Di Desa Lubuk Ampolu, Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah, air bersih dari PDAM belum mengalir dan banjir bandang baru saja meluluhlantakkan sebagian wilayah Tapanuli Tengah pada awal 2026 serta air sungai menjadi merah dan keruh, sungai yang sejatinya tidak layak untuk diminum.
Inilah yang dijumpai oleh Suwarno, inovator Petani Milenial bersama Kelompok Tani Ngudi Mulya dan Kelompok Tani Rukun Santoso, Gunungkidul juga staf YAKKUM Emergency Unit (YEU). Suwarno bersama rekan-rekan mengakui bahwa pengalaman ini adalah yang pertama baginya turun langsung dalam sebuah respons darurat. “Hal ini jadi pengalaman berharga untuk saya dan teman-teman. Karena ini juga baru pertama kali,” ujarnya.

Misi membangun Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) di titik strategis agar warga memiliki akses air bersih yang aman dan mudah dijangkau. Bukan tugas yang mudah. Di Madrasah Aliyah yayasan Mutiara Al Hamid, Kelurahan Sibuluan Nalambok, akses jalan begitu sempit sehingga material dan alat terbatas.

Hal menarik menurut Suwarno ialah saat ia dan tim pengalaman untuk memotong kayu, hanya punya satu gergaji besi kecil yang seharusnya dipakai untuk besi, bukan kayu. Dengan alat itu, dan dengan bantuan kepala lingkungan setempat, mereka tetap bekerja, meski waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama dari perkiraan.

Di Desa Lubuk Ampolu, inovasi IPAH benar-benar hadir sebagai sesuatu yang baru. YEU memasang 10 tandon air berkapasitas masing-masing 1050 liter, dilengkapi sistem saluran panen air hujan dari atap bangunan. Segera setelah selesai, YEU berkoordinasi dengan PMI setempat untuk pengisian perdana: dua armada tangki, masing-masing berkapasitas 5000 liter, langsung mengalirkan air bersih ke tandon yang baru dibangun. PMI pun berkomitmen untuk terus melakukan dropping air selama masih dibutuhkan warga.
Dampaknya segera terasa. Di antara warga yang datang mengambil air bersih dari IPAH, ada seorang pria berusia sekitar 60 tahun dan disabilitas wicara. Sebelumnya, setiap kali ingin mendapat air bersih, ia harus berjalan jauh. Kini, dengan adanya instalasi YEU, sumber air bersih itu ada di dekatnya. Tanpa kata-kata, ia mengangkat jeriken berisi penuh dan berjalan pulang.
Cerita lainnya datang dari seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, Andi. Sepulang sekolah, ia seringkali mengambil dua jeriken berukuran lima liter, lalu berjalan menuju sumber IPAH. Adiknya yang baru enam tahun ikut di sampingnya. Di rumah, neneknya yang netra menunggu. Air dalam jeriken itu adalah satu-satunya yang mereka miliki untuk minum, masak, dan mandi sekeluarga.
Selain pembangunan IPAH, YEU juga menyelenggarakan Edukasi Psikososial Awal bagi anak-anak terdampak bencana, mulai dari sekolah dasar di Lubuk Ampolu, SMP Negeri 1 Sarudik, hingga anak-anak yang tinggal di hunian sementara (HUNTARA). Melalui permainan dan diskusi, anak-anak diajak memulihkan diri pascabencana, sekaligus belajar mengenal keberagaman dan kesiapsiagaan bencana.

Bagi Suwarno dan tim relawan YEU lainnya, perjalanan ke Tapanuli Tengah bukan sekedar perjalanan lapangan. Ia membawa pulang sesuatu yang tidak ternilai bahwa pemahaman bahwa inovasi sederhana seperti pemanenan air hujan bisa mengubah hidup orang banyak dan bahwa tangan-tangan yang mau bergerak, meski dengan alat seadanya, adalah awal dari perubahan.