Cerita

Disabilitas dan Partisipasi yang Bermakna dalam Kesiapsiagaan Bencana Melawan Diskriminasi dan Mewujudkan Inklusi Disabilitas Tuli di Kota Yogyakarta

23 September 2022

Studi Kasus:

Disabilitas dan Partisipasi yang Bermakna dalam Kesiapsiagaan Bencana

Melawan Diskriminasi dan Mewujudkan Inklusi Disabilitas Tuli di Kota Yogyakarta

Oleh

Brigita Ra Sekar Laras dan Dewicha Kinanti Tandiari

Kelurahan Prawirodirjan secara administratif berada di Kemantren Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelurahan ini sarat dengan nilai historis dengan adanya 3 kampung yang menjadi simbol dinamika pada masa kesultanan yaitu Kampung Prawirodirjan, Kampung Sayidan, dan Kampung Yudonegaran. Saat ini, Prawirodirjan menjadi wilayah yang memiliki pusat aktivitas ekonomi dan budaya dengan area Kantor Pos dan Alun-alun Utara yang secara administratif terletak di Kelurahan Prawirodirjan. Sebagai salah satu Kelurahan yang terletak di jantung Kota Yogyakarta, Kelurahan ini padat oleh hunian penduduk asli maupun pendatang. Kelurahan ini ditinggali oleh 9.028 penduduk atau 3166 keluarga di atas tanah seluas 0,45 km2.


Pelatihan Manajemen Bencana dan Lokakarya Kajian Risiko dan Kapasitas yang Partisipatif

Dalam upaya penguatan ketahanan masyarakat terhadap bencana, Kelurahan Prawirodirjan telah bekerjasama dengan BPBD Kota Yogyakarta dalam mendirikan Kampung Tangguh Bencana (KTB) pada tahun 2017. KTB di Kelurahan Prawirodirjan dibentuk karena adanya ancaman bencana yang berasal dari Kali Code yang membelah Kelurahan ini. Pada tahun 2022, YAKKUM Emergency Unit bekerja sama dengan BPBD Kota Yogyakarta, BPBD Provinsi Yogyakarta, dan Pemerintah Kelurahan Prawirodirjan untuk memperkuat Tim Siaga Bencana Desa dengan mengembangkan kegiatan kesiapsiagaan bencana yang inklusi dan dipimpin oleh komunitas lokal dengan rangkaian peningkatan kapasitas.

Penguatan Tim Siaga Desa dilakukan dengan mengadopsi langkah-langkah Destana yang dikembangkan oleh BPBD. Dalam hal ini, kajian risiko bencana dan kapasitas atau pemetaan dilakukan sebagai tahap awal untuk menilai posisi kerentanan Desa. Proses kajian ini mengundang perwakilan kelompok masyarakat di Kelurahan Prawirodirjan termasuk relawan bencana, anggota KTB, kelompok perempuan, kelompok lansia, kelompok pemuda dan kelompok disabilitas. Dalam kegiatan yang diadakan pada tanggal 28-29 Juni 2022 di Hotel Tasneem, tiga orang perwakilan kelompok disabilitas hadir untuk membagikan pengetahuannya dalam kajian risiko dan kapasitas. Salah satu teman tuli yang hadir di kegiatan tersebut adalah Bagas Tri Hanantyo.


Ancaman Bencana dan Kerentanan: Perspektif Disabilitas

Sebagai warga asli Kota Yogyakarta, Bagas Tri Hanantyo sejak kecil tinggal di Kelurahan Prawirodirjan, rumah yang ditinggali oleh Bagas dan keluarga pernah rusak akibat gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta pada tahun 2006 yang lalu yang terlihat dari retakan dan bekas renovasi yang belum selesai saat tim mengunjunginya. Rumah Bagas terletak di dekat Kali Code, sungai yang membelah Kota Yogyakarta menjadi bagian barat dan timur, serta menjadi salah satu landmark kota ini. Ketika hujan deras mengguyur kota, wilayah Prawirodirjan menjadi rawan genangan air dan luapan air sungai.

“Menurut saya hujan besar bisa membuat (air sungai) meluap” kata Bagas dengan bahasa isyarat Yogyakarta.

“Kalau malam-malam ada warga yang buang sampah sembarang diam-diam” lanjutnya ketika bercerita tentang keberadaan Kali yang berada di dekat rumahnya.

Ketika ditanya apa yang dipikirkan Bagas terhadap perilaku tersebut “Menurut aku, sabar aja karena bingung harus (memberi tahu) bagaimana. Sebenarnya ada tempat penampungan sampah yang dikelola tukang sampah namun warga disini kurang mampu membayar uang sampah sebesar 5000 rupiah tiap minggu”, jelasnya.

Bagas menambahkan, Kalau sampah dibuang ke sungai nanti (bisa menyebabkan) bau dan sungai kotor. Saya kurang tahu kenapa orang-orang masa bodoh padahal ada plang larangan”.

Ada lebih dari satu masalah yang disebabkan oleh sungai yang tidak dikelola dengan baik, seperti fenomena yang masih terjadi di Prawirodirjan antara lain bau tidak sedap, sampah yang menyumbat, genangan air dan jentik nyamuk yang menjadi potensi penyakit demam berdarah.  Di area rumah Bagas juga terdapat dua pabrik, yaitu pabrik pengolahan kulit sapi dan pabrik konveksi. Pabrik ini telah lama beroperasi, namun selama lebih dari 2 dekade limbah pabrik masih terus dibuang ke aliran Kali Code yang menyebabkan bau tidak sedap yang menyengat dan cairan berwarna merah gelap. Bagas sempat bercerita tentang bagaimana kehidupan Ia sehari-hari, termasuk aktivitas sosial dengan masyarakat dan bagaimana Ia selama ini mengamati fenomena lingkungan sekitarnya.

“Ada arisan di dekat rumah (arisan RT/RW) dan itu kumpul dengan bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi aku gak ikut karena aku bekerja (jika ada panggilan kerja), malu, gak punya uang”, tuturnya. 

Setiap mengikuti kegiatan dengan masyarakat, Bagas kesulitan karena belum ada yang  menjadi penghubung komunikasi, misalnya Juru bahasa isyarat (JURU BAHASA ISYARAT). Kendala komunikasi tersebut membuat Bagas tidak merespons berbagai kejadian yang Ia lihat selama ini, termasuk ketika melihataktivitas tidak wajar yang Ia lihat di sungai yang sering dilihat saat tidak sengaja lewat atau saat sedang asyik memancing.

“Kalau untuk mandi dan mencuci, sudah tidak ada, tetapi buang air kecil dan besar masih sering dilakukan warga. Biasanya mereka buang air besar pada malam hari secara diam-diam. Pikir saya, apa mungkin kalau buang air besar pagi hari malu ya..  bisa juga karena gak ada toilet (toilet umum lagi rusak), atau memang hanya ingin melihat pemandangan, jadinya buang air di sungai. Sebenarnya yang buang air tidak hanya warga sini, tetapi juga pendatang (orang luar)”.


Pandemi COVID-19

Bagas dan istrinya, Widya, memiliki satu orang anak perempuan. Anak mereka saat ini bersekolah di Jakarta, dititipkan ke orang tua Widya karena alasan ekonomi dan juga fasilitas yang menurut Bagas kurang memadai. Bagas juga memberi tahu tentang kesulitan yang Ia rasakan selama pandemi Covid-19. Ia mengatakan, selama Covid-19, sulit mencari pekerjaan. Sebelumnya, Ia bekerja sebagai tukang servis/reparasi WIFI (sampai saat ini), tetapi selama pandemi pelanggannya berkurang dan bahkan tidak ada. Selama pandemi, Bagas dan Widya, patuh dengan protokol kesehatan dan jarang keluar rumah. Mereka sangat takut tertular. Hal itu juga yang membuat Bagas bingung karena harus mencari pekerjaan tetapi juga merasa tidak aman keluar rumah. Bagas juga bercerita, istrinya sudah menganggur selama tujuh tahun sehingga membuat ekonomi keluarganya terbatas. Namun, penuh syukur Ia sampaikan bahwa Widya sudah mendapatkan kerja baru-baru ini sebagai tukang jahit konveksi baju di Pojok Benteng (Jokteng) Barat.

Bagas sudah cukup lama bekerja sebagai tukang servis Wifi. Dulu juga sekaligus membetulkan CCTV. Tetapi, seiring berjalannya waktu, Bagas tidak lagi membetulkan CCTV, Ia hanya fokus memperbaiki WIFI saja karena Bagas merasa sudah banyak saingan sehingga Ia tidak pernah mendapatkan panggilan. Bagas bekerja dengan seorang pengusaha yang dikenalkan dari keluarganya dan dibantu oleh keponakan laki-laki dalam bekerja karena keponakannya tersebut bisa berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Selama pandemi, banyak tetangga Bagas yang terjangkit Covid-19 dan beberapa orang meninggal dunia. Hal tersebut membuat Bagas dan istrinya semakin takut karena tidak ada tenaga medis yang datang membantu. Kesulitan lainnya adalah karena Bagas seorang tuli, awalnya Ia tidak mengerti apa yang terjadi, Ia hanya mengikuti orang-orang/diminta untuk menggunakan masker. Ia dapat mengakses informasi dari internet, misal mencari informasi mengenai Covid-19 melalui Google. Ada beberapa poster yang ditempel di sekitar rumah yang dapat Ia pahami (meski informasinya kurang mampu ditangkap dengan jelas). Bagas banyak bercerita tentang kesulitan yang Ia dapatkan untuk mengakses banyak informasi yang beredar di sekitar lingkungannya karena tidak ada yang mampu berkomunikasi dengannya, bahkan Ia dikucilkan di lingkungannya.


Melawan Diskriminasi

Perlakuan diskriminatif sangat melekat di kehidupan Bagas dan keluarganya sehari-hari. Sering kali ketika berjalan dengan ibunya, orang-orang mengolok-ngoloknya karena Ia seorang tuli. Dari gestur, Bagas paham bahwa Ia sedang diolok-olok dan ibunya yang membela Bagas dan menegaskan ke orang-orang bahwa Ia tidak terima anaknya dihina. Ketika ibunya memberitahu apa yang terjadi, Ia merasa sakit hati dan sedih karena diperlakukan seperti itu.  Hal tersebut membuat Bagas tidak memiliki banyak teman. Ia mengerucutkan pertemanannya terbatas teman-teman SMP (SLB Sewon) yang sesama teman tuli. Bagas tidak ikut bergabung dalam komunitas tuli atau pun lainnya karena merasa tidak memiliki waktu luang yang cukup dan terkendala biaya. Perasaan ini dialaminya sejak dahulu saat bersekolah, di mana Ia merasa sangat terhambat karena gurunya tidak kompeten dalam mengajar. Gurunya jarang berkomunikasi dengan bahasa isyarat saat mengajar sehingga Bagas bingung dan merasa tidak dapat memahami pelajaran dengan maksimal, seolah-olah belajar dalam kelas hanya untuk formalitas belaka. Alasan itu pula yang membuat Bagas jadi kurang teman bergaul, tidak ikut dan diikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan atau kelompok.

Di setiap pertemuan yang pernah diikuti, Bagas mendapatkan informasi melalui ibunya. Sedangkan Ia sendiri tidak tergabung di dalam grup WhatsApp desa. Jika Ia diundang dalam pertemuan, Ibunya menjadi penghubung informasi tersebut. Walaupun sempat beberapa kali ikut dalam pertemuan yang diadakan pemerintah lokal atau kelurahan tidak membuat Bagas terbiasa beradaptasi ataupun membuatnya memiliki pengetahuan yang lebih mendalam karena tidak ada akses yang disediakan untuknya memahami isi pertemuan.

“Dulu pernah ikut acara hari disabilitas di kelurahan dengan istri. Mungkin ada 15 orang disabilitas yang ikut. Tapi, tidak ada juru bahasa isyarat jadi aku ikut rapat diem aja dan tidur. Di pertemuan lainnya, ada yang berbicara kepada saya tapi tidak menggunakan gestur dan pelafalan dari mulutnya tidak jelas jadi aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan” tuturnya.

Cerita yang sama ketika Bagas mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana yang diadakan oleh YEU saat itu belum ada juru bahasa isyarat yang datang sehingga Bagas dan Widya sama sekali tidak mengerti kegiatan yang sedang Ia ikuti. Tim YEU tidak mendapatkan informasi mengenai disabilitas apa saja yang akan hadir sehingga tidak menyediakan YEU. Namun, tidak lama kemudian tim YEU berhasil mendatangkan juru bahasa isyarat. Setelah itu, Bagas dan Widya dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman dan cukup aktif.

Hal yang menjadi alasan Ia enggan ikut lagi dalam berbagai kegiatan sosial adalah karena Ia tidak dapat berkomunikasi dengan warga lainnya, tidak ada yang mampu menjadi penghubung informasi, mendapatkan diskriminasi, dan takut menimbulkan permasalahan ketika Ia datang. Bagas mengerti bahwa menjadi disabilitas tuli akan menjumpai berbagai hambatan, namun bukan berarti Ia tidak ingin diterima di masyarakat, Ia ingin ruang-ruang sosial juga menyediakan fasilitas yang aksesibel untuk tuli misalnya tersedianya penerjemah bahasa isyarat.

Ia bercerita, selama ini Ia lebih sering berinteraksi dengan teman-teman online di sosial media. Ia bertemu dengan teman dari berbagai negara, beberapa dari Malaysia, Singapura, dll secara virtual. Teman-teman Bagas tersebut juga teman tuli, berinteraksi via live Instagram atau Facebook.  Dari pertemuan virtual, Bagas belajar bahasa isyarat internasional secara otodidak sehingga bisa bertukar informasi dengan teman tuli dari berbagai negara. Selain sebagai hiburan, aktivitas ini menjadi wadah di mana disabilitas tuli dari berbagai penjuru dunia dapat saling menguatkan dan memberi semangat terlebih dalam situasi yang menantang.

Situasi Bagas mungkin dialami teman tuli atau disabilitas lainnya. Keterbatasan komunikasi, tidak terpenuhinya akses, kurangnya pengetahuan karena pendidikan yang terbatas, juga diskriminasi yang datang dari berbagai pihak dan berbagai tempat menjadi salah satu faktor kerentanan yang membuat disabilitas tidak bisa berpartisipasi secara berarti pada kehidupan sosial dan aktivitas pembangunan. Upaya harus datang dari lingkungan terkecil (keluarga, kerabat, tetangga, teman), pemerintah, juga lembaga-lembaga yang bersangkutan. Nyatanya ketika Ia dilibatkan dengan akses yang memadai, Ia merasa senang dan bisa berpartisipasi secara aktif.


Mempersiapkan Kegiatan yang Aksesibel untuk Partisipasi yang Inklusi

Melakukan kegiatan yang inklusif memerlukan pemahaman tentang kebutuhan disabilitas. Ragam disabilitas sangat banyak dan bervariasi bergantung pada latar belakang sosial dan budaya di suatu tempat. dalam suatu pelatihan lain yang diadakan oleh YEU di Kabupaten Kulon Progo, disabilitas tuli yang mengikuti kegiatan tidak dapat berkomunikasi dengan lancar walaupun sudah disediakan juru bahasa isyarat karena interaksi sosial yang sangat terbatas di wilayahnya sehingga Ia tidak terpapar oleh budaya dan bahasa isyarat yang berkembang. Di desa, tidak banyak orang yang dapat menjadi penghubung informasi bahkan keluarga karena gestur yang digunakan sangat terbatas pada konteks lokal misalnya hanya kosakata kehidupan sehari-hari di desa, sehingga ketika disediakan juru bahasa isyarat tidak semua bahasa isyarat dapat dimengerti.

Dalam suatu pengalaman yang lain, menyediakan close caption kepada disabilitas tuli tidak terlalu membantu mereka mengikuti kegiatan karena bahasa yang panjang, cepat, dan istilah yang asing tidak dapat dimengerti. Tuli berkomunikasi dengan gestur, ekspresi bahasa tuli yang khas, struktur yang sangat sederhana dan tidak sama dengan struktur bahasa Indonesia pada umumnya.

Menyediakan juru bahasa isyarat juga menjadi hal yang memerlukan persiapan khusus karena juru bahasa isyarat tidak bekerja sendiri. dalam SOP yang dikembangkan di komunitas resmi juru bahasa isyarat, juru bahasa isyarat harus bekerja bersama partner secara tandem sebagai standar keselamatan. Karena bekerja terlalu keras dengan menggerakkan anggota badan sebagai orang yang tidak memiliki bahasa ibu tuli membutuhkan selama waktu yang terlalu panjang berisiko untuk kesehatan tulang terutama pergelangan tangan. juru bahasa isyarat akan bergantian bertugas setiap 15 menit dan menjadi assisten bagi juru bahasa isyarat lainnya.

Sejauh ini, salah satu forum disabilitas yang aktif di Yogyakarta adalah Difagana. Difagana merupakan kelompok Difabel Siaga Bencana yang pertama kali ada di Indonesia. Dinas sosial menginiasi pembentukan Difagana untuk menjembatani kelompok difabel lainnya dalam menganalisis kebutuhan saat bencana. Difagana dibentuk karena dalam konteks kebencanaan sukarelawan difabel bisa lebih mengerti kondisi korban bencana yang juga difabel. Sehingga dalam penanganan bisa lebih tepat dan lebih cepat dalam pemulihan. Difagana melingkupi seluruh area DI Yogyakarta dan aktif di masing-masing kabupaten/kota. Difagana merupakan kelompok sukarelawan yang bertugas membantu sesama dari sebelum, saat, sampai setelah bencana dan telah aktif mengabdi sejak 2017. Difagana juga bekerjasama dengan YEU dalam banyak kegiatan pengurangan risiko bencana dengan menjadi mitra pelaksana ataupun peserta dalam peningkatan kapasitas. Kelompok disabilitas lain yang eksis di Yogyakarta adalah CIQAL.

CIQAL (Center for Improving Qualified Activity in Life of People with Disabilities/Pusat untuk Pengembangan Kegiatan yang Berkualitas dalam Kehidupan Penyandang Disabilitas) adalah lembaga yang melaksanakan  program-program upaya pemberdayaan ekonomi dan advokasi bagi penyandang Disabilitas menuju kehidupan yang mandiri dan sejahtera. Saat ini CIQAL bekerjasama dengan YEU dalam pengembangan inovasi kebencanaan yaitu Program Optimalisasi Peran Sister Village dari Kalurahan Kepuharjo Pada Program Kesiapsiagaan Bencana Yang Inklusif Bagi Disabilitas. Melalui organisasi disabilitas, kesempatan dan partisipasi yang berarti semakin nyata terwujud dalam berbagai isu sosial, termasuk kebencanaan dan pembangunan. Organisasi disabilitas lainnya antara lain HWDI, PPDI, FPDB, Pertuni, dan Gerkatin.


Akses yang Inklusif dan Dampaknya bagi Disabilitas dalam Ruang Sosial dan Pembangunan

Terlibat dalam kajian risiko bencana dan kapasitas bersama perwakilan masyarakat lainnya di Hotel Tasneem merupakan pengalaman pertama Bagas dilibatkan dengan bantuan juru bahasa isyarat. Menurut Bagas, banyak yang belum Ia pahami terkait isu bencana dan bagaimana menghadapi bencana sehingga Ia sangat tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Disabilitas tuna netra tidak bisa melihat, sedangkan tuli tidak mendengar pertanda ketika terjadi bencana. Misalnya saat kejadian gempa yang mengguncang Yogyakarta pada tahun 2006, aku sedang tidur, lalu dibangunkan oleh Ibu disuruh untuk keluar. Ada rumah (yang) mau roboh. Aku bingung apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan, jadi hanya ikut-ikutan lari saja. Ketika ada gunung meletus, sebenarnya tidak bisa dengar. Ikut panik karena melihat orang-orang berlarian. Saya belum paham (bagaimana) caranya menyelamatkan diri”, Bagas menjelaskan apa yang Ia rasakan dan alami ketika terjadi bencana alam.

Terbatasnya akses kepada informasi di lingkungan masyarakat sekitar membuat Bagas terisolasi dari kegiatan sosial maupun interaksi dengan disabilitas lainnya. Berdasarkan informasi yang Ia pahami, ada tiga orang tuli yang tinggal di wilayah rumahnya yaitu ia, Widya (istri) dan Ferry, anak lelaki yang masih bersekolah di jenjang SMP. Selain itu, tidak banyak sesama disabilitas yang Ia kenal di wilayah ini. Bagas mengaku pernah suatu kali diundang untuk mengikuti pertemuan dan lomba antar disabilitas di tingkat kelurahan, ada sekitar 15 orang peserta, namun jumlah disabilitas tuli tidak banyak dan tidak ada juru bahasa isyarat yang disediakan sehingga tidak banyak informasi atau aktivitas yang bisa Ia ikuti.

Menurutnya, pelibatan perwakilan kelompok disabilitas dalam berbagai forum sangat penting, namun, akan menjadi sia-sia jika tidak didukung oleh fasilitas yang memungkinkan disabilitas untuk terlibat secara penuh dan berarti. Dalam kasus disabilitas tuli, seperti yang dialami Bagas, keberadaan juru bahasa isyarat atau pendamping yang bisa menghubungkan tuli dengan dengar menjadi satu hal yang sangat kritikal.

Saya senang sekali (mengikuti) kegiatan di Hotel Tasneem, karena ada juru bahasa isyarat yang mendampingi selama dua hari sehingga saya bisa mengikuti dan ada teman bicara. Walaupun saat ini. saya lupa namanya, tapi saya sangat berterima kasih. Jika ada kegiatan seperti itu, saya bersemangat untuk ikut lagi.

Dokumentasi

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Tujuan dan Agenda Proyek SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action ...

Dalam situasi kebencanaan, risiko kekerasan berbasis gender (KBG) dan pelanggaran ...

Sultan (44 tahun), pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulawesi ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.