Di Desa Pucok Alo, Aceh Utara, kami bertemu dengan Bapak Abdi, seorang penyintas dua bencana besar: tsunami 2004 dan banjir bandang 2025. Ketika kami mengunjunginya, beliau sedang merawat kebun kacang panjang di samping gubuk sederhana yang baru saja ia bangun.

Photo 1: Kebun Kacang Panjang yang dirawat oleh Pak Abdi
Dua bulan setelah banjir bandang menerjang, Bapak Abdi sudah kembali menata hidupnya. Kacang panjang yang ia tanam sebulan lalu mulai tumbuh dan kini ia rawat dengan penuh harapan. Di sekitar kebun kecil itu, ia menunjukkan kepada kami sisa-sisa rumahnya yang hancur tersapu air.

Photo 2: Sisa-sisa rumah pak Abdi
Sebagai seorang petani, Bapak Abdi sebelumnya memiliki sekitar 20 ekor kambing, aset berharga yang menjadi sumber penghidupan keluarganya. Saat banjir datang, ia memilih bertahan untuk menyelamatkan ternaknya dan tidak ikut mengungsi. Namun, ketika air semakin tinggi pada malam hari, rumah dan kandang kambingnya hanyut terbawa arus. Dalam situasi genting itu, ia menyelamatkan diri dengan memanjat pohon kelapa dan bertahan di sana selama dua hari hingga air surut.
Ketika akhirnya turun, tidak ada yang tersisa selain pakaian yang melekat di badan. Semua kambingnya hilang. Padahal, satu ekor kambing bisa bernilai hingga empat juta rupiah. Meski demikian, dengan nada tenang ia berkata, “Belum rezeki saya.”
Tidak larut dalam kesedihan, Bapak Abdi mulai mengumpulkan potongan kayu dari puing-puing rumahnya. Dari sisa-sisa itulah ia membangun sebuah pondok sederhana sebagai tempat berteduh dan beristirahat.

Photo 3: Rumah sederhana yang dibangun Pak Abdi untuk menyimpan barang dan memasak
Sebulan setelah bencana, ia menerima bantuan tunai multiguna sebesar satu juta rupiah. Bantuan tersebut ia gunakan untuk membeli semprotan rumput, bibit kacang panjang, dan pupuk. Kini, ia tengah menyiapkan kembali lahannya untuk penanaman berikutnya. Dengan optimisme yang tak pernah padam, ia berkata, “Insya Allah sebelum Idulfitri saya sudah bisa panen.”

Photo 4: Pak Abdi berfoto di depan tenda dengan alat semprot pertanian yang dibelinya dengan uang bantuan tunai mulitguna

Photo 5: Pupuk dan bibit yang dibeli bapak Abdi
Sebelum kami berpamitan, Bapak Abdi menyodorkan kue tradisional untuk kami bawa dalam perjalanan. “Untuk makan kalian di jalan,” ujarnya sederhana. Dalam kondisi serba terbatas, ia masih menyempatkan diri untuk berbagi.
Di tengah kehilangan dan keterbatasan, kisah Bapak Abdi adalah potret ketangguhan, kerja keras, dan ketulusan hati bahwa harapan selalu bisa tumbuh kembali, bahkan dari tanah yang baru saja dilanda bencana.