Berita

Jeriken Hingga Kolam Terpal: Siasat Perempuan Bertahan di Tengah Krisis Air

12 Oktober 2026

Tiap kali kemarau datang, perempuan di Panggang I tetap harus mencari cara agar keluarganya bertahan lebih lama. Mereka tidak hanya mengambil air dari bantuan, tetapi juga membangun cara sendiri menghadapi krisis iklim di rumah tangganya.

Ika Rachmani, Ketua Kelompok Perempuan Harjo Manunggal

Di sebuah wilayah di Gunungkidul, tepatnya di Padukuhan Panggang I, Desa Giriharjo, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, terdapat wilayah yang dihuni kurang lebih 1.900 jiwa. Wilayah tersebut terletak lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain di desa tersebut. Setiap musim kemarau tiba, wilayah tersebut kekurangan air, tumbuhan mengering, gagal panen, dan perekonomian tidak stabil yang memicu munculnya permasalahan dalam keluarga dan masyarakat. Pada siang hari, cuaca sangat panas, bahkan serasa kulit tersengat benda panas, dan disertai angin kencang. Debu-debu beterbangan tanpa bisa dikendalikan, mengakibatkan banyak warga menderita sakit batuk dan juga gatal-gatal.

Pada saat musim kemarau datang, perempuan yang biasanya berperan membantu kegiatan pertanian suaminya kini berubah. Kepala keluarga laki-laki biasanya mencari mata pencaharian alternatif sebagai buruh bangunan di kota dan perempuan dewasa sebagai seorang istri justru menjadi pelaku utama di bidang pertanian. Itulah sebabnya ketika musim kemarau tiba, perempuan-perempuan di wilayah Giriharjo memikul beban ganda. 

Di satu sisi, mereka menjadi pelaku utama pertanian karena laki-laki pergi mencari pekerjaan di kota. Di sisi lain, pekerjaan domestik dan perawatan keluarga tetap menjadi tanggung jawab mereka. Di samping menjadi pelaku utama pertanian dan mengurus rumah tangga, mereka masih harus mengambil air di bak penampungan umum ketika persediaan air bersih di rumah tidak mencukupi.

Banyak anak-anak menderita ISPA atau radang tenggorokan, bahkan banyak di antaranya menderita penyakit tifus. Bahkan, banyak lansia mengalami sesak napas karena pada malam hari cuaca begitu dingin yang dikenal di Gunungkidul dengan istilah bediding. Kebutuhan gizi juga kurang seimbang karena produksi sayuran di rumah-rumah warga mengalami kekeringan sehingga bergantung kepada sayuran yang dibeli di pasar.

Setiap musim kemarau tiba, warga di Panggang I sering kali menjadi tujuan bakti sosial dari berbagai kota, berbagai kalangan, dan juga pemerintah. Yang sering dan rutin di setiap kemarau datang adalah respons dari BPBD yang disalurkan melalui kecamatan, kemudian dibagikan kepada desa-desa di wilayah kecamatan dan selanjutnya disalurkan kepada warga masyarakat yang lebih rentan.

Sampai pada suatu ketika, ada pesan masuk di WhatsApp saya.

“Ting,,,,” (Bunyi pesan masuk di HP)

“Assalamualaikum wr. wb., perkenalkan saya Ibu Sinta, perwakilan dari SMA N 5 Yogyakarta. Ingin memohon izin kepada Ibu untuk melakukan kegiatan sosial, sedikit berbagi kepada masyarakat untuk menyampaikan bantuan dropping air bersih di wilayah Ibu.”

Lalu saya pun menjawab:

“Waalaikumsalam, Ibu. Terima kasih sudah berkenan memberikan bantuan kepada warga kami, dengan senang hati kami menunggu kedatangan Ibu.”

Obrolan pun berlangsung beberapa saat hingga terdapat jawaban bahwa akan memberikan bantuan sebanyak lima tangki air bersih untuk kelompok berisiko.

Tibalah waktunya pada hari Minggu, 9 Agustus 2026. Lima tangki berkapasitas 5.000 liter sudah berderet. Ada spanduk yang terpasang bertuliskan “KELUARGA BESAR SMA N 5 YOGYAKARTA BERBAGI AIR BERSIH”. Suara deru mesin kendaraan tangki air seperti memanggil warga untuk datang ke sumber suara. Warga tahu bahwa itu tandanya ada dropping air bersih. Warga pun berbondong-bondong mendatangi balai padukuhan dengan membawa jeriken dan juga galon bekas Le Minerale. Di pundak mereka tersampir jarik yang akan digunakan untuk menggendong jeriken berisi air tersebut.

Ada beberapa perwakilan guru yang ikut mendampingi penyaluran bantuan air bersih tersebut, dan kami pun melakukan prosesi serah terima dan berfoto secara simbolis di depan Balai Padukuhan Panggang I. Ada rasa sedih terselip di antara riuhnya kendaraan. 

Dalam hati saya merintih, “Ya Tuhan, mengapa pemandangan seperti ini selalu saja terjadi setiap tahun?”

Saya adalah pemangku wilayah di Padukuhan Panggang I yang bertugas sebagai pelayan warga masyarakat dalam satu padukuhan. Setelah acara berfoto selesai, kami menuju rumah warga sesuai dengan data yang kami miliki. Datanglah kami ke rumah Mbah Tugirah. Beliau adalah lansia yang tinggal berdua dengan suami yang juga lansia. 

Ibu Tugirah mempunyai sakit menahun yang menyebabkan tidak bisa beraktivitas seperti yang lainnya. Biasanya, suami Mbah Tugirah mengambil air di bak penampungan umum di masjid yang dekat dengan rumahnya karena bak penampungan air di rumah Mbah Tugirah sangat kecil.

“Selamat siang, Simbah. Saya datang bersama Bapak-Ibu yang memberikan bantuan air bersih untuk Mbah Tugirah,” kataku.

“Nggeh, selamat siang juga, Bu Dukuh. Terima kasih atas bantuannya. Semoga dilancarkan rezekinya oleh Allah,” jawab Mbah Tugirah dengan suara pelan.

Tiba-tiba sopir tangki datang menghampiri saya dan bertanya,

“Bu, bak penampungannya bagaimana? Ini tidak ada, hanya kecil sekali, Bu.”

Lalu saya berlari keluar dan melihat ke tetangganya, sebut saja Mbah Yanto.

“Mbah Yanto, kami titip air ya buat Mbah Tugirah karena tidak punya penampungan. Tapi air ini silakan digunakan bersama, tidak hanya Mbah Tugirah saja,” ucap saya kepada Mbah Yanto.

Lalu Mbah Yanto menjawab, “Baik, Bu Dukuh, akan kami gunakan bersama.”

Setelah air tangki selesai dituangkan, kami pun bergegas ke tempat lain sampai selesai di lima titik yang kami rekomendasikan.

Hari berganti, semua berjalan seperti biasanya tanpa ada permasalahan apa pun. Masuk di hari ketiga, tiba-tiba ada Pak RT datang ke rumah saya dengan napas terengah-engah. Pak RT menyampaikan bahwa terjadi percekcokan antara Mbah Yanto dan keluarga Mbah Tugirah. Tanpa menunggu lama, kami pun segera bergegas ke lokasi yang disebutkan. Sesampainya di sana, kami berupaya mendamaikan kedua belah pihak.

“Itu yang dapat bantuan kan saya, kenapa kamu mandi pakai air banyak-banyak?” ucap suami Mbah Tugirah.

“Lha, kan Bu Dukuh bilang boleh digunakan bersama. Ya saya juga pakai karena ini bak saya,” jawab Mbah Yanto.

Dengan berbagai cara, saya berusaha memahami persoalan ini sekaligus menjelaskan kepada warga bahwa bantuan air yang terbatas dapat memunculkan persoalan baru ketika setiap orang memiliki kebutuhan dan kemampuan mengambil air yang berbeda. Saya pahamkan kepada warga bahwa jangan sampai kemarau ini mengeringkan hati nurani kita. Saya sampaikan bahwa setelah musim berganti, kita masih tetap bertetangga dan kita tidak bisa hidup sendiri tanpa tetangga.

Di lain tempat, karena banyaknya warga yang tidak punya penampungan yang besar, saya memutuskan bahwa titik dropping lainnya adalah di bak penampungan umum. Saya memberitahukan kepada warga sekitar untuk bisa bersama-sama mengambil air di bak umum. Saya juga berharap ini akan adil dan merata, tetapi ternyata itu pun menjadi sebuah permasalahan.

“Kok kamu tega ya sama yang lain, kok ngambil airnya sampai berkali-kali begitu?” kata Mbah Tukijan.

“Ini kan bak umum, kita bebas ambil. Kan kamu juga bolak-balik dari tadi dan enggak masalah,” sahut Pak Sari yang kebetulan juga mengambil air dengan menggunakan jeriken dan dimasukkan dalam bronjong yang dipasangkan di motornya.

“Tetap aja kamu yang tidak tahu diri. Kita bolak-balik jalan kaki dengan jeriken dan cuma digendong, sedangkan kamu pakai bronjong, pakai motor, bolak-balik,” sahut Mbok Warinem yang juga mengantri di situ.

Terdengar suara gaduh di halaman bak penampungan umum. Ternyata mereka bertengkar karena merasa yang lain kebagian sedikit, sedangkan yang lain bisa mendapat banyak karena menggunakan motor.

Permasalahan seperti ini muncul di setiap musim kemarau. Musim kering datang, respons bencana kekeringan datang, tetapi seiring adanya bantuan, pasti juga permasalahan sesama tetangga bermunculan. Saya sering berkata dalam hati, seandainya bantuan ini diganti dengan penampungan supaya mereka bisa menampung sendiri, mungkin akan lebih baik dan meminimalkan konflik.

Kekeringan membuat kita kehilangan kesabaran, kekeringan membuat kita lupa saudara, padahal kekeringan ini juga tidak bisa kita minta pergi dengan segera. Kita hanya bisa membiasakan diri dengan keadaan yang demikian. Dan selalu percaya bahwa musim pasti berganti.

Di sela konflik yang terjadi di masyarakat, ada beberapa hal yang sudah berubah dan membuat saya terharu. Saya mulai menyadari bahwa kemampuan warga untuk beradaptasi dengan perubahan iklim juga perlu dibangun dari dalam rumah dan komunitas, bukan hanya menunggu bantuan ketika bencana datang. 

Saya menyosialisasikan kepada warga masyarakat untuk sebisa mungkin beradaptasi terhadap kondisi iklim yang tidak seperti dulu lagi. Saat itu saya menyampaikan kepada warga dalam sebuah pertemuan di Balai Padukuhan Panggang I.

“Bapak-Ibu semuanya, mari kita mulai dari hati kita yang paling dalam. Bagaimana caranya kita bertahan dalam kondisi musim seperti sekarang ini dan juga untuk bisa berjaga-jaga saat musim kemarau tahun berikutnya,” ucap saya.

“Saat musim kemarau tiba, kita selalu dihadapkan dengan situasi yang sama dan kita tahu permasalahannya. Kenapa selalu kekurangan air? Karena rata-rata kita tidak memiliki penampungan yang cukup untuk menampung air sebanyak-banyaknya. Maka mari kita coba untuk membuat tampungan air dengan daya tampung yang besar,” lanjut saya lagi.

Di sela-sela saya menyampaikan sambutan, ada salah seorang warga yang menyela dan berkata,

“Maaf, Bu. Ucapan Ibu benar sekali, tapi apalah daya kami orang yang tidak mampu untuk membuat tampungan permanen ataupun membeli water tank kapasitas besar,” ucap Pak Slamet yang merupakan perwakilan warga di wilayah Panggang I.

Belum sempat saya menjawab, tiba-tiba ada lagi warga lain yang menyela dan berkata,

“Apakah Bu Dukuh tidak bisa mencarikan bantuan penampungan untuk kami seperti yang sudah pernah diterima oleh Bapak Mujan kemarin?”

Kata Pak Ngadino.

Saya pun hanya bisa menarik napas panjang sebelum saya memberi tanggapan satu per satu atas pernyataan dan pertanyaan warga tersebut. Lalu pelan-pelan saya membuka suara.

“Begini, Bapak-Ibu. Benar, memang ada bantuan pemerintah yang namanya bantuan PAH (Penampungan Air Hujan). Tetapi setiap tahun pemerintah hanya bisa menyalurkan dalam jumlah terbatas dan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memang kurang mampu dan mempunyai kerentanan berlapis.”

Saya berhenti sejenak dan menghela napas. Lalu kemudian saya melanjutkan kata-kata saya.

“Penampungan air tidak harus permanen ataupun water tank, tetapi kita bisa menggunakan terpal untuk membuat kolam penampungan dan itu sudah saya lakukan dan bertahan selama lima tahun menggunakan kolam terpal tersebut.” Saya berhenti lagi, mencoba mencari kata-kata yang lebih pas untuk disampaikan.

“Bapak-Ibu, kita tidak bisa terus berharap kepada bantuan pemerintah, tapi semua harus kita coba awali untuk berusaha secara mandiri, berawal dari sekecil mungkin. Harapannya, tahun demi tahun bisa tetap kita lewati dengan tenang dan nyaman,” lanjut saya waktu itu.

Dan ternyata pada saat dropping kemarin, saya kaget dan terharu karena ternyata Mbah Saniyem sekarang mempunyai tampungan air yang luas berupa kolam terpal yang dibelikan oleh anaknya yang tinggal di kota. Dibentuk seperti kolam lalu diberi tutup menggunakan daun kelapa yang disusun di atas kolam tersebut.

“Bu, sekarang saya punya penampungan yang muat dua tangki air. Setelah pertemuan di balai padukuhan dulu, saya menelepon anak saya, minta dibelikan terpal dan ternyata benar dibelikan,” ucap Mbah Saniyem kepada saya.

Ya, begitulah kehidupan kami di desa yang penuh dengan keterbatasan. Namun, di tengah keterbatasan itu, warga juga memiliki pengetahuan, kemauan, dan cara beradaptasi sendiri dalam menghadapi krisis iklim. 

Saya bersyukur karena setiap yang terjadi di masyarakat menjadikan pribadi saya lebih kuat dan menjadikan sebuah peristiwa sebagai proses pendewasaan mental.

Sebagai seorang perempuan yang berada di tengah kehidupan warga, saya melihat sendiri bagaimana perubahan iklim tidak hanya mengubah cuaca dan sumber penghidupan, tetapi juga mengubah pembagian kerja di dalam keluarga. Ketika laki-laki pergi mencari pekerjaan ke kota, perempuan mengambil lebih banyak peran di pertanian, rumah tangga, sekaligus memastikan kebutuhan air keluarga terpenuhi.

Satu keyakinan bahwa Tuhan tidak akan mendatangkan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Saya yang seorang perempuan hanya ingin berusaha menjadikan perubahan di wilayah, meski diawali dari hal yang sekecil mungkin. Bagi saya, perempuan bukan hanya kelompok yang paling merasakan dampak dari krisis air, tetapi juga memiliki pengetahuan dan pengalaman penting untuk menentukan cara komunitas bertahan.

Karena bagi saya pribadi, kemarau panjang ini bukan lagi menjadi sebuah bencana alam yang sesekali terjadi, tetapi ini sudah menjadi perubahan iklim karena setiap tahun terjadi. Maka yang kita butuhkan sebenarnya adalah bagaimana kita beradaptasi dan bukan hanya mengharapkan bantuan yang berupa respons sesaat saja.

Editor: Luthfi Maulana Adhari/Konde.co

Mbok Tugirah dan Mbok Warinem telah berpulang ke rahmatullah pada September 2026.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Di rumahmu yang menggunakan galon sebagai sumber air minum, ke ...

Rumiyati atau akrab disapa Tinuk, merupakan masyarakat Desa Banyutowo, Kecamatan ...

Pada 18 Agustus 2026, tim YAKKUM Emergency Unit (YEU) tiba ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.