Yogyakarta, 26 Maret 2026 – YAKKUM Emergency Unit kembali mendorong penguatan inovasi berbasis komunitas melalui kegiatan Mentoring Sebaya Inovator IDEAKSI: Penguatan Kapasitas Mentor dan Pendampingan Antar Inovator yang diselenggarakan di Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem pembelajaran antar inovator melalui pendekatan saling berbagi pengalaman (peer to peer learning). Sebanyak 62 peserta yang terdiri dari berbagai kelompok inovator IDEAKSI 2.0 mengikuti pelatihan ini sebagai bagian dari proses Training of Trainers (ToT) untuk mempersiapkan peran mereka sebagai mentor bagi kelompok inovator lainnya.
Mendorong Pembelajaran yang Setara

Program IDEAKSI menunjukkan bahwa inovator lokal tidak hanya menjadi pelaksana solusi di komunitasnya, tetapi juga memiliki kapasitas untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada kelompok lain. Pendekatan mentoring sebaya dipilih sebagai strategi untuk memperkuat pembelajaran horizontal atau setara yang lebih kontekstual, praktis dan relevan dengan kondisi lapangan.
Melalui proses ini, inovator yang telah memiliki pengalaman dan praktik baik berperan sebagai mentor, sementara kelompok lain yang masih menghadapi tantangan menjadi mentee.
Menguatkan Peran Mentor: Dari Pengalaman Menjadi Pembelajaran

Dalam sesi pembelajaran, peserta diajak memahami konsep dasar mentoring sebagai proses pendampingan antar teman sebaya yang menekankan pada berbagai pengalaman, bukan sekedar transfer pengetahuan satu arah. Mentoring dipahami sebagai proses saling belajar yang setara, di mana mentor dan mentee sama-sama memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat dipertukarkan.
Berbeda dengan pelatihan formal, mentoring bersifat lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan masing-masing kelompok. Selain itu, pendekatan ini juga menekankan pentingnya menciptakan ruang yang aman, nyaman, dan inklusif bagi semua pihak untuk berbagi.
Tantangan dan Harapan: Membangun Kepercayaan Diri dan Kapasitas

Hasil refleksi peserta menunjukkan bahwa tantangan utama dalam menjalankan peran sebagai mentor sebagian besar berasal dari faktor internal, seperti kurangnya kepercayaan diri, penguasaan materi, hingga kemampuan berbicara di depan umum. Selain itu, perbedaan konteks wilayah, keterbatasan waktu, serta akses teknologi juga menjadi tantangan yang dihadapi dalam proses mentoring.
Di sisi lain, para peserta memiliki harapan besar untuk dapat berkembang menjadi mentor yang percaya diri, profesional, serta mampu mentransfer pengalaman kepada kelompok lain. Proses ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas mentee, tetapi juga memperkuat kemampuan kepemimpinan dan komunikasi para mentor.
Praktik Langsung dan Penguatan Sistem Mentoring
Selain materi konseptual, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi praktik, seperti penyusunan silabus mentoring, rencana kerja, serta simulasi mentoring melalui roleplay. Peserta juga diperkenalkan dengan alat monitoring sederhana untuk membantu proses pendampingan agar lebih terstruktur dan terukur.
Pendekatan ini memastikan bahwa proses mentoring tidak hanya berjalan secara informal, tetapi juga memiliki perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi yang jelas.
Membangun Ekosistem Kolaborasi dan Keberlanjutan Inovasi

Melalui proses peer mentoring, YEU mendorong terciptanya ekosistem kolaborasi yang lebih kuat antar inovator. Proses saling belajar ini tidak hanya memperkuat kapasitas individu dan kelompok, tetapi juga membuka peluang jejaring, kolaborasi lintas wilayah, serta pengembangan inovasi yang lebih luas.
Lebih dari itu, mentoring menjadi ruang untuk memperkuat solidaritas dan rasa saling memiliki antar inovator. Dengan prinsip “belajar bersama, bertumbuh bersama”, inovator didorong untuk terus mengembangan soslusi yang adaptuif dan berkelanjutan dalam menghadapi risiko bencana dan perubahan iklim.