Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Tiba-tiba saja bumi bergerak kemudian bangunan runtuh. Orang-orang berhamburan keluar rumah untuk mencari selamat. Mereka tahu, gempa bumi dahsyat telah terjadi. Malang, Ibu Ratijah (39), tak sempat menyelamatkan diri. Saat gempa terjadi, ia sedang berada di kamar mandi. Bu Ratijah sempat keluar kamar mandi, ingin keluar rumah menyelamatkan diri, tapi ia sadar bahwa pakaiannya terbuka. Sesegera mungkin ia kembali ke kamar mandi, hendak mengambil handuk. Tapi apa nyana, nasib berkata lain. Rumah kediaman Bu Ratijah keburu roboh. Menimpa kakinya. Ia tak bisa bergerak, kecuali hanya berteriak minta tolong.
“Ketika gempa terjadi, saya sempat lari keluar kamar mandi. Baru sadar ternyata saya sudah tak memakai baju. Mau balik ke kamar mandi untuk ambil handuk sudah tidak bisa karena saya sudah terlempar ke dinding dan kaki saya tertindih reruntuhan bangunan,” demikian pengakuan bu Ratijah Sambil menahan sakit.
Bagaimana Bu Ratijah bisa selamat? Di rumah itu dia tak hanya seorang diri, masih ada suami dan anak-anaknya. Tapi mereka sudah lebih dulu menyelamatkan diri keluar. Panik dan tidak sempat berpikir dan yang penting menyelamatkan diri. Maka secepat kilat mereka meloncat keluar. Sesampainya di luar rumah, suami baru ingat, bahwa di dalam masih ada istrinya.
Setelah memastikan anggota keluarga lainnya aman di halaman, suami Bu Ratijah kembali masuk ke dalam. Rumahnya sudah tidak utuh dalam hitungan detik. Dilihatnya di dalam rumah yang roboh itu, istrinya kesakitan. Kakinya tertimpa bangunan yang jatuh.
“Rumah berguncang keras. Saya ingat istri saya masih ada di kamar mandi, namun saya keluar untuk menyelamatkan diri. Dinding-dinding berjatuhan. Saat sedikit tenang, saya memberanikan diri untuk masuk lagi ke dalam mencari istri saya. Pokoknya istri saya harus selamat,” begitu ucap suami Bu Ratijah. Ia masih ingat betul peristiwa menyedihkan itu.
Sudah cukup perjuangan mereka menyelamatkan diri dari gempa? Belum. Gempa bumi yang terjadi di Palu, Donggala dan Sigi pada hari Jumat, 28 September lalu mengakibatkan kerusakan yang begitu parah. Seusai gempa, gelombang tsunami menyusul di daerah pesisir. Saking parahnya, bahkan kapal sampai terhempas ke daratan. Gelombang tsunami menghantam apa saja yang dilalui; rumah, perkantoran, maupun pertokoan, semua habis diterjang gelombang. Ribuan nyawa dalam bahaya.
Selesai sampai di situ? Belum. Di beberapa wilayah, tanah tiba-tiba saja berubah seperti lumpur. Seketika satu komplek perumahan tenggelam ditelan bumi. Tak tergambarkan dengan kata-kata kepanikan berubah menjadi pemandangan mengerikan saat itu.
Bu Ratijah dan keluarga tak hanya berhenti di halaman rumah. Sekuat tenaga mereka dan juga warga yang lain berlari ke dataran tinggi. Mereka khawatir tsunami atau likuifaksi dapat terjadi di dekat mereka. Maka apapun yang terjadi, jiwa harus diselamatkan dulu. Bu Ratijah tak henti merintih. Kesakitan luar biasa dirasakan pada kakinya. “Saya sering menangis. Sepanjang malam rasa sakit di kaki saya rasakan.” ujar bu Ratijah.
Pagi hari, Bu Ratijah, suami, dan warga yang menyelamatkan diri di dataran tinggi membuat tenda seadanya di pinggir jalan Petobo – Kawatuna. Mereka berharap ada bantuan datang baik dari pemerintah maupun relawan. Sementara itu, suami Ibu Ratijah kembali ke bawah, melihat kondisi rumah. Siapa tahu masih ada barang-barang yang bisa diselamatkan dan digunakan.
Pengakuan suami Ibu Ratijah, 80% kondisi rumah sudah tidak dapat lagi digunakan. Rusak parah dengan reruntuhan di mana-mana. Sementara itu di tempat pengungsian, bantuan baru tiba setelah beberapa hari. Kaki Ibu Ratijah baru bisa mendapatkan pemeriksaan selayaknya. Diagnosa awal luka terjadi akibat tulang retak atau bahkan patah. Oleh relawan kesehatan, Ibu Ratijah diminta untuk ke rumah sakit. Tapi bu Ratijah enggan karena takut.
“Saya tidak mau ke rumah sakit. Nanti dioperasi. Nanti menginap lama. Saya takut,” ekspresi wajah Ibu Ratijah mengisyaratkan ketakutan teramat sangat.
Gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi tidak hanya menyisakan luka fisik yang mendalam bagi Ibu Ratijah, suami dan ribuan penyintas lainnya, namun juga pengalaman kedukaan yang mendalam. Mereka semua punya harapan yang sama, dapat hidup normal kembali. Dan untuk mewujudkannya tentu saja membutuhkan bantuan dan uluran tangan dari semua pihak yang peduli.
(Cerita ditulis oleh: Fikri Firmansyah and Ardian Sigit dari YEU)