Berita

Dari Warga untuk Warga: Kisah PACDR di Pati

2 Januari 2026

Perubahan iklim dan bencana bukan lagi sekadar isu di atas kertas. Dampaknya hadir dan dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat desa di Kabupaten Pati, di lahan pertanian, tambak, wilayah pesisir, hingga ruang-ruang domestik rumah tangga.

Pada periode 27 Oktober hingga 21 November, empat desa di Kabupaten Pati, yaitu Tegalombo, Keboromo, Tunggulsari, dan Banyutowo, terlibat dalam proses Penilaian Partisipatif Risiko Iklim dan Bencana (PACDR). Proses ini dirancang sebagai ruang belajar bersama yang mendorong warga desa untuk berbagi pengalaman, mengidentifikasi risiko yang dihadapi, serta merumuskan langkah-langkah ke depan secara kolektif dan partisipatif.

Bersama tim YEU, keempat desa melaksanakan rangkaian diskusi partisipatif dan pemetaan berbasis pengetahuan lokal untuk mengidentifikasi bahaya utama di masing-masing wilayah. Kegiatan PACDR dilaksanakan selama lima hari di setiap desa, dengan penekanan pada perbedaan perspektif antara perempuan dan laki-laki. Setiap desa melibatkan sekitar 30 peserta, dengan memperhatikan keseimbangan gender serta keterwakilan penyandang disabilitas.

Rangkaian kegiatan PACDR meliputi pemetaan sumber daya dan bahaya di tingkat desa, penyusunan kalender musim, pembuatan matriks dampak bahaya, pemaparan tren perubahan iklim, identifikasi opsi tambahan pengurangan risiko, penyusunan laporan sintesis, hingga perencanaan aksi komunitas. Seluruh proses ini diikuti secara aktif oleh para peserta. Dalam kegiatan PACDR, warga desa berperan sebagai narasumber utama dengan menyampaikan informasi penting terkait bahaya dan dampaknya berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari.

Pada akhir proses, masing-masing desa berhasil mengidentifikasi dua bahaya utama. Satu bahaya yang muncul di keempat desa adalah banjir rob, yang menunjukkan bahwa hingga saat ini peristiwa tersebut masih menjadi tantangan serius bagi masyarakat pesisir Pati. Namun, PACDR tidak berhenti pada tahap identifikasi risiko semata. Masyarakat juga terlibat secara aktif dalam penyusunan rencana aksi, yaitu langkah-langkah konkret yang akan dilakukan bersama untuk mengurangi risiko dan menghadapi dampak bahaya yang ada.

Proses PACDR telah membuka ruang bagi warga desa untuk saling mendengar, belajar, dan memperkuat pemahaman bersama. Pengalaman dari Tegalombo, Keboromo, Tunggulsari, dan Banyutowo menegaskan bahwa ketika masyarakat dilibatkan sejak awal, ketangguhan tidak hanya menjadi konsep, melainkan praktik nyata yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Program SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action Through Cluster Mechanism/Penguatan ...

Kini, ia tidak lagi ragu menyuarakan pendapat ... Ia merasa ...

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.