Di bawah atap meunasah (tempat ibadah) di Pante Baro Kumbang, pagi itu terasa lebih ramai dari biasanya. Ratusan warga berkumpul, menunggu giliran menerima bantuan. Di antara antrean panjang itu, Umar* (8) dan Zikri* (5) duduk berdampingan, kaki mereka bergoyang pelan, sesekali menengok ke arah pintu masuk.
“Lama ya,” bisik Zikri, setengah mengeluh.
Umar hanya mengangguk, lalu kembali sibuk dengan selembar kertas di tangannya.
Dengan pensil yang mulai tumpul, mereka menggambar rumah—dinding, atap, dan pintu—sesederhana yang mereka ingat. Kadang mereka tertawa sendiri, saling menunjukkan hasil gambar, seolah dunia di sekitar mereka tidak sedang dalam masa pemulihan.
Padahal, beberapa waktu lalu, rumah mereka sempat terendam. Lumpur masuk hingga ke dalam, meninggalkan dinding yang lembap dan bau yang belum sepenuhnya hilang. Sejak itu, aktivitas mereka pun berubah. Bermain tak lagi sebebas dulu, dan ruang di rumah terasa berbeda.
“Biasanya mereka main di halaman, sekarang lebih sering di dalam atau ke meunasah,” ujar salah satu warga.
Pagi itu, 16 Februari 2026, mereka datang bersama keluarga untuk menunggu bantuan yang disalurkan oleh YEU dengan dukungan dari Peace Winds Japan (PWJ). Distribusi sempat tertunda sekitar satu setengah jam untuk memastikan seluruh paket lengkap. Namun bagi Umar dan Zikri, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda—diisi dengan gambar, cerita, dan tawa kecil.
Sesekali mereka berdiri, mencoba melihat ke depan antrean. Lalu kembali duduk. Menunggu lagi.
Ketika akhirnya bantuan dibagikan, keluarga mereka menerima Shelter Kit dan Hygiene Kit. Bagi orang dewasa, itu berarti alas tidur yang lebih layak, perlindungan dari dingin, serta kebutuhan kebersihan untuk mencegah penyakit. Namun bagi Umar dan Zikri, mungkin artinya lebih sederhana—rumah yang terasa sedikit lebih nyaman, dan hari-hari yang perlahan kembali seperti dulu.
Di desa mereka, pemulihan belum selesai. Beberapa fasilitas sanitasi masih belum dapat digunakan sepenuhnya. Warga masih beradaptasi, saling berbagi, dan bertahan dengan apa yang ada.
Namun di tengah semua itu, ada hal yang tetap bertahan.
Tawa.
Tawa Umar dan Zikri—dengan gigi yang mulai tanggal—pecah di antara keramaian meunasah. Ringan, tanpa beban, seolah mereka sedang mengingatkan orang-orang di sekitarnya bahwa harapan tidak selalu datang dalam bentuk besar.
Kadang, ia hadir lewat hal-hal kecil.
Lewat gambar rumah di atas kertas.
Lewat cerita sederhana.
Dan lewat dua anak yang tetap memilih untuk tersenyum.
Catatan: Nama anak telah disamarkan. Cerita ini ditulis dengan persetujuan keluarga dan tanpa menampilkan identitas spesifik anak sebagai bagian dari komitmen perlindungan dan safeguarding.