Tidak banyak yang berubah dari keseharian Mugiyem di masa pandemi ini. Rutinitasnya tetap sama dimulai dari bertani di kebun maupun memberi pakan untuk kambing yang ia pelihara dari program Mendo Manunggal, salah satu program gereja setempat untuk meningkatkan ekonomi jemaat dengan sistem gaduh kambing. Kebun yang letaknya sekitar 1 km dari rumahnya ia tanami jagung. Mugiyem tidak putus asa meski beberapa waktu lalu singkong dan padi gagal dipanen dan saat ditanami kacangpun, tanamannya habis dirusak maupun dimakan monyet.
Meski demikian, belakangan ini lututnya sering terasa nyeri bahkan terkadang sulit ditekuk dan ada kalanya ia tidak bisa pergi ke kebun. Untuk berobatpun tidak mudah, selain keterbatasan dana untuk berobat maupun transportasi, ia juga khawatir jika pergi ke Puskesmas mengingat saat ini merebak virus corona sehingga ia memilih pengobatan di rumah saja.
Mugiyem yang awal Juli lalu telah menginjak usia 76 tahun, tinggal berdua dengan Suryani, anak semata wayangnya yang memiliki down syndrom. Di usianya yang ke-30 tahun Suryani tidak bisa membantu Mugiyem di kebun. Ia lebih banyak berkegiatan di rumah, menonton video, menyapu maupun mencuci baju. Baginya, kebersihan dan kerapian baju yang ia pakai adalah yang paling penting.
“Setiap hari saya berdoa pada Tuhan supaya tidak pernah dibiarkan sendirian. Apapun saya syukuri termasuk lutut saya yang sakit ini, saya syukuri,” ujarnya ketika Tim YAKKUM Emergency Unit (YEU) menemui Mugiyem siang itu. Ia teringat beberapa tahun lalu, atap rumahnya sempat runtuh. Beruntung tidak ada yang terluka. Mugiyem kebingungan dan berpikir bagaimana ia bisa memperbaiki atap rumah ini sementara ia tidak memiliki cukup uang. Namun beberapa waktu kemudian, warga sekitar dan donatur dari gereja yang mendengar kejadian ini berjibaku membantu dan memperbaiki atap rumahnya bahkan juga merenovasi dinding rumahnya yang retak.
Mugiyem bercerita pada akhir Mei lalu ada relawan yang mendata jemaat gereja yang terdampak covid-19 dan memerlukan bantuan non-tunai. Mugiyem mengaku belum mendapat bantuan dari manapun saat itu. Pada Juni-Juli, Mugiyem dua kali didatangi petugas dari Kantor Pos yang mengantarkan bantuan berupa uang sebesar Rp. 600.000. Bantuan non-tunai tersebut merupakan program yang didukung YEU bekerja sama dengan gereja setempat. Bantuan non-tunai diperuntukan bagi keluarga terdampak covid-19 yang kurang mampu dan rentan misalnya seperti keluarga dengan kepala keluarga perempuan, keluarga dengan anggota keluarga disabilitas, lansia maupun yang memiliki penyakit kronis, juga keluarga yang memiliki tanggungan lebih dari 4 orang. Pendistribusian bantuan non-tunai dilakukan oleh petugas Kantor Pos kecamatan yang mendatangi langsung rumah-rumah penerima bantuan. Mugiyem mengaku senang tidak harus datang ke kantor pos untuk mengambil uang apalagi kegiatannya juga lebih banyak di rumah sehingga petugas pos tidak menemui kendala saat mengantarkan bantuan.
“Uang itu saya gunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti bumbu secukupnya, pakaian untuk anak saya. Sebelum saya mendapat bantuan, ya saya usaha bagaimana caranya supaya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari tapi dengan bantuan ini saya terbantu. Apalagi lutut saya ini sakit, kadang tidak bisa ditekuk. Saya gunakan juga untuk suntik lutut,” katanya.
Mugiyem adalah salah satu dari 150 keluarga yang menerima manfaat bantuan non tunai di masa pandemi ini. Pandemi COVID-19 memang membawa dampak bagi seluruh lapisan masyarakat. Meski demikian, dampak itu tidak bisa digeneralisir karena satu dan yang lain tentu memiliki pengalaman dan menghadapi hal yang berbeda. Karena itu, dukungan-dukungan dalam rangka merespons dampak covid-19 perlu mempertimbangkan kebutuhan yang berbeda untuk setiap orang. Hal ini dilakukan sekaligus sebagai upaya saling dukung dan meyakinkan bahwa kita—mengutip kata dan harapan Ibu Mugiyem “tidak akan dibiarkan (menanggung) sendirian”.
Cerita ini juga dimuat di Human Impact Story, July 2020 https://actalliance.org/act-news/making-a-difference-during-covid-19/