Berita

Pembelajaran dari Komunitas: Ketangguhan Berawal dari Identifikasi Risiko Bencana dan Perubahan Iklim serta Perumusan Strategi Lokal secara Partisipatif

30 Maret 2026

Apa gambaran pertama yang terbayang di benak Anda ketika mendengar istilah perubahan iklim? Di bangku sekolah, sebagian dari kita mungkin akrab dengan narasi mencairnya gletser dan es di kutub sebagai gambaran utama dampaknya. Padahal, dampak perubahan iklim kini semakin terasa dekat dan memengaruhi kehidupan sehari-hari di sekitar kita.  Petani yang gagal panen, perubahan cuaca yang ekstrem, hingga sumber air bersih yang berkurang. 

Salah satu contoh nyata di sekitar kita adalah bergesernya musim panen rambutan akibat fenomena “kemarau basah” yang mengganggu proses pembungaan.  Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah mengubah pola alam, sehingga tidak hanya meningkatkan risiko bencana, tetapi juga mengancam keberlanjutan mata pencaharian dan sumber pangan.

Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan dan ketangguhan komunitas terhadap bencana, YEU berkolaborasi dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta (FPRB DIY) menyelenggarakan rangkaian “Lokakarya Kajian Risiko Bencana dan Perubahan Iklim secara Partisipatif” pada 2–24 Februari 2026. Lokakarya ini dilaksanakan di tujuh kalurahan di Kulon Progo (Kalirejo, Hargotirto, Kebonharjo, dan Banjarsari) serta Gunungkidul (Tepus, Kanigoro, dan Banjarejo), dengan durasi lima hari di masing-masing desa.

Sebanyak 232 peserta terlibat dalam kajian ini, dengan 100 di antaranya perempuan, 16 perwakilan disabilitas, dan 13 lainnya lansia. Para peserta merupakan perwakilan dari kelompok tani, kelompok perempuan (seperti PKK, UMKM, KWT), penyandang disabilitas, serta pemerintah kalurahan. Pertemuan ini menjadi ruang untuk menggali ancaman, kerentanan, kapasitas, dan strategi lokal komunitas dalam menghadapi risiko iklim dan bencana  secara partisipatoris.

Forum ini juga melibatkan BPBD Kulon Progo dan Gunungkidul dan BMKG DIY yang berperan penting dalam diseminasi informasi terkait situasi risiko bencana serta prakiraan cuaca dan iklim ke depan. Peran ini semakin krusial seiring meningkatnya kesulitan komunitas dalam mengandalkan metode prakiraan lokal turun-temurun, seperti pranata mangsa, yang kini semakin terbatas dalam menangkap anomali cuaca dan iklim terkini. 

Foto oleh Devi/YEU – BPBD Kulon Progo menyampaikan informasi  terkait risiko bencana di Kulon Progo.

Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi ke dalam dua kelompok berdasarkan gender. Pendekatan ini penting tidak hanya untuk memastikan partisipasi yang lebih bermakna, tetapi juga untuk menangkap perbedaan perspektif dan pengalaman antarkelompok dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana. Dengan demikian, rencana aksi yang dihasilkan diharapkan mampu merespons kebutuhan spesifik gender, tanpa memperkuat ketimpangan yang sudah ada.

Aktivitas yang dilakukan pertama kali adalah peserta bersama-sama menelusuri sejarah kejadian bencana di masa lalu, mengenali karakteristiknya, serta menentukan prioritas ancaman. Meskipun lanskap geologi Kulon Progo dan Gunungkidul berbeda, semua kalurahan mengidentifikasi kekeringan sebagai ancaman prioritas. 

Komunitas kemudian menyusun kalender musiman yang mengidentifikasi frekuensi, intensitas, dan perubahan dari kejadian-kejadian penting dalam satu tahun dan membandingkan kondisi saat ini dengan 20 tahun sebelumnya. Selanjutnya, komunitas juga berkolaborasi menyusun peta ancaman dimana komunitas tidak hanya memetakan lokasi titik ancaman tetapi juga aset pertanian, sumber air, hingga tempat tinggal kelompok berisiko. 

Foto oleh Devi/YEU – Kelompok perempuan mempresentasikan peta ancaman di Kalurahan Kebonharjo.

Dalam forum ini, peserta juga memetakan kapasitas dan kerentanan mata pencaharian masyarakat serta mengeksplorasi bagaimana bencana memengaruhi lima aset penghidupan masyarakat: infrastruktur, ekonomi, sosial, lingkungan, dan sumber daya manusia. Anggota masyarakat secara kolaboratif mengembangkan rencana aksi potensial untuk mitigasi atau pengurangan risiko bencana (PRB) dan adaptasi perubahan iklim berdasarkan temuan-temuan tersebut. 

Menariknya, meskipun kekeringan telah lama menjadi kejadian yang berulang, sebelumnya peserta di beberapa kalurahan melihatnya sebagai kejadian biasa, bukan sebagai ancaman nyata yang ada di wilayahnya. Perspektif ini berubah setelah peserta melalui proses diskusi mendalam dan menghitung dampak bencana terhadap lima aset penghidupan. Dari sana, peserta mulai memahami bahwa kerugian yang ditimbulkan tidak kecil, tetapi meluas hingga mencakup kerusakan infrastruktur seperti rumah dan akses jalan, penurunan hasil pertanian dan ketersediaan sumber mata air, hingga risiko korban jiwa dan cidera. Kesadaran ini mendorong komunitas untuk menempatkan kekeringan sebagai salah satu ancaman utama yang perlu segera ditangani.

Lokakarya ini tidak hanya menunjukkan dampak perubahan iklim yang semakin dekat dengan kita, tetapi juga menunjukkan kapasitas komunitas dalam membangun kolaborasi, mengidentifikasi risiko, serta merumuskan aksi secara lebih kontekstual. Proses-proses ini dilakukan secara partisipatoris untuk membangun ketahanan pangan dan ketangguhan terhadap bencana dan perubahan iklim.

Foto oleh Duma/YEU – Kelompok laki-laki di Kalurahan Tepus melakukan analisis kerentanan, kapasitas, dan aksi mitigasi dan adaptasi iklim.

Lokakarya ini merupakan bagian dari rangkaian implementasi kegiatan PROSPER. Proyek “PROSPER: Memperkuat Komunitas Tangguh Bencana dan Tahan Pangan di Wilayah Rawan Bencana Provinsi Yogyakarta” ini dilaksanakan oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU), dan didukung oleh AWO International dengan pendanaan dari Kementerian Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (BMZ) dan German Relief Coalition (ADH).

Ditulis oleh: Devi Lailatul Fitri Anggraini (Staf Komunikasi, Informasi, dan Sekretariat YEU)

Disunting oleh: Duma Hardiana Manurung (Staf Pendamping Masyarakat YEU)

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Danang adalah seorang warga dengan disabilitas fisik di Desa Tegalmade, ...

Di Desa Pucok Alo, Aceh Utara, kami bertemu dengan Bapak ...

Tujuan dan Agenda Proyek SEHATI (Strengthening Inclusion in Humanitarian Action ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.