Cerita

Jerat yang Menyelamatkan

23 Desember 2020

“Saya salahsatu yang paling lama dirawat di Rumah Sakit Bob Bazar.Semua orang sudah pulang tapi saya dan pak Rudi masih saja bertahan. Untung kami masih diizinkan untuk ke Wisma Atlet walaupun harus bolak-balik rumah sakit. Kami ingin suasana yang berbeda. Hampir 1,5 bulan kami berada di rumah sakit.”

Cerita yang sama yang selalu saya dengar dari Ibu Nurhayati (37 tahun) dan Bapak Zul (43 tahun) dengan kedua anak mereka Rizki (11 tahun) dan Arza (8 tahun) setiap saya mengunjungi mereka. Hari ini adalah pertemuan saya yang ke-9 dengan keluarga ini sejak Bu Nur masih dirawat di Rumah Sakit Bob Bazar di Kecamatan Kalianda.

Saat tsunami terjadi, Bu Nur sedang di rumah bersama anak-anaknya. Saat itu, Pak Zul menjenguk temannya di RS Bob Bazar. Gelombang tsunami pertama masih memberikan kesempatan bagi Bu Nur untuk membantu anak-anak keluar dari rumah dan mengantarkan mereka ke seberang jalan menuju tempat yang lebih tinggi, namun karena gelap gulita, Bu Nur memutuskan untuk pulang ke rumah untuk mengambil senter yang diharapkan bisa membantu mereka berjalan ke gunung.

“ Semua orang sudah teriak lari-lari, tapi saya tidak sadar kalau itu tsunami. Tidak ada tanda-tanda seperti gempa bumi, air surut kaya yang selalu dibilang di TV itu. Saya bilang ‘sebentar nak, mak ambil senter dulu’”

Bu Nur masih berusaha menemukan senter dalam kegelapan sambil memikirkan anak-anaknya. Ia tidak pernah menyangka kalau gelombang kedua akan kembali menerjang. Gelombang kedua sangat berbeda, jauh lebih besar membawa lumpur dan puing-puing. Hantaman ombak menyeret Ibu Nur hingga 100 meter dari rumahnya.

“Digulung ombak mbak…, seperti sedang di mesin cuci, dibawa ke kiri ke kanan, pokoknya saya bergelut di dalam air, berusaha bertahan hingga air surut. Saya baru sadar ternyata rumah kami sudah rata dengan tanah. Saya hendak berlari tapi kaki saya dililitsangat kencang. Ditarik-tarik ga bisa, mau dibuka ga bisa juga. Tali itu warnanya hijau, ga tau apakah itu tali pancing atau jaring ikan. Tali itu yang menahan saya saat gelombang besar.”

Saya teriak minta tolong, namun tidak satu orangpun yang lewat. Akhirnya saya berusaha paksa tarik sendiri sampai tali itu putus. Tapi saya ga bisa jalan lagi.Saya merangkak sambil menyeret kaki kanan, saya mencari anak-anak dan juga masih takut ada ombak ketiga. Alhamdulillah ada tetangga naik motor, tadinya mereka sudah mengungsi di gunung tapi turun lagi ke bawah. Mereka yang menemukan saya di jalan, dan saya dibawa mengungsi ke gunung. Saya sudah telanjang mbak, darah berceceran dimana-mana dan kaki saya sangat sakit rasanya mau putus”

“Tim kesehatan turun menjelang subuh, syukurlah saya dibawa ke rumah sakit Bob Bazar. Dokter bilang kaki harus dicangkok dan kulitnya diambil dari paha untuk menutupi lubang di kaki saya yang terjerat…..”

Mereka sudah tidak memikirkan hal lain lagi, bantuan diberikan atau tidak sudah tidak diharapkan lagi. “Pokonya kami mikir sekarang semoga istri saya cepat sembuh” sambung Pak Zul. “Diluar sana, orang-orang semua ribut memperoleh bantuan ini dan itu, tapi kami tidak peduli”.

“Sampai kami pindah ke sini (Wisma Atlet) bantuan sudah habis, apa yang kami dapat di rumah sakit seperti baju dan kasur lantai itu yang kami bawa. Orang-orang sudah punya Kasur, box, kompor, selimut, pakaian, lemari dan lain sebagainya tapi kami sudah tidak kebagian lagi”.

“Pemberian rice-cooker, box, tikar, dan alat ini sangat membantu kami terutama saya yang harus masak untuk anak-anak dan istri.Kalau di rumah sakit kami masih dapat kupon makandari YEU, tapi sekarang dan di sini kami harus bisa mandiri”.

Meski haru dan sedih masih terasa saat mengingat kejadian itu, Ibu Nur tetap berusaha optimis untuk masa depan karena ia tidak sendiri. Lukanya perlahan mulai pulih, namun ia selalu ditemani Pak Zul dan kedua anaknya yang selalu menyemangati. Tawa dan tangis di setiap kunjungan menjadi energi bagi saya untuk terus melakukan yang terbaik dalam pelayanan dan semoga juga untuk keluarga Bu Nur. Doa saya untuk Bu Nur dan semua keluarga yang terdampak tsunami, semoga Tuhan selalu melindungi.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Sore itu, 4 Juni 2026, suasana di Aula Hotel Fajar, ...

Di balik senyumnya yang tenang, Mursal 43 tahun menyimpan kisah ...

Tidak bisa dipungkiri, saat memulai penulisan tentang laporan cerita baik ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.