Cerita

Di Tengah Risiko Bencana, Boim dan Tim Siaga Gereja Membangun Gereja Tangguh Bencana

17 September 2026

Melayani Melalui Kesiapsiagaan

Bagi Miskiran Boim, atau yang akrab disapa Boim, pelayanan kepada masyarakat bukanlah hal baru. Di usia 41 tahun, ia telah aktif lebih dari 10 tahun di Satuan Kerja (Satker) Diakonia Klasis Kulon Progo yang bergerak dalam berbagai pelayanan sosial, termasuk penanggulangan bencana. Di tengah ancaman kekeringan, banjir, angin kencang, hingga cuaca ekstrem yang kerap melanda Kulon Progo, Boim melihat Tim Siaga Gereja menjadi cara bagi gereja untuk hadir lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. 

Semangat gotong royong bukanlah hal baru di Kalurahan Ngentakrejo. Setiap kali bencana terjadi, para relawan akan segera berdatangan untuk merespons. Namun, menurut Boim, saat itu respons bencana masih berjalan berdasarkan inisiatif masing-masing. “Saat itu, kami belum punya tata prosedur. Ketika ada bencana, ya relawan-relawan itu yang langsung terjun. Siapa yang bisa membantu, itulah yang datang,” tuturnya. Belum ada pembagian peran, mekanisme koordinasi, maupun pemetaan kebutuhan yang jelas. Meski semangat melayani sudah ada, gereja belum memiliki wadah khusus yang mampu mengorganisasi respons kebencanaan secara lebih terarah.

Melalui Program SIAGA, GKJ (Gereja Kristen Jawa) Ngentakrejo mulai membangun fondasi baru dalam pelayanan kebencanaan dengan membentuk Tim Siaga Gereja, sebuah wadah bagi gereja yang berfokus pada upaya kesiapsiagaan dan penanganan bencana.

Bagi Boim, kehadiran Tim Siaga Gereja mengubah cara gereja hadir di tengah masyarakat. “Gereja itu punya wujud pelayanan yang banyak rupa, dan salah satunya diwujudkan dalam Tim Siaga Gereja,” ujarnya.

Foto 1. Boim (kiri) mempresentasikan hasil pemetaan risiko bencana wilayah Ngentakrejo

Pengalaman mengikuti berbagai pelatihan membuat Boim melihat kebencanaan dari sudut pandang yang berbeda. Jika sebelumnya ia dan relawan lain langsung turun ketika ada kejadian, kini mereka juga belajar mengenali ancaman, memetakan kapasitas, dan menyiapkan langkah yang perlu dilakukan sebelum bencana terjadi. 

“Setelah berlatih, kami bisa bersama-sama belajar memetakan ancaman bencana, kapasitas yang kami punya, dan apa yang bisa dipersiapkan untuk penanggulangan, kesiapsiagaan, maupun antisipasi bencana,” tambahnya.

Perlahan, kesiapsiagaan tidak lagi dipandang sebagai respons setelah bencana terjadi, tetapi menjadi bagian dari pelayanan gereja kepada jemaat dan masyarakat. Tim Siaga Gereja juga mulai memiliki sistem kerja yang lebih jelas, mulai dari pembagian peran hingga mekanisme koordinasi saat kondisi darurat.

Bertumbuh Menuju Gereja yang Semakin Tangguh Bencana 

Sistem yang kini dimiliki Tim Siaga Gereja mulai benar-benar terasa manfaatnya saat bencana terjadi. Ketika terjadi pohon tumbang, Boim dan rekan-rekannya tidak lagi sekadar datang ke lokasi. Mereka mengidentifikasi kebutuhan, mengoordinasikan tenaga yang diperlukan, dan memastikan peralatan pendukung tersedia sehingga respons dapat dilakukan dengan lebih cepat dan terarah.

Pengalaman serupa juga dijalankan saat sebagian wilayah Ngentakrejo mengalami kekeringan. Bersama Tim Siaga Gereja, Boim berkoordinasi dengan Satuan Kerja Diakonia Klasis Kulon Progo dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengajukan bantuan air bersih bagi wilayah terdampak, terutama kawasan perbukitan seperti Bendo, Pereng, dan Temben. Dukungan bank logistik dari BPBD turut memperkuat kapasitas tim dalam menghadapi berbagai situasi darurat.

Meski demikian, di balik sistem yang kini semakin terbangun, ada komitmen yang terus diuji. Menjadi anggota Tim Siaga Gereja, kata Boim, berarti siap hadir kapan pun bencana terjadi. Baginya, “kalau jiwa sudah relawan pasti meronta. Apa yang bisa kita lakukan dan bagaimanapun caranya, kita tetap harus ke sana.” 

Foto 2. Boim (tengah) bersama komunitas dalam pelatihan pembuatan pakan ternak fermentasi dan arang sekam.

Ke depan, Boim berharap Tim Siaga Gereja GKJ Ngentakrejo dapat terus memperkuat kapasitas anggotanya, mengembangkan bank logistik, serta memperluas kolaborasi dengan berbagai pihak. Baginya, membangun gereja yang tangguh bencana bukan hanya tentang kesiapan menghadapi situasi darurat, tetapi juga menjaga semangat pengabdian agar gereja terus hadir dan bertumbuh bersama masyarakat.

“Tim Siaga Gereja adalah bentuk pengabdian. Siapapun boleh tergabung dan memiliki peran,” tutup Boim.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Pada 18 Agustus 2026, tim YAKKUM Emergency Unit (YEU) tiba ...

“Anak-anak Sekolah Minggu perlu belajar tentang bencana sejak dini. Ketika ...

Foto 1: Presentasi mengenai bagaimana menganalisa data dari fasilitator BMKG, ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.