Berita

Jurnalisme Komunitas: Sebuah Ruang bagi Warga Komunitas untuk Menyuarakan Aspirasi dan Peluang Triangulasi Fakta Opini Publik

16 November 2022

“Jurnalisme komunitas adalah penyampaian informasi terkait komunitas tersebut mengenai kegiatan yang dilakukan oleh komunitas. Lebih ada keteraturan menurut tema atau topik tertentu yang menjadi perhatian mereka dan diberitakan terus menerus oleh komunitas tersebut,” demikian menurut Andi Joko Prasetyo dari Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Gunungkidul, salah satu tim inovator IDEAKSI.

Melalui IDEAKSI, tim inovator bersama masyarakat atau anggota komunitas yang menjadi pengguna utama inovasi menjadi aktor kunci yang memiliki posisi bermakna dalam seluruh pengembangan inovasi yang diinisiasi mulai dari tahap ide, perencanaan, implementasi, pengambilan keputusan, hingga monitoring dan evaluasi. Oleh sebab itu, masyarakat memiliki banyak sekali cerita menarik baik dalam proses perencanaan, implementasi hingga tahapan monitoring evaluasi inovasi. Pengalaman baik ini penting untuk didokumentasikan sehingga dapat menjadi bukti pembelajaran dalam melakukan manajemen penanggulangan bencana berbasis komunitas yang partisipatif dan inklusif.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, maka IDEAKSI menyelenggarakan sebuah pelatihan jurnalisme komunitas pada tanggal 26-27 Agustus 2022. Sesuai tujuan dari jurnalisme komunitas, yaitu untuk memberikan ruang bagi masyarakat dalam menyuarakan aspirasi dan melakukan advokasi melalui pesan atau berita dari komunitasnya, maka melalui pelatihan ini tim inovator dibekali dengan kemampuan untuk menjadi mentor atau pendamping yang akan melakukan kurasi atas pesan yang akan disampaikan kepada masyarakat luas.

Perlu disadari, keahlian dan keterampilan penyampaian berita atau reportase tidak selalu dimiliki oleh setiap anggota komunitas, maka dibutuhkan praktik yang terus menerus untuk mengasah kemampuan mereka. Beberapa tantangan yang sempat muncul dalam diskusi adalah sebagai berikut:

  1. Bagi disabilitas tuli, sulit dalam berkomunikasi verbal dan tulisan sehingga teman tuli membutuhkan cara-cara atau kiat-kiat dalam berkomunikasi yang pas dalam journalisme komunitas.
  2. Dengan adanya kesempatan yang luas untuk mempublikasikan kegiatan atau situasi di sekitarnya, justru menjadi kelemahan karena masing-masing orang dapat dengan bebas menyebarluaskan informasi tanpa melakukan cek fakta terlebih dahulu. Secara negatif, hal ini dapat mendorong terciptanya opini publik yang keliru.
  3. Perlindungan hukum bagi reporter komunitas masih minim, sehingga tidak banyak anggota komunitas yang kemudian bersedia menjadi reporter komunitas. Tidak hanya bagi reporter komunitas, perlindungan bagi responden yang menjadi narasumber cerita juga masih menjadi halangan sehingga mereka tidak bersedia bercerita. Oleh karena itu, Prinsip utama dalam pengungkapan identitas narasumber penting mengedepankan prinsip perlindungan terhadap individu berisiko dan prinsip ‘do no harm’, terutama apakah narasumber tersebut bersedia atau tidak untuk diungkap identitasnya.
  4. Khususnya di wilayah dimana inovasi dikembangkan memiliki populasi mayoritas adalah orang lanjut usia dengan tingkat pendidikan rendah, kualitas dari reportase yang diproduksi menjadi kurang maksimal.

Selain itu, Ibu Arni Surwanti dari Yayasan CIQAL menyebutkan bahwa salah satu tantangan dalam pengembangan jurnalisme komunitas ini adalah terkait dengan kepekaan warga masyarakat untuk memilah mana yang layak diangkat menjadi pesan publik dan berita penting, atau tidak.

Kepekaan mengenai isi dari reportase komunitas memang perlu dilatih dan didampingi oleh mereka yang sudah lebih memahami. Sehingga, langkah yang dapat diambil untuk memulai kegiatan jurnalisme komunitas adalah dengan memilih beberapa anggota komunitas yang berminat menjadi reporter komunitas. Hal yang penting bukanlah jumlah yang banyak, tetapi sedikit orang namun efektif. Beberapa prasyarat utama anggota tim reporter komunitas adalah: 1) memiliki ketertarikan; 2) memiliki kemampuan dasar; dan 3) memiliki stabilitas.

Dengan adanya tiga prasyarat tersebut tidaklah berarti mereka harus memiliki kemampuan layaknya jurnalis profesional, tetapi minimal dapat dipetakan antara lain tentang siapa yang memiliki keahlian melakukan wawancara, jika diperlukan siapa yang dapat mengambil foto atau merekam audio dan video, dan tentu saja kemampuan literasi untuk menuangkan kisah yang muncul menjadi sebuah berita atau artikel dengan baik meskipun sederhana.

Tahap berikutnya adalah proses mentoring para reporter komunitas. Mereka akan belajar bersama dan didampingi oleh mentor tentang pesan apa yang layak atau tidak layak diberitakan, topik apa yang menjadi isu utama yang perlu diangkat atau diberitakan menjadi pesan bagi masyarakat luas. Ketajaman sensitivitas mengenai nilai cerita dan berita merupakan hasil dari latihan dan praktik berulang, namun tidak selalu diperoleh melalui pelatihan tetapi dapat dimunculkan melalui diskusi ketika pendampingan rutin di masyarakat.

Kekuatan yang baik yang telah dimiliki oleh inovator adalah bahwa sebagian besar dari tim inovator telah memiliki media publikasi yang bisa menjadi ruang untuk menyebarluaskan informasi dan pesan advokasi. Namun, pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana membangun cerita yang berdampak?”

Berikut ini adalah beberapa prinsip dalam mengembangkan reportase yang dapat membuat perubahan:

  1. Setiap cerita adalah penting.
  2. Bagikan cerita dengan orang yang mengerti/belajar permasalahan sosial.
  3. Tidak mengukur dampak cerita dari tayangan berita nasional.
  4. Bercerita membentuk pola pikir dan dapat mengubah cara pandang.

Hal lain yang penting menjadi pertimbangan adalah, apakah isi dari cerita yang akan dikembangkan menjadi sebuah reportase tersebut memiliki nilai penting dan dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat di komunitas tersebut dan masyarakat luas lainnya sehingga penting untuk disebarluaskan?

Meskipun kita berangkat dari prinsip bahwa semua cerita itu adalah penting, tetapi perlu disadari isu apa saja yang terkait dengan cerita tersebut. Dalam rangka menjangkau lebih banyak peminat, perlu dilihat apakah cerita yang akan diangkat memiliki kaitan dengan isu-isu global yang sedang menjadi perhatian banyak negara. Dengan mengaitkan dengan isu global, jika cerita tersebut memiliki nilai maka kemungkinan akan menarik perhatian lembaga-lembaga yang memiliki perhatian terhadap isu tersebut.

“Masyarakat kita saat ini lebih suka konten publikasi yang menghibur. Bagaimana caranya supaya masyarakat kita bisa memiliki perhatian terhadap cerita yang lebih nyata dan tidak sekadar bersifat hiburan?” Agus dari SLB Bhakti Pertiwi-Sekoci Sasana Inspira menanyakan.

Pertanyaan tersebut sangat relevan terkait dengan target pemirsa atau pembaca, yaitu bagaimana kita bisa membangun opini publik yang dapat membawa perubahan positif. Tontonan atau publikasi lain yang bersifat edukatif belum tentu ditinggalkan jika pengemasannya menarik bagi audiens.

Di hari kedua pelatihan, setiap kelompok innovator mengawali praktik jurnalisme komunitas dengan memetakan hal positif (keberhasilan), negatif (hambatan/tantangan), dan berpotensi terkait isu utama mereka, jika dikembangkan menjadi sebuah reportase. Acuan utama yang menjadi topik tentu saja mengenai pengelolaan bencana yang inklusif dan dampak dari inovasi yang telah dikembangkan.

Kemudian, berdasarkan pemetaan tersebut, peserta bersama-sama mencoba menggali ide-ide liar yang muncul secara cepat melalui praktik rapid 8 yaitu dalam waktu 8 menit, setiap peserta diminta menuliskan delapan ide untuk topik utama reportase yang akan dikembangkan.

Dari rapid 8 tersebut kemudian muncul beragam gagasan luar biasa dan menarik yang kemudian akan didiskusikan di dalam masing-masing kelompok untuk memilih tiga topik utama melalui metode analisa dampak dan upaya.

Publikasi dari dampak nyata meskipun sederhana dapat dimulai dari kutipan-kutipan pendek yang diterima ketika melakukan kunjungan di lapangan. Pengemasan kutipan pendek menjadi sebuah berita, artikel pendek, atau keterangan pada sebuah unggahan foto membutuhkan kejelian tersendiri. Pemilihan kalimat untuk judul dan tajuk utama misalnya, menjadi kunci apakah audiens akan melanjutkan menyimak sampai akhir atau tidak.

erikut ini adalah contoh dua kutipan menarik yang diterima oleh tim inovator dan perlu dilatih untuk dikembangkan menjadi topik artikel atau berita:

  1. Ibu Suwarni, DIFAGANA DIY mengatakan bahwa mereka sudah mendapatkan beberapa teman tuli yang memberikan testimoni mengenai penggunaan aplikasi kebencanaan. “Selama ini belum ada aplikasi kebencanaan yang aksesibel bagi disabilitas seperti yang dikembangkan ini, maka kalau bukan disabilitas sendiri yang mengusahakan maka mungkin akan lama baru akan ada aplikasi kebencanaan yang bisa kami akses.”
  2. Sebuah dampak yang sudah dirasakan oleh anggota kelompok tani Ngudi Mulya dari Dusun Ngoro-Oro, Kalurahan Giriasih, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul misalnya adalah, “penghematan, pengurangan cost atau anggaran untuk membeli air. Selain itu dulu petani harus mengangkut air untuk penyiraman, sekarang dengan adanya irigasi kabut tinggal pencet tombol air sudah mengalir,” tutur Bapak Paidi, ketua kelompok tani Ngudi Mulya.

Hasil dari analisa dampak dan upaya kemudian dikembangkan menjadi kerangka utama cerita melalui diskusi kelompok dengan metode storyboarding.

Dian Hastiwi dari DIFAGANA DIY menyebutkan bahwa dengan metode storyboarding, poin-poin reportase lebih mudah dibaca sehingga bisa membantu kita menjaga alur cerita yang akan dikembangkan.

Selepas dari pelatihan selama dua hari tersebut, masing-masing tim inovator akan mengembangkan storyboarding yang telah dilatihkan menjadi sebuah produk journalisme komunitas. 

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

Kisah Bu Warsilah dan Suara Petani Perempuan di Konferensi Kemanusiaan ...

Tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang menyapu Kecamatan Peusangan ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.