Berita

Masyarakat Sipil Nyatakan Kearifan Lokal sebagai Kekuatan Indonesia untuk Membangun Resiliensi Berkelanjutan yang Inklusif

6 Juni 2022

Organisasi Masyarakat Sipil Menyerukan Membangun Resiliensi Berkelanjutan Dari dan Untuk Masyarakat, melalui sebuah konferensi pers yang diselenggarakan pada 27 Mei 2022 pada pukul 09:00 WITA – selesai di Press Conference Room, Tanjung Benoa Hall 1st floor, BNDCC 2, Bali, Indonesia.

Mewakili Koalisi Masyarakat Sipil untuk GPDRR, para pembicara dalam konferensi pers tersebut adalah:

1) Avianto Amri, Chairperson, Indonesian Society for Disaster Management (MPBI/Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia)
2) M. Ali Yusuf, Chairperson, Humanitarian Forum Indonesia
3) Nanda Khoirunisa, Children and Youth Delegate, U-INSPIRE Indonesia
4) Arshinta, Direktur Pelayanan Kesehatan Masyarakat dan Kemanusiaan (PKMK) Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM)

Berikut adalah Siaran Pers:

Masyarakat Sipil Nyatakan Kearifan Lokal sebagai Kekuatan Indonesia untuk Membangun Resiliensi Berkelanjutan yang Inklusif

NUSA DUA, 27 Mei 2022 – Sebagai negara yang rawan mengalami bencana, Indonesia memiliki kearifan lokal yang menguatkan masyarakat sipil secara turun-temurun untuk membangun resiliensi berkelanjutan yang inklusif. Hal ini disampaikan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 dalam Konferensi Pers di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Jumat (27/5) hari ini.

“Resiliensi adalah bagian dari jati diri kita sebagai bangsa Indonesia, dan itu terbukti dalam berbagai pengalaman bencana, termasuk pandemi COVID-19. Maka, kami sangat yakin bahwa kearifan lokal merupakan modalitas yang harus terus dikembangkan, termasuk dalam penanganan pandemi,” ungkap Arshinta, Direktur Pemberdayaan Masyarakat dan Kemanusiaan, Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (YAKKUM) Emergency Unit.

Dari generasi ke generasi, kearifan lokal menjadi bekal masyarakat di tingkat komunitas untuk mengembangkan ketangguhan dalam situasi bencana, contohnya prinsip gotong royong. Warisan budaya ini selaras dengan konsep resiliensi berkelanjutan, yang diperkenalkan Presiden Joko Widodo dalam pembukaan GPDRR 2022, Rabu (25/5) lalu, dan diharapkan dapat diadopsi secara global.

Salah satu prioritas dalam membangun resiliensi berkelanjutan adalah memperkuat budaya siaga bencana yang antisipatif, responsif, dan adaptif menghadapi bencana. Prioritas ini perlu didorong dengan membawa hasil diskusi dan rekomendasi dari GPDRR 2022 sebagai komitmen bersama, khususnya demi mendukung Presidensi G20 Indonesia sepanjang 2022.

“Masyarakat sipil dapat berkontribusi dalam hal pengalaman dan pemikiran, untuk dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan berbasis-bukti sebagai bagian dari Presidensi G20 Indonesia,” papar Avianto Amri, Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI).

Sementara itu, pelibatan masyarakat sipil dalam pengurangan risiko bencana adalah mutlak, karena merekalah pihak yang kelak paling terdampak. Ini termasuk kelompokkelompok berisiko (at risk groups) di dalamnya seperti anak-anak, pemuda, perempuan, dan orang dengan disabilitas. Di sisi lain, masyarakat pulalah yang akan menjadi garda terdepan dalam aktivitas respon bencana.

“Aspirasi mereka harus didengar, direspon dan diserap untuk menjadi dasar perumusan kebijakan, sehingga mampu memunculkan inisiatif untuk membangun kemitraan dan kolaborasi dalam memperkuat ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana,” ujar M. Ali Yusuf, Ketua Humanitarian Forum Indonesia.

Hal ini senada dengan semangat Delegasi Anak dan Pemuda Indonesia untuk GPDRR 2022. Hari ini, dalam sesi tematik 12 bertajuk Cooperation Across Borders for Strengthened Capacity and Action (Target F), mereka membawa serta Pernyataan Anak-anak dan Pemuda Indonesia, yang menuntut “partisipasi inklusif untuk resiliensi berkelanjutan.”

“Dalam pernyataan tersebut, kami menyampaikan komitmen dan usaha proaktif yang dilakukan untuk meningkatkan resiliensi, antara lain dengan peningkatan sinergi dan kontribusi, dan advokasi dalam upaya pengurangan risiko bencana,” tutur Tinitis Rinowati, salah satu Delegasi Anak dan Pemuda Indonesia, yang juga bagian dari U-INSPIRE Indonesia.

Selain di ruang konferensi pers, suara masyarakat sipil hadir di GPDRR 2022 di berbagai arena. Salah satunya Rumah Resiliensi Indonesia, yang diresmikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy pada Senin (23/5) lalu. Sejumlah anggota Koalisi Masyarakat Sipil masih akan akan berbagi seputar membangun resiliensi di tingkat komunitas di panggung Rumah Resiliensi Indonesia hari ini dan esok. Ada Yayasan SHEEP Indonesia pada pukul 14.00 WITA siang
ini, disusul besok oleh U-INSPIRE Indonesia pada pukul 09.00 WITA dan Wahana Visi Indonesia pada pukul 09.30 WITA. Saksikan mereka secara langsung di Bali Collection, kawasan BNDCC, atau secara daring melalui siaran live streaming di kanal YouTube BNPB Indonesia (https://youtu.be/5SDsQ9_E3hM)

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:

Avianto Amri, Koordinator, Koalisi Masyarakat Sipil untuk GPDRR
+628552106610
avianto.amri@gmail.com

Puji Maharani, Komunikasi dan Media, MPBI
+6281291100355
pujimaharani@outlook.com

credit image: Jakarta Post – https://www.thejakartapost.com/front-row/2022/05/30/the-value-of-gotong-royong-for-disaster-relief.html
Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Tujuan dan Agenda Proyek SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action ...

Dalam situasi kebencanaan, risiko kekerasan berbasis gender (KBG) dan pelanggaran ...

Sultan (44 tahun), pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulawesi ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.