Cerita

Ketangguhan Masyarakat di Dusun Tenda Poa

19 Oktober 2026

“Hey, Kakak!”
“Eh, Mama! Kemarin kita main voli bersama, toh?”
“Iyo.”
“Bolehlah nanti aku ikut lagi, Mama.”
“Iyo, jam tiga, eh?”

Aku mengacungkan jempol tinggi-tinggi sebagai tanda persetujuan. Sepakat.

Percakapan singkat itu mungkin terdengar biasa saja. Namun, bagiku, ada sesuatu yang hangat di dalamnya: ajakan untuk kembali bertemu, bermain, dan menghabiskan waktu bersama. Tidak ada agenda besar, tidak ada pembicaraan serius. Hanya janji sederhana untuk bermain voli pukul tiga sore.

Di Dusun Tenda Poa, Desa Tango Molas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, kebersamaan seperti ini menjadi pengalaman yang membekas bagiku. Terlebih, ketika mengingat bahwa masyarakat di wilayah Flores masih menghadapi dampak gempa bumi yang mengguncang kawasan ini pada 15 Agustus 2026. Di sejumlah wilayah terdampak, kebutuhan kemanusiaan masih menjadi perhatian dalam proses respons dan pemulihan.

Di tengah kegiatan distribusi untuk keluarga terdampak yang dilakukan YEU bersama ACT Alliance, aku menemukan sebuah pemandangan yang sederhana tetapi berarti: mama-mama yang meluangkan waktu untuk bermain voli bersama.

Bukan Soal Menang atau Kalah

Sejujurnya, kemampuan bermain voliku jauh dari kata mahir. Aku menyukai olahraga, tetapi voli sepertinya tidak pernah benar-benar menjadi temanku. Bukanlah tipe orang yang bisa dengan percaya diri menerima bola, apalagi memastikan bola itu melewati net ke arah yang benar.

Sepanjang permainan, mama-mama menertawakan gerakanku yang canggung pun kala jeritan panikku menggema setiap kali bola mengarah kepadaku. Tawa mereka membuat suasana semakin ramai. Anehnya, aku tidak merasa sedang dihakimi. 

Dalam dua babak permainan, tim yang kuisi selalu kalah. Meski begitu, semangat mereka tidak surut. Mereka tetap menyemangatiku, bahkan menempatkanku di posisi terdepan. Tentu saja, dengan sopan aku selalu berusaha menolaknya. Mereka tahu aku bukan pemain yang bisa diandalkan, namun, mereka tetap memberiku tempat dalam permainan. Di situ, aku merasa diterima.

Akhirnya aku mulai menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak perlu dibuktikan melalui kemampuan, prestasi, atau kemenangan. Kadang-kadang, cukup dengan hadir, ikut mencoba, dan bersedia tertawa bersama, kita sudah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Selama kurang lebih dua jam, permainan voli itu menjadi ruang bagi kami untuk saling menyapa, bercanda, bergerak, dan menikmati kebersamaan. Untuk sesaat, perhatianku tidak tertuju pada skor atau berapa kali aku gagal menerima bola. Aku hanya menikmati waktu yang kami miliki bersama.

Ketangguhan yang Hadir dalam Keseharian

Ketika berbicara tentang ketangguhan masyarakat pascabencana, kita sering membayangkan upaya besar: membangun kembali rumah, memulihkan layanan kesehatan, memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, atau memperbaiki akses menuju wilayah yang terdampak.

Semua itu penting. Kendati demikian, dari permainan voli bersama mama-mama Dusun Tenda Poa, aku belajar bahwa ketangguhan juga dapat hadir dalam bentuk yang lebih sederhana.

Ketangguhan hadir ketika orang-orang masih bersedia berkumpul. Ketika tawa tetap terdengar di tengah ketidakpastian. Ketika seseorang memberikan semangat kepada orang lain yang berkali-kali gagal. Dan ketika setiap orang tetap diberi ruang untuk ikut serta, tanpa harus menjadi yang paling mahir.

Hal-hal seperti ini layak mendapat perhatian karena pemulihan bukan hanya tentang apa yang kembali berdiri, tetapi juga tentang ruang-ruang kebersamaan yang tetap terpelihara; tentang hubungan antarmanusia yang terus dirawat; dan tentang kesempatan bagi setiap orang untuk kembali menikmati kesehariannya.

_______

*Kakak adalah istilah dalam bahasa Indonesia untuk saudara kandung yang lebih tua dan juga digunakan sebagai sapaan yang sopan atau ramah kepada seseorang. Mama berarti “ibu” dan juga digunakan sebagai sapaan akrab bagi perempuan di beberapa komunitas lokal. Kedua istilah tersebut mencerminkan kehangatan dan keakraban dalam interaksi sehari-hari.

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Pagi itu, sebelum berangkat ke kantor, kera ekor panjang datang ...

Saat musim kemarau panjang dan kekeringan melanda, Mbok Jum, seorang ...

Tiap kali kemarau datang, perempuan di Panggang I tetap harus ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.