Cerita

Merawat Solidaritas, Menguatkan Ketangguhan: Lintas Iman dan Kesiapsiagaan Bencana di Kalurahan Ngentakrejo dan Pagerharjo, Kulon Progo

2 Juni 2026

Kalurahan Ngentakrejo dan Pagerharjo, dua desa di Kabupaten Kulon Progo, masyarakat hidup berdampingan dengan berbagai ancaman bencana seperti kekeringan, banjir, longsor, gempa bumi, hingga cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari serta mata pencaharian. Sebagian besar masyarakat menopang kebutuhan hidup pada sektor pertanian, peternakan dan pekerjaan berbasis sumber daya lokal, sehingga ancaman perubahan cuaca maupun bencana dapat berdampak pada ekonomi dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari termasuk ketahanan pangan. Dengan kondisi tersebut, kesiapsiagaan tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Solidaritas Lintas Iman dalam Menghadapi Risiko Bencana

Di tengah risiko bencana, berbagai komunitas masyarakat di desa memiliki peran penting dalam membangun ketangguhan bersama, termasuk juga komunitas lintas iman. Tempat ibadah dan komunitas keagamaan sering menjadi ruang aman, tempat berbagi informasi, sekaligus pusat solidaritas saat krisis terjadi. 

Lewat program SIAGA (Solidaritas Lintas Agama untuk Aksi Antisipasi Bencana), masyarakat dari berbagai latar belakang belajar bersama mengenai risiko bencana, memperkuat koordinasi dan pemetaan risiko di tingkat komunitas, serta menyusun aksi untuk merespon peringatan dini guna mengurangi dampak sebelum bencana terjadi. Tujuan utama program ini adalah melindungi kehidupan dan penghidupan masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana dari ancaman bencana dan peristiwa iklim melalui kolaborasi serta mobilisasi gereja dan masyarakat dalam AMPD (Aksi Merespon Peringatan Dini) serta penguatan ketangguhan bencana. Proses ini juga membuka ruang dialog antarkomunitas untuk saling memahami kondisi dan kerentanan yang dihadapi masing-masing wilayah. 

Gambar 1. Pendalaman Alkitab di GKJ (Gereja Kristen Jawa) Ngentakrejo

Penguatan Kapasitas dan Ketangguhan melalui Kolaborasi Komunitas 

Kolaborasi lintas iman juga membantu mendorong upaya pengurangan risiko bencana yang lebih inklusif dan melibatkan seluruh kelompok masyarakat, termasuk perempuan, lansia, anak-anak, dan kelompok berisiko lainnya. Selama program berlangsung, gereja dan masyarakat berkolaborasi dalam berbagai penguatan kapasitas, mulai dari ketahanan pangan, hingga pengembangan ketangguhan ekonomi melalui pengelolaan ternak kambing dan pertanian adaptif iklim. Pendekatan kesiapsiagaan bencana juga dilakukan di gereja dengan pendalaman Alkitab untuk mengenali risiko kebencanaan dan membangun kepedulian terhadap sesama serta lingkungan sekitar.

Gambar 2. Komunitas di Pagerharjo dalam pelatihan kajian risiko bencana dan penyusunan rencana aksi dini

Melalui diskusi, pelatihan kesiapsiagaan, dan kajian risiko bersama, masyarakat dapat mengenali potensi ancaman sekaligus kapasitas yang dimiliki di tingkat lokal. Pengetahuan masyarakat tentang kondisi lingkungan, jalur evakuasi, sumber daya yang tersedia, hingga kelompok yang paling berisiko menjadi modal penting dalam membangun kesiapsiagaan bersama. 

Selain meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan bencana, kolaborasi lintas iman juga memperkuat solidaritas antarmasyarakat. Dalam situasi bencana, rasa saling percaya dan kerja sama menjadi kunci agar masyarakat dapat merespons dengan lebih tanggap dan terkoordinasi. Melalui proses penguatan komunitas, masyarakat di Ngentakrejo dan Pagerharjo menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan untuk membangun komunitas yang lebih tangguh, berdaya, dan inklusif dalam menghadapi risiko bencana di masa depan. 

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Di jalan tanah yang membelah Desa Pante Baro Bukit Panyang, ...

Di bawah atap meunasah (tempat ibadah) di Pante Baro Kumbang, ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.