“Momong kok wong lanang.” (Mengasuh kok dilakukan laki-laki). Demikian umum kita dengar di masyarakat. Masih sering pula dikatakan bahwa kodrat perempuan adalah membesarkan anak.
Tak jarang istilah gender dibingungkan dengan seks atau jenis kelamin. Almarhumah Dorce menginternalisasi dirinya sebagai perempuan, itulah gender atau ‘jenis kelamin’ sosial. Kalau bicara gender, kita bicara peran. Misalnya, bukan berarti kalau saya ikut rapat RT, saya adalah laki-laki.
Gender bisa dipertukarkan, sementara jenis kelamin biologis (seks) itu kodrati. Fungsi alat kelamin tidak bisa dipertukarkan, meski secara penampilan bisa diubah. Kita diajarkan dari kecil kalau “Budi membantu ayah memperbaiki sepeda,” jadilah orang laki-laki dituntut tidak boleh menangis. Padahal, ia sama-sama boleh mengekspresikan emosinya seperti perempuan. Demikian pula halnya dengan PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga). Mestinya, urusan PKK bukan cuma pekerjaan ibu-ibu PKK. Laki-laki perlu juga berpartisipasi.
Untungnya, konsep gender kita sudah berubah. Perempuan yang selama ini dilekatkan dengan kerja-kerja domestik, bisa juga ikut kesiapsiagaan bencana. Namun, agar partisipasi perempuan meningkat, perlu ada kompensasi agar tidak terjadi beban ganda (di rumah dan di luar). Dengan kata lain, jangan menuntut perempuan berpartisipasi di luar jika laki-laki tidak mau ikut memikul beban rumah tangga, seperti memasak atau mengasuh.

Sayang sekali, posisi perempuan saat ini masih di belakang laki-laki, demikian pula dengan kawan-kawan difabel tertinggal jauh dengan non-difabel. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, jumlah perempuan yang bekerja kurang dari 60%, sementara laki-laki 80% lebih. Penyandang disabilitas yang tidak berijazah SD dua kali lebih banyak daripada non-difabel. Sebaliknya, orang-orang non-difabel tiga kali lebih banyak menjadi lulusan perguruan tinggi.
Isu diskriminasi, termasuk terkait gender dan abilitas, pun tidak berdiri sendiri-sendiri. Titik-titik persinggungan gender dengan isu-isu lain membuat perempuan tidak bisa hanya dipandang sebagai satu kelompok yang homogen. Contohnya, perempuan dari kelas ekonomi atas dan dari budaya tertentu bisa beda tingkat partisipasinya di masyarakat dibanding perempuan difabel dengan tingkat pendidikan yang berlainan. Istilahnya, terdapat interseksionalitas dalam isu ini. Dengan kata lain, masalah gender beririsan dengan identitas lain, misalnya agama, etnisitas, dan disabilitas.
Perlu ada afirmasi dahulu agar perempuan, dan juga penyandang disabilitas, tidak makin jauh tertinggal. Kapasitas mereka harus ditingkatkan. Dengan kata lain, bagaimana perempuan bisa berbicara di musyawarah jika ia belum dibekali pengetahuan yang diperlukan?
Secara khusus dalam desain program, kita perlu strategi yang tepat agar suara-suara yang biasanya tidak terdengar bisa terlibat. Jika seringnya peserta yang berusia lanjut berkata, “Nderek mawon,” ([saya] ikut saja [keputusannya]), doronglah para sepuh menyampaikan pandangannya.
Dalam perancangan program yang inklusif, terdapat lima aspek/isu yang perlu diperhatikan: akses, partisipasi, manfaat, kontrol, dan aksesibilitas. Dalam contoh para peserta lansia di atas, meskipun lansia telah mendapat akses dan berpartisipasi dalam pertemuan rutin, masih terdapat kesenjangan dalam aspek kontrol pengambilan keputusan. Bisa saja manfaat dirasakan oleh semua, tapi belum semua peserta memperoleh akses yang sama. Artinya, kesenjangan masih ada.
Untuk mengatasi kesenjangan, kelima aspek tersebut menjadi kerangka pikir dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan analisis, seperti: bagaimanakah pembagian kerja berbasis gender dan kelas sosial? Jika perempuan ada di kebun sepanjang hari kecuali di jam makan siang, ada baiknya program dilaksanakan setelah kembali dari berkebun atau sembari makan siang.
Demikianlah sepenggal diskusi yang membuka wawasan di hari Kamis dan Jumat, 6–7 Oktober 2022 di Grand Keisha Hotel Yogyakarta. Aktivitas dua hari ini diselenggarakan dalam kerangka program IDEAKSI oleh YAKKUM Emergency Unit (YEU). Diskusi tersebut adalah bagian awaldari lokakarya mengenai kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (gender equality, disability, and social inclusion/GEDSI) yang dibahas di hari pertama.
Lokakarya ini melibatkan empat tim inovator yang telah berhasil memasuki fase pertumbuhan/scale-up, yaitu CIQAL, Difagana, Ngudi Mulya, dan PB Palma. Masing-masing perwakilan hadir untuk bersama-sama memahami praktik GEDSI yang telah atau belum dilakukan di wilayahnya. Harapannya, perspektif GEDSI dapat terakomodasi di keseluruhan siklus manajemen proyek dan pelaporan masing-masing.
Doddy Kaliri dari Difagana (Difabel Siaga Bencana), salah satu tim inovator IDEAKSI, mengungkapkan bahwa institusinya telah berupaya mendorong partisipasi, baik kelompok lansia maupun orang muda. Kelompok Tani Ngudi Mulya dengan inovasi irigasi kabutnya, sebagaimana disampaikan Dwi Wahyudi, telah membantu para lansia mengairi sawah tanpa harus menggendong air.
Sementara itu, tim inovator lain, PB Palma (Unit Penanggulangan Bencana dan Pelayanan Masyarakat dari Gereja Kristen Jawa/GKJ Ambarrukma) mengakui bahwa seringkali masyarakat belum menyadari adanya kelompok rentan di antara mereka. Barulah setelah memperkenalkan kelompok yang diidentifikasi rentan, masyarakat mengetahui bahwa ada orang-orang difabel atau yang berpotensi terabaikan dalam kejadian bencana.
Di sisi lain, CIQAL sebagai organisasi yang mengadvokasi hak-hak disabilitas berbagi data di salah satu wilayahnya bahwa, “Baru 20% dari 112 warga difabel terlibat aktif dalam penyusunan perda dan pelatihan-pelatihan.” Pemahaman akan tingkat partisipasi ini membantu CIQAL memetakan langkah selanjutnya dalam mengatasi kesenjangan partisipasi.
Aminatun Zubaedah, fasilitator dari SRI Institute yang memfasilitasi lokakarya ini, menegaskan pentingnya data dalam memajukan inklusi sosial. Keberadaan data pilah untuk mengetahui, misalnya, seberapa banyak difabel perempuan di satu desa, krusial demi kualitas analisis masalah. Setidaknya bila data kuantitatif tidak tersedia, kita mengetahuinya secara kualitatif agar pengambilan keputusan bisa tepat.
Dari keseluruhan proses diskusi yang berlangsung, satu hal yang sangat perlu diapresiasi adalah antusiasme peserta dalam berbagi praktik baik dari masing-masing tim. Proses pembelajaran bersama ini mengamplifikasi dampak dari masing-masing tim inovator dalam mencapai tujuan bersama, yakni pengurangan risiko bencana yang inklusif.