Tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang menyapu Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Namun bagi Ibu Arnita*, aroma lumpur dan dinginnya air pada malam kejadian masih terasa begitu nyata. Sebagai seorang guru honorer, ia terbiasa mengajarkan keteguhan kepada murid-muridnya. Namun bencana ini benar-benar menguji batas kekuatannya sendiri. Saat kami berbincang, ia menarik napas panjang sambil menatap puing-puing kehidupan yang perlahan ia susun kembali dari titik nol.
“Semua habis,” bisiknya lirih.
Kehilangan harta benda adalah satu hal, tetapi kehilangan kepastian menjadi beban yang jauh lebih berat. Dengan suami yang bekerja serabutan dan penghasilan yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, Ibu Arnita sempat merasa kehilangan arah—terutama saat memikirkan balitanya yang masih sangat bergantung pada kebutuhan pokok seperti popok harian. Di tengah ketiadaan pemasukan, setiap hari terasa seperti perjuangan untuk sekadar bertahan hidup.
Namun semangat Ibu Arnita tidak padam begitu saja. Di tengah trauma dan rasa takut yang masih menghantui, ia memilih untuk bangkit dan melawan keputusasaan. Titik balik itu hadir ketika bantuan kemanusiaan mulai menjangkau desanya. Melalui bantuan-bantuan tersebut, beban yang selama ini menghimpit pundaknya perlahan mulai terangkat.
Matanya berkaca-kaca saat menceritakan bagaimana barang-barang sederhana terasa begitu berharga dalam situasi darurat. “Kain sarung baru ini bukan sekadar kain, tetapi juga martabat bagi kami untuk kembali beribadah dengan layak,” ungkapnya.
Matras yang digunakan sebagai alas tidur anak-anaknya menjadi simbol bahwa kehidupan harus terus berjalan. Bagi Ibu Arnita, setiap bantuan yang datang bukan hanya tentang materi, tetapi juga pesan kuat bahwa ia tidak sendirian dalam menyusun kembali mimpinya.
Salah satu bantuan yang paling menyentuh hatinya adalah air minum dalam kemasan galon. “Saya tidak menyangka bantuan air galon juga terpikirkan untuk disalurkan,” ujarnya dengan mata berbinar.
Bagi Ibu Arnita, galon tersebut bukan hanya menjadi sumber air minum, tetapi juga solusi jangka panjang. Galon-galon itu kini ia gunakan kembali untuk mengisi ulang air bersih atau mengambil air dari bak penampungan. Melalui bantuan yang datang tepat waktu dan menjangkau kebutuhan dasar keluarga terdampak, Ibu Arnita kini kembali memiliki semangat untuk melanjutkan hidup. Ia membuktikan bahwa meskipun bencana sempat meruntuhkan banyak hal, dukungan yang tulus dapat menjadi fondasi untuk membangun kembali kehidupan yang lebih bermartabat.
*bukan nama sebenarnya