Berita

Workshop Pengembangan Modul Sphere Inklusif: Langkah Nyata Menuju Respons Bencana yang Setara

27 Februari 2026

Tujuan dan Agenda

Proyek SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action Through Cluster Mechanism – Penguatan Inklusi dalam Aksi Kemanusiaan melalui Mekanisme Klaster), hasil kerja sama Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) dan YAKKUM Emergency Unit (YEU) dengan dukungan CBM Global, menyelenggarakan Workshop Pengembangan Modul dan Materi Pelatihan Sphere yang Inklusif dan Aksesibel di Jakarta pada 11-12 November 2025.
Kegiatan ini bertujuan menyempurnakan kurikulum modul pelatihan Sphere agar dapat diakses oleh ragam disabilitas serta mendorong keterlibatan bermakna organisasi penyandang disabilitas (OPDis) dalam proses perumusannya.

Hari pertama workshop diawali dengan rangkaian pembukaan resmi, termasuk sambutan dari Ketua Umum MPBI, Dr. Avianto Amri. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya melibatkan penyandang disabilitas dalam setiap tahap penyusunan modul kemanusiaan agar benar-benar inklusif dan bisa diakses semua orang. Ia juga berbagi perkembangan terbaru terkait kebijakan inklusi disabilitas di BNPB, seperti penyusunan peta jalan baru serta penguatan peran Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan relawan disabilitas, termasuk Difagana di Kementerian Sosial. Setelah itu, peserta mendapatkan pengantar mengenai Struktur Sphere dan Standar Inklusi Kemanusiaan (HIS), sebelum melanjutkan ke diskusi kelompok. Dalam sesi ini, peserta membahas Modul 1 hingga Modul 4 yang mencakup Buku Panduan Sphere, standar kemanusiaan, inklusi disabilitas, Piagam Kemanusiaan, serta Prinsip-prinsip Perlindungan. Beragam masukan muncul, seperti perlunya penyederhanaan istilah teknis, penyesuaian materi agar sesuai dengan kebutuhan berbagai ragam disabilitas, perbaikan format materi digital agar ramah pembaca layar, hingga metode belajar yang lebih interaktif.

Pada hari kedua, diskusi berlanjut dengan pembahasan modul lanjutan yang mencakup Standar Kemanusiaan Inti, Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL), Keamanan Pangan dan Nutrisi, Hunian dan Permukiman, Kesehatan, serta materi tentang siklus program, kajian, dan MEAL. Peserta juga membahas topik penting terkait perlindungan dari eksploitasi dan pelecehan seksual (PSEA) serta koordinasi dalam Sphere.

Masukan Langsung dari Ragam Disabilitas

Salah satu sesi penting dalam workshop ini adalah pemaparan langsung mengenai kebutuhan aksesibilitas dari perwakilan organisasi penyandang disabilitas (OPDis). Dari perspektif disabilitas tuli, peserta menekankan pentingnya pencahayaan ruangan yang memadai serta ruang yang bebas dari penghalang visual seperti pilar agar komunikasi dapat berjalan lancar. Mereka juga menyarankan penggunaan minimal dua layar monitor untuk menampilkan materi dan hasil ketikan, penyediaan dua juru bahasa isyarat yang bergantian setiap 15 menit, penataan kursi berbentuk U-shape, serta penunjuk arah visual yang jelas di area pelatihan.

Sementara itu, perwakilan disabilitas netra menyampaikan perlunya metode pembelajaran yang lebih interaktif, seperti menyebut nama sebelum berbicara agar peserta dapat mengikuti alur diskusi. Mereka juga mengusulkan penggunaan metode taktil melalui materi yang bisa diraba, pembagian materi sebelum pelatihan dimulai, penguatan materi berbasis audio, serta pengurangan konten visual. Orientasi lingkungan di awal kegiatan dan penyediaan pendamping yang terlatih juga dinilai penting untuk mendukung kenyamanan peserta.

Dari perspektif disabilitas mental psikososial, peserta menekankan bahwa kegiatan seperti ice breaking sebaiknya bersifat sukarela dan disertai pemberian trigger warning untuk topik-topik sensitif. Mereka juga menyarankan pengaturan durasi sesi agar tidak terlalu panjang, penyediaan ruang tenang bagi peserta yang membutuhkan, serta fleksibilitas untuk keluar ruangan kapan saja tanpa harus meminta izin. Selain itu, formulir kebutuhan khusus sejak tahap pendaftaran dinilai membantu penyelenggara dalam menyiapkan dukungan yang sesuai.

Diskusi ini juga menyinggung pentingnya menghadirkan metode alternatif untuk evaluasi pelatihan agar lebih inklusif, khususnya bagi peserta dengan hambatan psikososial, sehingga semua dapat berpartisipasi secara optimal dalam proses pembelajaran.

Hasil dan Dampak Workshop

Aksesibilitas media pembelajaran juga menjadi topik penting dalam workshop ini. Salah satunya adalah pembahasan tentang penggunaan huruf braille bagi peserta disabilitas netra. Meski teknologi pembaca layar semakin berkembang, perwakilan OPDis menegaskan bahwa braille tetap dibutuhkan oleh sebagian peserta. Para peserta pun sepakat bahwa penyelenggara perlu menanyakan kebutuhan akses sejak awal agar materi pelatihan bisa disiapkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.

Workshop ini menghasilkan modul dan materi pelatihan Sphere yang lebih inklusif dan mudah diakses oleh semua peserta. OPDis terlibat aktif dalam proses penyusunannya, sekaligus menyepakati format pelatihan yang ramah bagi berbagai ragam disabilitas. Melalui kerja sama antara MPBI, YEU, CBM Global, pemerintah, OPDis, dan para pelaku kemanusiaan, kegiatan ini menegaskan bahwa inklusi harus diwujudkan secara nyata, bukan hanya menjadi konsep. Diharapkan, modul yang dihasilkan dapat membantu para relawan dan pekerja kemanusiaan memberikan bantuan yang adil dan tidak meninggalkan siapa pun.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Dalam situasi kebencanaan, risiko kekerasan berbasis gender (KBG) dan pelanggaran ...

Sultan (44 tahun), pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sulawesi ...

Momen kebersamaan para pemangku kepentingan dalam mendukung penguatan kesiapsiagaan bencana ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.