Sejak pandemi diumumkan pada tanggal 2 Maret 2020, aktifitas perekonomian di Kota Yogyakarta mulai menurun. Kebijakan pemerintah untuk membatasi bahkan menutup tempat wisata dan sekolah-sekolah di Yogyakarta berpengaruh besar pada pendapatan warga Yogyakarta. Perubahan pola perilaku sosial dan ekonomi ini juga berpengaruh terhadap meningkatnya angka kekerasan dalam rumah tangga, kesenjangan ekonomi, bersamaan terus melajunya peningkatan angka kasus COVID-19 di Yogyakarta.
Menanggapi hal ini, YEU dengan dukungan dari Huairou Commission yang merupakan lembaga kemanusiaan yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan menyelenggarakan pendampingan kepada empat kelompok perempuan dari kelurahan Suryatmajan dan Terban. Salah satu pendampingan yang diberikan adalah pengelolaan dana ketangguhan masyarakat. Dana ketangguhan bisa dikelola untuk menciptakan usaha yang mempekuat kohesi sosial dan meningkatkan baik pendapatan kelompok dan pribadi.
Namun, kelompok perempuan beranggapan bahwa mereka membuthkan strategi baru untuk memasarkan hasil usaha di tengah pandemi COVID-19. Maka dari itu, melalui pemetaan resiko dan potensi, kelompok perempuan sepakat untuk mengadakan pelatihan online marketing untuk meningkatkan kemampuan dan hasil penjualan.
Semangat untuk bangkit dari keterpurukan pandemic COVID-19 tergambar jelas dari jalannya pelatihan online marketing. Pelatihan online marketing diilaksanakan di Disaster Oasis pada tanggal 24 Oktober 2020. Walaupun dilaksanakan ditengah pandemic, peserta tidak kehilangan semangatnya. Setiap peserta menerapkan protocol kesehatan selama kegiatan berlangsung dan mengikuti pelatihan dengan baik.
Pelatihan difasilitasi oleh Bapak Yosua Budi R, SE., M.Hum., M.Pd. dari PT Mayora TBK. Fasilitator memberikan penjelasan yang sederhana dan mudah dimengerti tentang pemasaran dan kiat kiat pemasaran. Ibu Muryani, salah satu anggota kelompok perempuan berpendapat bahwa pemasaran dan penjualan merupakan dua hal yang berbeda. Pemasran mencakup aktivitas dan konsep yang lebih luas dari penjualan.
Dalam hal ini, beliau menyatakan bahwa pemasaran secara online sangat tepat untuk diterapkan karena 64% masyarakat Indonesia sudah memiliki akses terhadap informasi di internet dan menghabiskan sekitar 8 jam dalam sehari untuk menggunakan internet.
Dalam kesempatan yang sama, fasilitator berbagi cara membuat poster penjualan yang menarik dan marketplace utama yang sangat diminati baik penjual maupun pembeli. Ibu Siti Isnaini, anggota kelompok Tani Migunani memulai usaha penjualan minuman kolagen secara kolagen setelah mengikuti pelatihan online marketing ini. Beliau menggunakan strategi online marketing karena lebih menhemat waktu, tenaga, dan biaya transportasi dalam memasarkan produk melalui Whatsapp dan FB. Menurut beliau pelatihan online marketing dari YEU sudah memberikan teori dasar pemasaran namun beliau berharap bahwa sesi ilmu praktis pemasaran ditambah. Hal serupa juga dialami Ibu Lucy dari kelompok perempuan Gempita. Walaupun beliau sudah merintis usaha penjual produk makanan seperti kacang bawang, kacang mete, egg roll sejak 2015, beliau menyatakan bahwa dengan mengikuti pelatihan ini beliau mendapatkan banyak informasi tentang grup umkm dan langkah-langkah berjualaln di market palce. Saat ini beliau masih terus memasarkan produknyamelalui WA, FB dan IG karena lebih efektif daripada berjualan secara langsung.
Saat ini, setiap kelompk sedang membangun usaha kelompoknya seperti jamu tradisional, keripik sayur hasil budidaya mandiri, dan ikan lele dan sayuran akuaponik. Hasil usaha sudah mulai dipasarkan diwilayah sekitar dan masih membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk memperluas pasar dan memperbanyak hasil usaha.




