Cerita

Langkah Kecil, Dampak Besar: Kisah-Kisah Transformasi dan Ketangguhan dalam Komunitas

2 Januari 2026

Foto: Ibu Marsiyem bersama kelompok perempuan CRPP, Panggang, Gunung Kidul

Ibu Marsiyem adalah salah satu anggota Kelompok Perempuan di Giriharjo, Gunung Kidul. Ketika mengenang foto ini, beliau tak kuasa menahan air mata. Foto sederhana itu menyimpan makna besar—momen ketika beliau perlahan bangkit dan menemukan kembali keberanian untuk terlibat dalam kegiatan kelompok.

Selama bertahun-tahun setelah kehilangan anaknya, Ibu Marsiyem tenggelam dalam duka. Ia lebih banyak mengurung diri di rumah, enggan keluar, dan menjauh dari kehidupan sosial. Ketika program CRPP mulai berjalan di desanya, beliau hadir hanya sebagai pendengar. Dari luar ruangan, ia mengikuti diskusi tanpa bersuara, seolah masih mencari ruang aman untuk dirinya sendiri.

Hingga pada suatu hari, keberanian itu tumbuh kembali. Untuk pertama kalinya, Ibu Marsiyem melangkah masuk ke dalam ruangan pertemuan. Ia duduk bersama anggota lainnya, menyampaikan pendapat, dan menjadi bagian aktif dari kelompok perempuan. Foto ini diambil tepat setelah kegiatan tersebut—foto pertama beliau dalam konteks kelompok, dan foto pertama sejak masa dukanya.

Bagi Ibu Marsiyem, gambar ini bukan sekadar dokumentasi. Ini adalah simbol perjalanan pulih, keberanian mengambil langkah kecil, dan keyakinan bahwa dirinya kembali memiliki tempat di komunitas.

Foto: Ibu Nurnani

Ibu Nurnani adalah anggota Kelompok Perempuan CRPP dari Girimulyo. Ia memilih sebuah foto dirinya yang sedang memeluk seikat besar seledri hasil panen di Magelang—foto yang baginya menyimpan kisah keberhasilan, pembelajaran, dan rasa bangga.

Dalam kelompok perempuan, Ibu Nurnani terlibat aktif dalam aksi ketangguhan, salah satunya pelatihan pembuatan pupuk organik. Di desanya, pupuk organik awalnya jarang digunakan. Sebagian besar petani masih bergantung pada pupuk kimia, dan banyak yang ragu mencoba cara baru. Namun, Ibu Nurnani berani memulai. Ia mencoba pupuk organik hasil produksi kelompoknya, dan hasil panenan di lahannya ternyata sangat baik.

Pengalaman itu mendorongnya untuk berbagi. Ia kemudian memberikan pupuk organik kepada ibu mertuanya yang tinggal di Magelang. Tak disangka, pupuk tersebut memberikan hasil yang lebih melimpah. Tanaman seledri tumbuh subur, bahkan dapat dijual dengan harga lebih tinggi. Ketika waktu panen tiba, Ibu Nurnani diundang langsung untuk menyaksikan hasilnya. Momen saat ia memeluk seledri-seledri segar itu diabadikan dalam foto yang ia ceritakan dengan penuh kebanggaan.

Foto tersebut bukan hanya tentang panen yang berhasil, tetapi tentang perjalanan seorang perempuan yang berani mencoba, bereksperimen, dan kemudian menginspirasi keluarga serta komunitas di luar desanya. Melalui pupuk organik yang lebih ramah lingkungan, Ibu Nurnani melihat bagaimana sebuah inovasi kecil dapat memberikan manfaat besar—baik bagi petani, lingkungan, maupun masa depan pertanian yang lebih berkelanjutan.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Program SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action Through Cluster Mechanism/Penguatan ...

Kini, ia tidak lagi ragu menyuarakan pendapat ... Ia merasa ...

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.