dari pemerintah untuk disabilitas di desa masih terbilang cukup sulit namun saat ini sudah mulai terlihat walaupun prosesnya cukup lama. Ia hanya berharap pemerintah lebih memperhatikan penyandang disabilitas seperti dirinya dan berharap penyandang disabilitas mendapatkan perhatian khusus karena dalam mengakses bantuan tidak semudah orang tanpa disabilitas.
Desa Ciputri merupakan salah satu desa di Kabupaten Cianjur dengan jumlah disabilitas mencapai 120 orang. Faktanya masih banyak keluarga yang memilih untuk tidak memasukkan anggota keluarga disabilitas kedalam kartu keluarga karena rasa malu jika memiliki anggota keluarga penyandang disabilitas dan adanya diskriminasi dari masyarakat desa yang belum memahami pentingnya pengarusutamaan nilai-nilai inklusi dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.
Sebagai salah satu desa di mana YAKKUM Emergency Unit melakukan pelayanan kemanusiaan, Desa Ciputri menjadi wilayah fokus pendistribusian bantuan dan pemetaan kelompok berisiko, termasuk lansia dan disabilitas. Erti sebagai ketua posko pengungsian juga ikut memberikan kontribusi dalam melakukan assessment dan distribusi bantuan kepada penyandang disabilitas di desanya dengan menjadi focal point yang menghubungkan relawan YEU dengan penerima manfaat. Eri sendiri memiliki keinginan untuk mengedukasi masyarakat di desanya mengenai disabilitas agar bisa diberdayakan. Sehingga dapat memutus stigma terkait disabilitas yang tidak berdaya dan menjadi penyemangat untuk teman-teman disabilitas lainnya agar bisa mandiri.