Apa Kesamaan Caping, Petani Wanita, dan Irigasi Kabut?

16 November 2022

Di manapun di Indonesia, kita melihat para petani mengotori tangan mereka dengan pekerjaan kasar. Mereka membungkuk untuk menabur benih padi, dengan hati-hati menyiangi gulma, dan memanen berhektar-hektar lahan. Matahari adalah kawan mereka karena di malam hari, mereka tidak dapat bekerja. Namun demikian, kawan yang memberi kehidupan ini bisa jadi sangat kejam di siang hari. Oleh karena itu, para petani acap kali berlindung dari teriknya menggunakan topi caping.

Caping yang mudah dikenali dengan bentuknya yang runcing, meski bentuk-bentuk lain juga ada, biasanya terbuat dari lembaran-lembaran bambu. Untuk membuat caping yang bagus, seseorang perlu memilih pohon bambu dewasa, tapi tidak terlalu tua, dengan ruas-ruas yang panjang. Ruas-ruas tersebut kemudian dipotong, dibersihkan, dan dihaluskan. Menganyam bambu adalah suatu keahlian yang perlu dipelajari, seperti merajut. Jika anyaman tidak cukup rapat, air akan merembes ke kepala.

Dalam bahasa Indonesia, mereka yang mengenakan caping seperti itu dan bekerja di bidang pertanian disebut petani, suatu istilah netral-gender dengan makna serupa farmer dalam bahasa Inggris. Akan tetapi, istilah yang lebih banyak dipakai dalam keseharian kita, dan di sekolah-sekolah, adalah β€œPak Tani.” Memang ketika seorang siswa menunjuk pada wanita yang bekerja di ladang, tentu saja wajar dan tepat untuk memanggilnya β€œBu Tani.” Namun istilah yang digunakan untuk pria terdengar lebih familiar.

Menilai dari bagaimana suatu panggilan spesifik-gender dianggap lebih umum, kita dapat membuat suatu hipotesis bahwa laki-laki lebih diasosiasikan dengan pekerjaan kasar di bidang produksi pangan, seperti halnya pekerjaan tambang yang sangat diasosiasikan dengan laki-laki. Pekerjaan di sektor-sektor tersebut seringkali dibilang berisiko, melelahkan, dan tidak nyaman, sehingga membutuhkan orang-orang yang lebih tangguh. Perempuan mesti menghindari pekerjaan kasar seperti itu!

Apa yang tampak di Gunungkidul, di mana Kelompok Tani Ngudi Mulya mengembangkan ide irigasi kabut cerdas, bertolak belakang dengan gambaran tipikal tentang perempuan dalam pertanian. Masyarakat umum seringkali menggambarkan para istri dari petani-petani pria sebagai mereka yang datang saat waktunya makan siang untuk membawakan makanan bagi para pria yang kelelahan ini. Setidaknya, itulah yang peran-peran yang digambarkan di buku-buku pelajaran sekolah. Sementara di Kabupaten Gunungkidul, yang terkenal akan wilayah-wilayahnya yang kesulitan air, para perempuan berjaya.

Para petani perempuan tersebut, dengan sebagian dari mereka adalah lansia, mengambil air dari sumber-sumber yang jaraknya jauh. Mereka berjalan naik–turun perbukitan di Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut dengan beban pikul 25 kilogram di bahu mereka. Sulit bagi kita mengatakan bahwa itu adalah pekerjaan yang mudah. Para petani perempuan mengambil bagian yang signifikan dalam pertanian, dan mereka get their hands dirty, sama dengan para β€œPak Tani.”

Menyadari sulitnya mengairi lahan-lahan pertanian di Gunungkidul, masyarakat membuat sistem-sistem penyimpanan air. Para petani membeli air dengan harga mahalβ€”120.000 hingga 150.000 rupiah untuk satu tangki berisi 5 meter kubik airβ€”dari truk-truk air komersial untuk untuk disimpan di wadah-wadah dari terpal plastik. Sebagaimana bisa ditebak, cara perolehan seperti ini tak bisa diakses oleh semua orang. Mereka yang tidak mampu membayar biayanya mau tidak mau harus mencari air sendiri.

Kelangkaan air benar-benar adalah masalah yang berusaha diatasi Kelompok Tani Ngudi Mulya. Instalasi irigasi kabut Ngudi Mulya dipasang saat kemarau ketika hujan nyaris tidak ada. Area-area tangkapan air buatan adalah aset publik terbatas yang harus dibagi-bagi untuk kebutuhan desa-desa sekitar. Pembangunan pompa-pompa sumur dalam terlalu mahal untuk dijangkau masyarakat, sekalipun terdapat aliran-aliran deras air bersih dalam formasi-formasi karst di bawah kaki mereka.

Dengan adanya irigasi kabut, anggota kelompok tani dapat berbagi sumber daya yang terbatas sembari menghemat hingga 60% air dibandingkan sistem pengairan biasa. Melalui pendanaan yang diterima kelompok dari program Community-led Innovation Partnership (CLIP) IDEAKSI dari YAKKUM Emergency Unit, mereka dapat mengembangkan lebih lanjut (scale up) inovasi tersebut menjadi sistem cerdas (smart system). Selain panel-panel kendali, para petani lansia dibantu kaum muda dapat mengatur jadwal dan durasi kabut yang disemprotkan melalui pipa-pipa.

Kesejahteraan tanaman bukan satu-satunya manfaat dari irigasi kabut cerdas (smart mist irrigation) ini. Dengan memastikan keberlanjutan inovasi ini, kesejahteraan finansial masyarakat dapat ditingkatkan. Uang yang sebelumnya digunakan membeli air truk yang mahal kini dapat dipakai untuk hal-hal lain. Mereka dapat lebih memperhatikan pendidikan anak, membeli alat pertanian yang lebih baik, atau merenovasi rumah.

Karya Ngudi Mulya tak berhenti pada penghematan waktu, energi, dan uang bagi para petani anggotanya. Adanya sistem cerdas di ponsel berpotensi mengubah pandangan generasi muda akan pekerjaan bertani, meningkatkan minat dan partisipasi mereka di pertanian. Para lansia jelas terbantu dengan menghilangkan keharusan membeli air atau memikul air di jalur-jalur yang curam dan licin. Pertanian juga menjadi lebih aksesibel bagi difabel. Pendeknya, irigasi tersebut adalah suatu sistem yang berpotensi membantu menyelesaikan bermacam isu sekaligus.

Jadi, apa kesamaan caping, petani wanita, dan irigasi kabut? Semuanya adalah bukti dari kearifan lokal yang nyata. Bambu adalah bahan yang melimpah dan ramah lingkungan. Selain melindungi para warga di hari-hari paling terik dan menaungi di kala hujan, caping anyaman bambu tidak mengotori lingkungan tempat penghidupan mereka berasal.

Para perempuan ambil bagian dalam pertanian di wilayah tersebut, tanpa perlu kuota afirmasi yang sering kita dorong dalam pembuatan kebijakan saat ini. Untuk lahan milik keluarga-keluarga dengan irigasi kabut ini, para perempuanlah yang menentukan varietas tanaman yang hendak dibudidayakan. Dalam hal ini, para perempuan telah berdaya dalam latar kultural mereka sebagai masyarakat agraris tradisional.

Irigasi kabut cerdas adalah suatu sentuhan kemajuan modern untuk solusi yang sesuai dengan konteks masyarakat dan lingkungan berupa sistem irigasi hemat air. Sistem ini mencerminkan kemampuan warga lokal dalam memecahkan masalah. Kelompok Tani Ngudi Mulya dan inovasinya membuktikan ketangguhan masyarakat dalam adaptasi iklim sembari berjuang mengakomodasi semua orang di roda perekonomian lokal.

—–

Ngudi Mulya adalah satu kelompok petani dari Padukuhan Ngoro-oro di Desa Giriasih, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kelompok ini adalah salah satu tim inovator untuk Community-led Innovation Partnership (CLIP) dalam program IDEAKSI (Ide Inovasi Aksi Inklusi). Program yang diselenggarakan oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU) ini ditujukan untuk mendukung para inovator lokal dalam mengembangkan solusi-solusi untuk beragam masalah dan tantangan yang dihadapi dalam respons kegawatdaruratan dan kesiapsiagaan bencana untuk mengatasi tembok-tembok penghalang, meningkatkan efektivitas PRB, dan mendorong keterlibatan kelompok-kelompok paling berisiko dalam proses koordinasi dan pengambilan keputusan terkait penanggulangan bencana.

Artikel ini adalah refleksi singkat untuk kunjungan lapangan mahasiswa-mahasiswi International Undergraduate Program (IUP) Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Para mahasiswa berjumpa dengan petani-petani Ngudi Mulya dipimpin oleh Dr. Pradytia Pertiwi, pengampu kelas Psikologi Bencana dan Krisis. Dr. Pertiwi tidaklah asing bagi YAKKUM Emergency Unit. Beliau sebelumnya menjadi evaluator eksternal untuk program CLIP. Dengan demikian, kolaborasi yang terjalin dalam mempelajari lokalisasi dalam PRB terus berlangsung.

Dalam kunjungan lapangan pada hari Jumat, 21 Oktober 2022, para petani membagikan kisah-kisah mereka yang berujung pada pengembangan sistem irigasi kabut cerdas. Mereka menunjukkan bahwa inovasi ini adalah solusi yang layak dikerjakan dalam konteks lokal mereka.

Ditulis oleh: Lorenzo Fellycyano

Related News

Read Also Similar Stories

Program SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action Through Cluster Mechanism/Penguatan ...

Kini, ia tidak lagi ragu menyuarakan pendapat ... Ia merasa ...

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

YEU's Programmes & Events Publications

YEU publications provide comprehensive information about journeys, achievements, and activities that strengthen community resilience.