Mengakui Ketahanan Lokal dalam Forum Iklim Global

3 May 2024

Kelompok pemuda Karang Taruna Prima Gadung memprakarsai proyek penanaman pohon yang disebut Bambu Jawa Jahit Bumi, yang mengambil inspirasi dari praktik penanaman pohon tradisional. Pendekatan inovatif ini tidak hanya akan membentengi tanah dan memitigasi tanah longsor, namun juga meningkatkan perekonomian lokal dengan membudidayakan tanaman hortikultura yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan.Β (Credit:Β Lorenzo Fellycyano)

YAKKUM Emergency Unit (YEU) mendampingi lebih dari 50 kelompok perempuan dan komunitas di Yogyakarta, Indonesia, di mana kami membantu mengembangkan wawasan dan respons komunitas terhadap dampak besar dari perubahan iklim.

Di wilayah-wilayah rentan ini, bencana yang terjadi dengan cepat meliputi banjir, tanah longsor, dan angin kencang yang menyebabkan kerusakan besar. Biaya perbaikan rumah suatu keluarga bisa sama atau lebih besar dari pendapatan hasil panen mereka. Kehancuran tersebut juga berdampak pada kesehatan mental mereka. Survei terhadap 34 komunitas perempuan di wilayah Gunungkidul, Yogyakarta mengungkapkan bahwa sebagian dari masyarakat mengalami PTSD (post traumatic syndrome disorder), kecemasan, depresi, dan bahkan bunuh diri akibat dari kerugian dan kerusakan (loss and damage) yang diakibatkan bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim. Kelangkaan air juga merupakan ancaman yang signifikan, yang diperburuk oleh dampak lingkungan yang tidak diatasi dari proyek-proyek pembangunan sebelumnya.


Ketahanan MasyarakatΒ 

COP28, konferensi iklim global tahunan, telah mengingatkan kita akan pentingnya mengatasi dampak perubahan iklim yang dirasakan oleh masyarakat tingkat tapak. Ada juga kebutuhan untuk mengakui banyaknya upaya ketahanan atau resiliensi mereka. Meskipun diskusi dan komitmen di tingkat global sangatlah penting, kita tidak boleh melupakan upaya lokal. Peraturan global yang kuat dapat memastikan pengakuan terhadap ketahanan berbasis masyarakat dan menyediakan pendanaan yang berkelanjutan dan dapat diakses oleh masyarakat.

Di Gunungkidul, ketahanan masyarakat lokal terlihat jelas. Di salah satu komunitas, sekelompok anak muda, Karang Taruna Prima Gadung, memprakarsai proyek penanaman pohon yang disebut Bambu Jawa Jahit Bumi, yang mengambil inspirasi dari praktik penanaman pohon tradisional. Pepohonan akan memperkuat dan mengikat tanah, sehingga mencegah terjadinya longsor. Pendekatan inovatif ini akan membentengi tanah dan meningkatkan perekonomian lokal dengan membudidayakan tanaman hortikultura yang bernilai ekonomi dan berkelanjutan. Kelompok Karang Taruna Prima Gadung lebih melestarikan budaya mereka dengan menggunakan pohon-pohon asli berkearifan lokal yang mulai menghilang dari kawasan tersebut, dan menggunakan pengetahuan lokal ini untuk mempertahankan diri dari ancaman iklim.

Didampingi oleh YAKKUM Emergency Unit, kelompok tani Ngudi Mulya telah melakukan inovasi irigasi kabut dengan menggunakan sistem air gravitasi. Inovasi ini tidak hanya memberikan akses air yang lebih dekat bagi penyandang disabilitas dan petani lanjut usia, namun juga menghemat air, mengurangi penggunaan air hingga 50%.Β (Credit:Β Lorenzo Fellycyano)

Di tempat lain di kawasan Gunungkidul, Kelompok Tani Ngudi Mulya telah mengembangkan irigasi kabut yang menghemat air dan menawarkan akses yang lebih mudah bagi petani dengan tantangan mobilitas. Meskipun demikian, panen mereka mungkin gagal akibat El NiΓ±o, yang diperkirakan akan menyebabkan kekeringan di wilayah tersebut. Contoh lain dari ketahanan inovatif datang dari kelompok perempuan seperti Kelompok Wanita Tani Melati. Menghadapi kekeringan yang terus berlanjut, kelompok ini mengamankan penghidupan keluarga mereka dengan mengelola air, pakan ternak, dan sawah mereka. Mereka juga memanfaatkan sampah untuk memproduksi pupuk organik dan mengelola sampah plastik. Kegiatan ini memungkinkan mereka memperoleh penghasilan tambahan pada musim kemarau dan memitigasi risiko banjir pada musim hujan.


Wawasan Unik Kelompok Perempuan

Kelompok Perempuan Bank Sampah Gempita secara rutin melakukan kegiatan pengumpulan dan penimbangan sampah, mendokumentasikan penghitungan, dan pemilahan sampah di daerah perkotaan mereka. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi dampak banjir dan polusi sampah plastik di lingkungan mereka. (Credit:Β Lorenzo Fellycyano)

Kelompok perempuan seringkali memiliki wawasan unik mengenai potensi bencana, memahami konteks lokal dan tantangan spesifik yang mereka hadapi. Dengan menyertakan suara perwakilan mereka, pertemuan COP dapat memastikan bahwa kebijakan dan keputusan mengatasi permasalahan nyata masyarakat. Keadilan gender harus menjadi yang terdepan, mengingat perempuan sering kali terkena dampak perubahan iklim secara tidak proporsional. Perspektif mereka menawarkan wawasan berharga dalam membangun komunitas yang berketahanan dan solusi berkelanjutan. Memperkuat suara lokal, khususnya perempuan, bukan hanya soal keadilan tetapi juga merupakan kebutuhan praktis untuk menciptakan kebijakan iklim yang efektif dan inklusif.


Mengembangkan Pendekatan yang Inklusif dan Efektif

Inisiatif berbasis komunitas memerlukan pendanaan langsung dan dapat diakses. Keputusan yang diambil pada COP global harus memprioritaskan suara masyarakat akar rumput ketika mereka bergulat dengan dampak mendesak dari krisis iklim. Peraturan yang mengatur penggunaan dana kerugian dan kerusakan (loss and damage) harus menjamin kemudahan akses bagi inisiatif berbasis masyarakat. Dukungan untuk penguatan kapasitas dan pemantauan yang akuntabel harus menjadi bagian dari implementasi yang efektif.

Pendekatan yang lebih inklusif dan efektif akan mencakup langkah-langkah berikut:

  • Mengkomunikasikan konteks bencana iklim dalam bahasa lokal yang disederhanakan untuk pemahaman masyarakat;
  • Mengembangkan kemitraan dengan organisasi lokal yang berkolaborasi dengan masyarakat untuk memanfaatkan wawasan demi strategi ketahanan iklim yang efektif;
  • Memformalkan kepemimpinan perempuan akar rumput dalam struktur pengambilan keputusan;
  • menyalurkan investasi keuangan kepada organisasi-organisasi akar rumput untuk menguatkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas kepemimpinan mereka;
  • Memprioritaskan kemitraan dengan organisasi-organisasi akar rumput untuk memastikan akses mereka terhadap pendanaan dan keputusan yang selaras dengan prioritas masyarakat.


Masa Depan yang Berketahanan dan Berkeadilan

Keputusan konferensi iklim harus memperkuat suara dan pengalaman masyarakat di garis depan yang terkena dampak langsung bencana yang disebabkan oleh perubahan iklim. Para pemimpin global harus memastikan bahwa dana yang dialokasikan untuk kerugian dan kerusakan (loss and damage), serta upaya menuju keadilan gender, memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Pertemuan COP harus beralih dari diskusi teoritis ke solusi pragmatis yang didasarkan pada realitas masyarakat yang paling rentan.

Komunitas lokal, khususnya perempuan, mempunyai peran penting dalam mengidentifikasi dan menangani potensi bencana akibat perubahan iklim. Dengan pendekatan yang berpusat pada komunitas, kita dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih berketahanan dan adil.

Jessica Novia hadir sebagai delegasi ACT pada COP28 pada Desember 2023. Kiprahnya bersama YAKKUM Emergency Unit (YEU) anggota ACT antara lain penguatan kapasitas kelompok berisiko, difabel, perempuan, dan lansia dengan kesiapsiagaan bencana dan respon kemanusiaan berbasis komunitas. Ia juga merupakan perwakilan muda dari fokal poin iklim YEU, yang berupaya meningkatkan aksesibilitas, akuntabilitas, dan inklusi dalam pekerjaannya

Related News

Read Also Similar Stories

Program SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action Through Cluster Mechanism/Penguatan ...

Kini, ia tidak lagi ragu menyuarakan pendapat ... Ia merasa ...

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

YEU's Programmes & Events Publications

YEU publications provide comprehensive information about journeys, achievements, and activities that strengthen community resilience.