Cerita

Berdamai dengan Si Boss, Monyet Ekor Panjang yang Hobi “Bermain” di Kebun

16 Oktober 2026

Pagi itu, sebelum berangkat ke kantor, kera ekor panjang datang merusak tanaman keluarga. Sepertinya, ini saat yang tepat untuk berunding dan berdamai dengan kera yang kusapa Si Boss itu.

Sekitar pukul 07.00 WIB, saya bersiap-siap pergi ke kantor BPBD. Saat hendak berangkat, terdengar suara “krek… krek…”. Setelah saya buka jendela, benar saja dugaan saya: si Boss, monyet atau kera ekor panjang, sedang berjejer di batu samping rumah saya dengan rapi dan tidak mau pergi.

Saya langsung memanggil suami. Kami mencoba mengusirnya dengan berbagai cara. Walaupun dilempari batu, dilempar mercon, dan sebagainya, tetap tidak mempan. Batu pun tidak dihiraukan. Si Boss tadi tetap berdiri di pinggiran dekat rumah saya. Sedikit pun tidak ada reaksi untuk pergi. Ia tetap tenang sambil melihat saya yang sibuk mencari akal untuk mengusir si Boss tadi.

Saya yang dari pagi sudah sibuk dengan berbagai kegiatan sebagai ibu rumah tangga, mau berangkat ke kantor pun masih harus berurusan dengan si Boss. Rasanya setiap pagi ada saja ceritanya.

Dengan berbagai kegiatan sebagai ibu rumah tangga yang tak kunjung usai, pagi saya setiap hari tak lepas dari segerombolan monyet yang datang entah dari arah mana. Mereka mencari makanan di pepohonan dekat samping rumah, di antaranya pohon pisang, jambu, dan pepaya. Ada juga yang minum air di ember kandang kambing. Pokoknya apa pun dimakan oleh monyet-monyet itu, bahkan tanaman yang bisa dimakan, seperti kacang, jagung, pisang, dan sebagainya.

Orang tua saya tidak pantang menyerah. Walaupun tanaman mereka dirusak oleh monyet, mereka tetap menanam ulang kembali.

Kalau tanaman orang tua saya tidak dirusak, sekali panen sebenarnya bisa menghasilkan beberapa puluh kilogram jagung dan kacang. Hasilnya bisa untuk dikonsumsi sendiri, dan kalau ada lebih bisa dijual untuk menambah penghasilan.

Namun, karena sekarang sering diserang monyet, hasil panen orang tua saya lebih banyak hanya cukup untuk dikonsumsi sendiri. Kalau pun ada yang bisa dijual, jumlahnya tidak sebanyak dulu. Ini yang kemudian cukup terasa bagi orang tua saya yang sehari-hari mengandalkan hasil dari ladang.

Monyet-monyet itu juga tidak pergi-pergi jauh. Mereka selalu datang dan mengganggu saya dan tanaman saya.

Foto 1. Ratna (perempuan dengan topi di sisi kiri) bersama ibu-ibu merawat tanaman sawi.

Ternyata Mengusir Monyet Harus Pakai Strategi

Dan akhirnya saya dan suami punya inisiatif. Sebelum pergi tadi, kami menaruh pisang di batu-batu dekat rumah saya.

Bos atau si monyet tadi pergi mengambil pisang tersebut.

Dan ternyata pengalaman menghadapi si Boss tadi harus pakai strategi, bukan emosi.

Pagi itu saya jadi berpikir, ternyata tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan mengusir sekuat-kuatnya. Kadang harus dicari cara supaya sama-sama tidak terlalu dirugikan.

Pagi itu bukan pertama kalinya saya berhadapan dengan si Boss. Setiap pagi, saya selalu sibuk mengurus rumah, mulai dari menyapu halaman, mencuci, hingga menyiapkan makanan. Belakangan ini, ada beberapa ekor monyet yang sering berkeliaran di sekitar rumah. Mereka biasanya datang dari arah pepohonan dan mencari makanan di sekitar halaman.

Awalnya saya merasa takut dan sedikit khawatir karena monyet-monyet itu terkadang masuk ke teras dan mengambil barang. Kalau melihat monyet datang, saya segera menutup pintu dan jendela agar mereka tidak masuk ke dalam rumah.

Walaupun cukup mengganggu, tingkah monyet-monyet itu terkadang membuat saya tertawa. Ketika diusir, mereka malah tetap duduk dengan santai sambil makan dan melihat saya balik.

Dulu saya takut melihat mereka. Sekarang sudah mulai terbiasa dengan kehadiran mereka dalam keseharian. Malah seolah menjadi teman yang datang tanpa diundang. Mereka tidak takut walaupun sudah diusir dengan segala cara.

Kehadiran mereka menjadi kejadian unik dalam kehidupan sehari-hari saya. Dari pengalaman tersebut, saya belajar untuk tetap tenang dan berhati-hati saat berhadapan dengan hewan liar.

Seiring berjalannya waktu, kalau malam kumpul bersama keluarga, saya cerita kejadian di siang hari kepada suami dan anak saya yang pulang dari bekerja.

Suami saya bilang, “kenapa pas waktu aku di rumah si monyet tadi tidak pada muncul? Aku gregetan sama si monyet!”

Saya hanya tertawa mendengar cerita suami. Beda orang, beda pula cara menghadapi si Boss. Yang penting, sebisa mungkin kami mencari cara agar monyet tidak semakin merusak tanaman dan tidak membahayakan keluarga.

Tanaman Rusak, Penghasilan Orang Tua Ikut Menurun

Lain lagi cerita simbah atau orang tua saya. Keseharian mereka di ladang, menjaga tanaman, sampai mengeluh, “Apa tidak ada cara lain untuk mengusir si monyet tadi?”

Karena selama ada serangan si monyet tadi, penghasilan orang tua saya sangat-sangat menurun atau bahkan gagal panen.

Bagi orang tua saya, tanaman di ladang bukan hanya sekadar tanaman. Dari situlah sebagian kebutuhan sehari-hari dipenuhi. Ketika tanaman rusak, yang hilang bukan hanya hasil panen, tetapi juga penghasilan yang seharusnya bisa membantu kebutuhan keluarga.

Saya dan suami ngobrol bersama orang tua terkait tahun depan atau musim penghujan, untuk mengganti tanaman yang selama ini ditanam. Dulu mereka menanam jagung dan kacang yang kemudian dirusak oleh si monyet tadi.

Untuk mengubah tanaman yang akan ditanam di musim penghujan nanti, saya dan suami punya inisiatif menanam cabai dan serai.

Semoga seiring berjalannya waktu, rencana saya dan suami bisa membuat orang tua saya mau atau setuju untuk mengganti tanaman tersebut.

Karena orang tua saya kesehariannya seorang petani dan menunggu tanaman di ladang, setidaknya kami berharap gangguan monyet bisa sedikit berkurang. Mudah-mudahan dengan tanaman yang berbeda, monyet-monyet tersebut juga tidak terlalu tertarik datang ke ladang.

Kami tidak tahu apakah cara ini nantinya benar-benar berhasil atau tidak. Namun, untuk sementara, inilah cara yang bisa kami coba agar orang tua tetap bisa bertani dan hasil tanamannya tidak terus-menerus habis dirusak.

Berkebun dari Pekarangan Rumah

Untuk menambah penghasilan dan memenuhi kebutuhan yang bisa dikonsumsi sendiri, saya juga menanam sayuran di samping rumah. Di antaranya cabai, terong, dan kangkung.

Alhamdulillah, sejauh ini mungkin karena letaknya di samping rumah, tanaman saya masih aman dan tidak diserang oleh si monyet tadi.

Foto 2. Kebun sayur Ratna di pekarangan samping rumah.

Berkebun di pekarangan juga membuat saya merasa punya kegiatan yang bisa dilakukan sendiri. Tidak harus punya lahan luas. Sedikit-sedikit, yang penting bisa menghasilkan sesuatu untuk keluarga.

Untuk ibu-ibu rumah tangga, jangan patah semangat untuk mencoba berkebun atau menanam sayuran di pekarangan kita.

Saya sendiri belajar dari pengalaman sehari-hari. Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti hanya mengurus pekerjaan rumah. Dari halaman rumah, saya juga bisa menanam, mencoba memenuhi kebutuhan dapur, sekaligus membantu keluarga menambah hasil yang bisa dimanfaatkan.

Foto 3. Tanaman cabai di kebun milik Ratna.

Dan menghadapi si Boss pun ternyata harus sabar. Dulu saya takut, sekarang saya sudah terbiasa. Tanaman rusak, kami tanam lagi. Monyet datang, kami cari cara lagi. Tidak selalu berhasil, tetapi kami tetap mencoba.

Demikian cerita atau pengalaman saya sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang setiap harinya berteman dengan si monyet. Dulu takut, sekarang sudah tidak terlalu takut lagi dengan segerombolan si Boss tadi. Semoga ke depan saya, suami, dan orang tua bisa menemukan cara yang lebih baik agar tanaman tetap bisa tumbuh dan keluarga tetap bisa mendapatkan hasil dari kebun.

Karena pada akhirnya, yang kami cari bukan bagaimana membuat si Boss pergi selamanya, tetapi bagaimana kami bisa tetap menjaga rumah, tanaman, dan penghasilan keluarga dengan cara yang sebisa mungkin aman untuk semuanya.

Editor: Luthfi Maulana Adhari/Konde.co

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Saat musim kemarau panjang dan kekeringan melanda, Mbok Jum, seorang ...

Tiap kali kemarau datang, perempuan di Panggang I tetap harus ...

Di rumahmu yang menggunakan galon sebagai sumber air minum, ke ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.