Saat musim kemarau panjang dan kekeringan melanda, Mbok Jum, seorang lansia di Gunungkidul harus berjalan mencari air atau mengantri giliran air PAM. Kondisi ini mendorong warga mencari solusi bersama.
Suara azan berkumandang, aku bergegas bangun lalu mengambil air wudhu untuk menjalankan kewajibanku kepada Sang Pencipta. Selesai salat, aku segera pergi ke pasar buat belanja sayur dan lauk untuk bikin sarapan dan bekal anak serta suami. Kebetulan stok di rumah habis. Aku bergegas agar tak kesiangan.
Pasar yang berjarak sekitar satu kilometer dari rumah itu bernama Pasar Gojo. Letaknya persis di depan Sekolah Dasar Negeri Gajasari dan berdekatan dengan Kalurahan Kedungpoh. Pengelolaannya berada di bawah pemerintah kalurahan. Pasar Gojo tak seberapa luas tapi mampu menampung puluhan pedagang.
Hari masih gelap, tetapi hiruk pikuk pasar sudah terdengar riuh oleh suara para pedagang yang menawarkan berbagai barang dagangan mereka. Mulai dari jajanan pasar, sayur, lauk hingga perabot.
Dari sudut pasar, sayup-sayup aku mendengar suara yang tidak asing lagi di telingaku. Makin mendekat makin jelas suaranya. Suara khas dan juga tawa renyah yang sering melontarkan guyonan-guyonan yang mengundang tawa menggelegar seisi pasar, dialah Mbok Jum.
Dari dekat kudengar obrolan juga candaan yang berujung curahan hati. Mbok Jum mengutarakan isi hati dan keluh kesahnya tentang musim kemarau yang tidak kunjung usai.
“Oalah Yu, gek kapan arep enek udan? wis pirang-pirang dino banyu PAM ora mili, arep adus boro-boro, raup wae ora enek banyu. (Oalah yu, kapan ya musim hujan datang? Sudah berhari-hari air PAM tidak mengalir, Jangankan mandi sekadar cuci muka saja tidak ada air),” keluh Mbok Jum.
“Podho Mbah, gonaku yo ora mili, banyu dinggo rebutan. (Sama Mbah, di tempatku juga tidak mengalir, air jadi rebutan),” sahut Yu Ratni.
Obrolan demi obrolan terus berlanjut dan saling sahut-sahutan, tidak hanya dua orang tetapi mereka yang mendengar ikut menyahut. Ternyata masalah kelangkaan air bersih tak hanya dirasakan Mbok Jum dan Yu Ratni saja, tetapi hampir semua pengunjung dan pedagang pasar mengalami hal yang sama.
Air merupakan kebutuhan pokok sehari-hari. Tetapi karena kemarau yang sangat panjang, hingga hujan tak kunjung datang maka air menjadi masalah baru selain masalah yang sudah ada sebelumnya. Seperti masalah kebutuhan pokok lain yang makin mencekik kantong. Air menjadi masalah utama bagi perempuan-perempuan di desaku.
Desa Kedungpoh terletak di jalan Nglipar, Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta. Daerah ini berada di pegunungan karst dan kerap kekeringan saat musim kemarau. Tanah terlihat tandus dan gersang hingga retak-retak. Rerumputan mengering, begitu juga sumber mata air.
Mbok Jum seorang lansia yang sudah menginjak usia 80 tahun, tetapi fisiknya tidak kalah dengan perempuan usia produktif. Ia masih melakukan aktivitas sehari-hari dengan berjualan kelapa, empon-empon dan hasil kebun atau sawah.
Dengan berjualan, Mbok Jum mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Ia hidup berdua saja bersama anak perempuan dengan disabilitas intelektual di rumah yang sangat sederhana. Saat kondisi emosional anak perempuannya sedang tidak stabil, Mbok Jum sering dibentak atau dipukul. Namun Mbok Jum tak sedikit pun mengeluh, malah terlihat seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sebelum berangkat ke pasar ia harus mengambil air dari sumur warga yang jaraknya agak jauh dari rumahnya. Dengan tubuh rentanya, ia menggendong tempat air dan berjalan menyusuri kesunyian pagi yang masih gelap untuk bisa memenuhi kebutuhan air.
Jarak dari rumah Mbok Jum ke sumber mata air kurang lebih 500 meter. Medan yang berbukit-bukit membuat nafas Mbok Jum terengah-engah. Ia harus mengambil setidaknya tiga kali bolak-balik menggunakan tempat air dari tanah.
Sudut bibirku tersungging, aku kagum dan salut atas kegigihan dan perjuangan Mbok Jum. Usianya sudah senja, seharusnya ia tinggal menikmati masa tuanya, tetapi ia masih harus berjuang melawan kerasnya hidup.
“Arak menyang pasar iki mau aku wis bar usung-usung banyu dinggo adus karo masak. (Sebelum berangkat ke pasar tadi aku sudah mengambil air untuk keperluan mandi dan memasak),” ucap Mbok Jum.
“Gusti Mbah, nopo mboten sayah? (Ya Allah Mbah, apa tidak capek?),” Yu Narti tersentak mendengar ucapan Mbok Jum sambil memilih-milih dagangan yang akan dibeli.
“Jane yo sayah, tapi kepiye maneh, wong ora enek banyu. Jagake banyu PAM kudu nunggu rong dino lagi oleh giliran. (Sebenarnya capek tetapi mau bagaimana lagi, kan tidak ada air. Kalau mengandalkan PAM harus menunggu giliran dua hari lagi baru mengalir),” hela nafas Mbok Jum dengan nada pasrah dan memelas.
“Opo wingi ora oleh bantuan, dropping banyu seko pemerintah mbah? (Apa kemarin tidak dapat bantuan dropping air dari pemerintah Mbah?),” tanya Lik Poniyem.
“Tiwas ngantri ora uman, oleh sek gunake lan sek butuh. (Sudah antri tetapi tidak kebagian, sudah gitu banyak yang menggunakan dan juga butuh,” jawab Mbok Jum.
“Mugo-mugo wae gek cepet udan maneh yo Mbok, ben ora tambah rekoso anggone golek banyu. (Semoga saja cepat datang hujan ya Mbok, biar tidak makin susah cari air),” sahut pengunjung lain.
Dan mereka pun bersama-sama mengaminkan doa tersebut.
Jumlah lansia yang ada di Kalurahan Kedungpoh hampir mencapai sepertiga dari jumlah penduduk keseluruhan. Sementara jumlah disabilitas ada enam persen dari total warga. Mereka menjadi kelompok warga yang rentan ketika musim kemarau lebih panjang dan kekeringan melanda.
Musim kemarau hampir selalu menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian masyarakat di Kalurahan Kedungpoh. Ketika hujan mulai jarang turun dan sumber-sumber air mengalami penurunan debit, kebutuhan masyarakat atas air bersih menjadi persoalan yang harus mendapatkan perhatian bersama.
Kondisi tersebut menumbuhkan keprihatinan dari para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna. Bagi para pemuda, persoalan air bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kepedulian, gotong royong, serta keterlibatan seluruh unsur masyarakat
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Karang Taruna kemudian berkoordinasi dan berdiskusi bersama tokoh masyarakat, Ketua RT, RW, PKK, Dukuh, serta unsur masyarakat lainnya. Melalui musyawarah dan mufakat, muncul gagasan untuk mengupayakan penyediaan sumber air secara mandiri dengan membuat sumur bor. Harapannya ini bisa jadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, terutama saat musim kemarau.
Setelah kesepakatan diperoleh, langkah selanjutnya adalah berupaya mencari dukungan dan donasi. Karang Taruna bersama tokoh masyarakat membuka komunikasi dengan berbagai pihak, baik instansi, lembaga, maupun donatur perseorangan dan tokoh masyarakat yang punya kepedulian terhadap kondisi masyarakat.
Semangat yang dibangun bukan semata-mata mencari bantuan, melainkan mengajak berbagai pihak bersama-sama mengambil bagian dalam mengatasi persoalan yang dirasakan masyarakat.
Upaya pembuatan sumur bor akhirnya dapat dilaksanakan. Namun, setelah sumber air tersebut dimanfaatkan, ternyata debit air yang dihasilkan belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh masyarakat. Kondisi ini menjadi tantangan berikutnya yang harus dihadapi bersama.
Karang Taruna tidak berhenti pada upaya tersebut. Bersama Pemerintah Kalurahan Kedungpoh, mereka berkoordinasi dan berkomunikasi lebih lanjut untuk mencari solusi tambahan berupa bantuan air bersih. Berbagai pihak kemudian dihubungi, mulai dari BPBD, anggota DPRD, perbankan, organisasi, lembaga sosial, hingga pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap kebutuhan air bersih masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan dengan semangat bahwa menghadapi kekeringan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan sinergi antara pemuda, tokoh masyarakat, pemerintah kalurahan, lembaga masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian.
Upaya yang dilakukan Karang Taruna bersama masyarakat Kedungpoh merupakan bentuk nyata kepedulian sosial dan semangat gotong royong. Dari sebuah keprihatinan, lahir musyawarah dan dari musyawarah lahir tindakan. Lewat tindakan tersebut, terbentuk sebuah gerakan bersama untuk membantu masyarakat menghadapi krisis air.
Semangat ini menjadi bukti bahwa pemuda bukan hanya generasi penerus, tetapi juga bagian penting dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat hari ini. Dengan kebersamaan, kepedulian, dan komunikasi yang baik antara Karang Taruna, tokoh masyarakat, PKK, Ketua RT/RW, Dukuh, pemerintah Kalurahan Kedungpoh, diharapkan persoalan kekeringan dapat dihadapi bersama dan berkelanjutan.
Mbok Jum pun bisa merasakan manfaat dari inisiatif dan kerja sama warga tersebut. Ia mengumpulkan galon-galon, ember, baskom, serta bak penampungan air di rumahnya sedikit demi sedikit diisi air untuk persediaan. Jadi Mbok Jum tidak perlu berjalan jauh mengambil air setiap hari atau menunggu giliran mengisi air, sehingga bisa fokus dengan pekerjaannya berjualan.
Dari sini aku bisa melihat, ternyata suara-suara kecil itu bisa didengar dan bisa membuat perubahan di masyarakat. Karena ketika air menjadi persoalan bersama, maka kepedulian dan gotong royong juga harus menjadi solusi bersama.
Ria Yamawati Prastiwi
Bekerja sebagai ibu rumah tangga dan sehari-hari aktif di PKK Kedungpoh, Nglipar, Gunungkidul, Yogyakarta.