Berita

YEU Perkuat Kapasitas Staf untuk Pengurangan Risiko Bencana Inklusif di ASEAN

7 Mei 2024

Pada tanggal 14-26 Januari 2024, Nanda Annisa Husni dan Dewicha Kinanti Tandiari dari YEU mengikuti pelatihan “Third Country Training Program: Strengthening Disability-Inclusive Disaster Risk Reduction in the ASEAN Region”. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan dalam mempromosikan DiDRR (Disability-Inclusive Disaster Risk Reduction) di negara-negara ASEAN.

Pelatihan ini merupakan lanjutan dari pelatihan sebelumnya yang dilakukan pada tahun 2023. Pelatihan ketiga ini memberikan pemahaman mendalam tentang teknik memfasilitasi dan membuat konten sosial media untuk mempromosikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang inklusif. 


Pelatihan Partisipatif dan Keterampilan Fasilitasi

Dr. Akio Kawamura menekankan pentingnya keterampilan fasilitasi logis dalam pelatihan DiDRR. Beliau menjelaskan bahwa peran fasilitator adalah memunculkan ide sebanyak mungkin, tanpa kritik dan kemudian mengembangkan ide-ide tersebut. Hal ini penting untuk memastikan bahwa semua peserta pelatihan merasa didengar dan dihargai, serta pelatihan tersebut menghasilkan solusi yang bermanfaat bagi semua orang.

Dalam konteks disabilitas, penting bagi fasilitator untuk memahami konsep kunci hak-hak penyandang disabilitas, sosial model dan akomodasi yang wajar. Pemahaman ini akan membantu fasilitator untuk memastikan bahwa pelatihan DiDRR inklusif dan dapat diakses oleh semua orang, termasuk penyandang disabilitas. Fasilitator juga perlu memahami langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan perlindungan dan keselamatan penyandang disabilitas selama pelatihan. Hal ini dapat mencakup menyediakan akses ke layanan dan dukungan yang diperlukan, serta menciptakan lingkungan pelatihan yang aman dan ramah.

Akio Kawamura menjelaskan konsep right-based approach

Pendekatan berbasis hak merupakan fokus utama dalam diskusi ini. Pendekatan ini menekankan partisipasi semua pemangku kepentingan dalam proses pengambilan keputusan dan implementasi program. Hal ini berarti membangun masyarakat yang inklusif, di mana semua suara didengar dan semua pemangku kepentingan memiliki kesempatan untuk berpartisipasi. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya akuntabilitas, yaitu memastikan bahwa para pemangku kepentingan memenuhi kewajiban mereka dan mempertanggungjawabkan tindakan mereka kepada para pemegang hak.

Mr. Bill Ho, Wakil Presiden ADPC (Asian Disaster Preparedness Center), menekankan pentingnya penilaian kebutuhan dalam merancang program pelatihan yang efektif. Beliau menjelaskan bahwa aspek terpenting dalam mempersiapkan program pelatihan yang baik adalah melakukan penilaian kebutuhan yang menyeluruh.

Penilaian kebutuhan membantu para fasilitator pelatihan untuk memahami beberapa hal, yakni siapa saja orang yang akan mengikuti pelatihan, pengetahuan dan keterampilan apa yang dimiliki saat ini, apa yang ingin dicapai saat pelatihan, apa yang perlu diajarkan untuk mencapai tujuan pelatihan, bagaimana materi pelatihan akan disampaikan dan bagaimana efektivitas pelatihan diukur. Setelah melakukan penilaian kebutuhan, langkah selanjutnya adalah merancang materi pelatihan yang menarik. Materi pelatihan harus informatif, mudah dipahami dan relevan dengan kebutuhan peserta.


Mengembangkan Keterampilan Media Sosial

Pelatihan DiDRR tak hanya berfokus pada pengembangan keterampilan fasilitasi, tetapi juga membekali peserta dengan kemampuan media sosial yang mumpuni. Hal ini penting untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat tentang DiDRR, antara lain, penulisan dan desain konten media sosial yang menarik, membuat strategi untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan tentang DiDRR, praktik membuat konten menarik dalam berbagai format (teks, gambar dan video). Selain itu, pemahaman tentang cara kerja media sosial juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Peserta mempelajari apa saja yang perlu dipertimbangkan dalam membuat konten yang menarik dan memberikan dampak kepada penonton.

Dewicha sedang melakukan presentasi tentang Indonesia

Melalui pelatihan DiDRR peserta dibekali keterampilan media sosial dan diharapkan dapat memperkuat upaya pengurangan risiko bencana di berbagai komunitas. Peserta dapat menggunakan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk menyebarkan informasi tentang DiDRR dan meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong aksi nyata membangun komunitas yang lebih tangguh.

Peserta praktik membuat konten sosial media


Platform Berbagi Pengalaman dan Inovasi

Pelatihan DiDRR tak hanya fokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga menyediakan platform untuk berbagi pengalaman dan mempromosikan inovasi. YEU memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi pengalaman program YEU di Loli Tasiburi, Donggala, Sulawesi Tengah dan proyek CLIP (Community-Led Innovation Partnership) dan LEAP (Locally-led Inclusive Disaster Response & Preparedness) di Yogyakarta.

Staf YEU membagikan praktik baik yang telah dilakukan di desa-desa tersebut, termasuk bagaimana masyarakat mengaplikasikan pengurangan risiko bencana di komunitas mereka. Salah satu contohnya adalah pembuatan rencana kontijensi di KSB (Kelompok Siaga Bencana). Berbagi pengalaman dan praktik baik ini memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan dan pembelajaran antar peserta. Komunitas dan organisasi dapat belajar dari satu sama lain dan meningkatkan efektivitas program DiDRR antar negara-negara ASEAN dengan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.


Handbook Indonesia on DiDRR

Sebagai hasil dari pelatihan sebelumnya, para peserta menghasilkan Handbook Indonesia on DiDRR. Handbook ini merupakan panduan komprehensif tentang PRB (Pengurangan Risiko Bencana) yang inklusif dan dirancang untuk membantu para fasilitator dalam memberikan pelatihan PRB yang lebih berkualitas dan menjangkau lebih banyak pihak, termasuk penyandang disabilitas.

Handbook ini menyediakan berbagai informasi penting, di antaranya:

  • Konsep dan prinsip PRB inklusif
  • Hak-hak penyandang disabilitas dalam PRB
  • Teknik dan metode pelatihan PRB inklusif

Rencananya, handbook ini akan diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan digunakan dalam pelatihan PPDI (Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia) dan KSB (Kelompok Siaga Bencana) Gampiri di Sulawesi Tengah. Dengan demikian, diharapkan para fasilitator dapat memberikan pelatihan PRB yang lebih efektif dan bermanfaat. 

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Kini, ia tidak lagi ragu menyuarakan pendapat ... Ia merasa ...

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

Kisah Bu Warsilah dan Suara Petani Perempuan di Konferensi Kemanusiaan ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.