Pada 9 Maret 2023, para inovator proyek IDEAKSI[i] dan staf YAKKUM Emergency Unit (YEU) berjumpa di Hotel Prime Plaza, Sleman, untuk saling berbagi kabar bersama dengan salah satu mitra proyek, ADRRN Tokyo Innovation Hub, diwakili oleh koordinator inovasi regionalnya, Ibu Ikue Uchida.
Di kesempatan ini, para inovator IDEAKSI turut mempersiapkan diri untuk tahap selanjutnya dalam proyek ini. Mereka menyegarkan dan mempertajam kemampuan presentasi pitching untuk mencari peluang kolaborasi baru dengan para pemangku kepentingan yang lebih luas (pentahelix): pemerintah daerah, dunia usaha, media, dan akademisi.
Berikut ini adalah presentasi dari berbagai praktik baik dan pembelajaran yang didapat dari beberapa proyek inovator IDEAKSI

Banyak perkembangan terjadi di proyek ini dalam beberapa bulan terakhir. Salah satunya adalah penyandang disabilitas yang telah didorong dalam usaha pengurangan risiko bencana (PRB) di komunitas masing-masing. Dari keterlibatan ini, mereka dapat menunjukkan pada para pemangku kepentingan di daerah bahwa difabel dapat berpartisipasi secara bermakna di desa. Lingkar sendiri juga mendapat pengalaman berharga terkait implementasi program yang inklusif.

Hingga saat ini, terdapat perkembangan luar biasa berkat masukan masyarakat ke platform aduan masyarakat hasil inovasi FPRB GK. Contohnya, terdapat peningkatan aksesibilitas puskesmas di Nglipar dan gedung kesenian Bejiharjo, pembangunan jalan akses dari desa Kuwon ke pusat kecamatan (kapanewon), dan jalan akses dari Dusun Gelung ke Kapanewon Nglipar telah diperbaiki. Lebih lanjut, dibangun pula ramp (jalur landai) untuk aksesibilitas Balai Desa Siraman di Wonosari.

Dalam proyek ini, banyak perkembangan pun telah terlihat. Misalnya, para pejabat daerah dan lembaga-lembaga sosial mulai mendukung kegiatan penyandang disabilitas, sementara difabel pun mulai berani terbuka untuk berinteraksi di masyarakat. Terdapat pula produk pengetahuan yang dibuat bersama.

Dalam proyek ini, Ngudi Mulya telah menerima masukan baik dari petani muda dan lansia yang terlibat. Selain itu, mereka juga mendapat dukungan dari pemerintah desa dan instansi-instansi yang terkait, seperti Badan Penyuluh Pertanian Purwosari dan Dinas Pertanian Gunungkidul.

Penerapan sistem peringatan dini (EWS) untuk banjir di permukiman di bantaran sungai perlu mempertimbangkan partisipasi dan perlindungan semua warga di satu daerah aliran sungai, tidak hanya warga di satu sisi sungai. Untuk mewujudkannya, masyarakat di bagian-bagian lain bantaran Sungai Gadjah Wong turut terlibat karena mereka sadar bahwa warga di sepanjang aliran sungai juga berisiko terkena banjir dan dapat diuntungkan dengan EWS yang sama. Lebih lagi, inovasi ini dapat menjadi percontohan peran organisasi berbasis iman di masyarakat yang memiliki program kemanusiaan melalui PRB inklusif.

Melalui IDEAKSI, Tim Sekoci telah berusaha meningkatkan kapasitasnya sebagai organisasi. Sekoci berhasil mengajukan perizinan agar diakui pemerintah sebagai sebuah lembaga formal. Sekalipun inovasinya dalam status hiatus, Sekoci memperoleh beragam pembelajaran dalam proses inovasi mereka. Salah satunya, Sekoci mendampingi siswa dan guru di satu sekolah untuk difabel untuk mendapat pengetahuan terkait PRB. Sekoci juga terus berkomitmen mencari peluang-peluang baru untuk mendukung masyarakat yang mereka dampingi.

Banyak pembelajaran diperoleh dari pengalaman sebelumnya, misalnya kebutuhan akan sistem pandu arah untuk evakuasi mandiri karena warga cenderung panik, kehilangan fokus, dan kebingungan untuk menuju ke titik kumpul. Selain itu, diperlukan pula catu daya tersendiri yang tahan lama karena listrik seringkali padam dan wilayah sekitar cenderung lebih gelap sekalipun di siang hari. Lebih lanjut, sistem yang ada harus mendukung proses pembiasaan sehingga evakuasi dapat berlangsung secara intuitif dan mandiri karena warga cenderung terkejut dan tidak mampu mengingat prosedur evakuasi.

Aplikasi DIFGANDES saat ini telah sampai ke versi 2.0 dengan fitur-fitur tambahan, seperti tersedianya data terpilah, rute evakuasi, dan informasi titik kumpul. Proses inovasi ini membuat DIFAGANA DIY mendapat pengakuan nasional dan internasional dalam berbagai kesempatan, seperti undangan menjadi pembicara di pertemuan regional Asia–Pasifik dan mendapat penghargaan Top 45 inovasi pelayanan publik di tingkat nasional.

Dalam proyek ini, terdapat pula proses pembelajaran yang dijalani FKWA. Permasalahan sampah masih menjadi masalah strategis di Kota Yogyakarta, sementara pemerintah mempromosikan pengelolaan sampah yang masif di wilayah setingkat RT/RW melalui bank-bank sampah. Dengan demikian, terdapat peluang baru untuk memperkenalkan bank sampah organik dengan biokonversi maggot BSF (black soldier fly). Pasar untuk pengelolaan ini terbuka lebar. FKWA juga menjalin kerja sama dengan beragam pihak yang dapat memanfaatkan hasil pengolahan sampah organik dan juga dengan sekolah luar biasa (SLB) untuk menyediakan pelatihan di sekolah-sekolah.
Ditulis oleh: Christine Damboeck
Disunting oleh: Lorenzo Fellycyano
[i] Program IDEAKSI (akronim dari Ide, Inovasi, Aksi, dan Inklusi) adalah bagian dari Community-Led Innovation Partnership (CLIP) atau Kemitraan untuk Inovasi Berbasis Komunitas yang dijalankan oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU). Kemitraan ini mendukung munculnya solusi-solusi yang kembangkan secara lokal untuk masalah-masalah kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo (ditangguhkan), Guatemala, Indonesia, dan Filipina. Sebagai bagian dari kemitraan tersebut, IDEAKSI berusaha mencari solusi-solusi inovatif dan inklusif untuk penanggulangan bencana bagi kelompok paling rentan, termasuk difabel dan lansia.
Melalui dukungan dari Elrha, Start Network, the Asia Disaster Reduction and Response Network (ADRRN) Tokyo Innovation Hub, dan pendanaan dari the UK Foreign, Commonwealth, and Development Office (FCDO), YEU dapat mengadakan IDEAKSI sebagai proyek CLIP di Indonesia.