Cerita

Cerita Dari Kupang

28 Desember 2021

DUKUNGAN PADA SITUASI SULIT

Lansia yang dalam keadaan normal mengatur hidupnya sendiri dengan sangat baik kemudian ditengah kenyamanannya ia terdampak bencana alam dan sangat membutuhkan pertolongan. Seperti Ibu Ruth Hekneno, lansia berusia 74 tahun yang tinggal di Pulau Timor yang terkena dampak badai siklon tropis Seroja pada April 2021.

Tengah malam pada hari Minggu, 4 April 2021, badai siklon tropis Seroja memicu bencana banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang di beberapa lokasi di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Hujan deras menyebabkan banjir bandang dan tanah longsor yang fatal di 18 kabupaten, termasuk Kota Kupang di pulau Timor tempat Ibu Ruth Hekneno tinggal. Bencana itu merusak rumah dan atapnya.


Hidup dengan cara mandiri sebelumnya

Ibu Hekneno adalah penenun tradisional, pekerjaan umum bagi orang tua di wilayah tersebut. Dia membeli bahan baku, termasuk zat pewarna, untuk membuat kain tenun. Sebagai alternatif pewarna kimia, ia menggunakan buah mengkudu sebagai pewarna organik.

Dia tinggal sendirian di rumahnya di Desa Tunbaun. Suaminya meninggal pada tahun 2005. Anak perempuan satu-satunya sudah menikah dan memiliki empat orang anak. Rumah putrinya berjarak sekitar satu kilometer dari rumahnya sehingga dan putrinya sering mengunjunginya. Cucu-cucunya juga sering membawakan kayu bakar dan air untuknya memasak. Kunjungan mereka selalu membuat Bu Hekneno semangat. Dia hidup secara mandiri. Ia menanam tanaman jagung, singkong dan kacang tanah di tanahnya untuk konsumsi sendiri.


Konsekuensi fisik dan mental yang serius

Ketika badai melanda daerahnya, Bu Hekneno sedang duduk di terasnya. Ia melihat angin menumbangkan dahan pohon dan menerbangkan atap-atap rumah warga. Dia mencari perlindungan di rumah tetangganya. Ini adalah pengalaman pertamanya mengalami bencana Badai siklon tropis Seroja dan membuatnya trauma. Dia bersyukur bahwa dia masih hidup. Namun karena rumahnya rusak, dia khawatir tentang bagaimana dan kapan harus memperbaikinya.

Setelah peristiwa badai tersebut, tubuhnya menjadi lemah dan dia kehilangan minat untuk melakukan pekerjaannya sehari-hari. Selama dua bulan, dia kurang produktif dibandingkan sebelum bencana. Namun sekarang dia merasa lebih baik dan termotivasi untuk pulih.


Makanan dan tempat tinggal untuk dukungan tepat waktu

Pada tanggal 28 Mei 2021 Ibu Hekneno menerima paket sembako dari YAKKUM Emergency Unit (YEU) dan ACT Alliance yang terdiri dari beras, minyak goreng, telur, gula, teh bungkus, garam, dan kecap. Dia mengatakan bahwa lima kilo beras yang dia terima akan bertahan selama satu bulan karena dia tinggal sendirian. Bila dia tidak memasak nasi, dia akan memasak jagung atau tanaman lain dari kebunnya, sehingga beras yang ia miliki dapat bertahan lebih lama. Ia bersyukur telah menerima paket sembako dari YEU dan ACT Alliance, karena paket tersebut tersebut sesuai dengan kebutuhan makannya sehari-hari. Dia mengatakan bahwa bantuan itu cukup baginya dan bahwa setiap bantuan yang dia terima adalah berkah dari Tuhan.

YEU, anggota ACT Alliance memiliki dua program di daerah Ibu Hekneno: distribusi paket sembako dan distribusi terpal, selimut dan tikar. Pada minggu ketiga bulan Juni, ia menerima paket tersebut. Sekarang dia dapat bekerja membangun kembali rumahnya, membantu mengembalikan hidupnya seperti sebelum terjadi badai.

Melly Sabina Ester Lengkong, YEU

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Tujuan dan Agenda Proyek SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action ...

Dalam situasi kebencanaan, risiko kekerasan berbasis gender (KBG) dan pelanggaran ...

Sultan (44 tahun), pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulawesi ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.