Cerita

Bangkit dari Lumpur: Keteguhan Ibu Dasimah di Desa Ujong Blang

9 April 2026

Di sebuah sudut Dusun Tiro, Desa Ujong Blang, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, seorang perempuan lanjut usia tinggal bersama keluarganya sambil memulihkan diri dari dampak banjir bandang yang dahsyat. Ia adalah Ibu Dasimah* (65), penyintas banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025.

Lebih dari tiga bulan telah berlalu sejak banjir menerjang, namun jejak kehancuran masih jelas terasa dalam kehidupan sehari-harinya. Setengah bagian rumahnya hilang terbawa arus, termasuk dapur dan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus). Sumur cincin yang selama ini menjadi satu-satunya sumber air bersih pun tertimbun pasir, membuat akses air menjadi sangat sulit—terlebih bagi Ibu Dasimah yang hidup bersama anak dan cucunya.

Tak hanya tempat tinggal, sumber penghidupan keluarga juga ikut terdampak. Sawah yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi kini tak lagi bisa digarap karena tertutup pasir. Dalam keterbatasan, Ibu Dasimah mencoba bertahan dengan mengumpulkan pinang, mengupas, menjemur, dan menjualnya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari—meski hasilnya belum mencukupi.

Di tengah situasi tersebut, secercah harapan hadir ketika Ibu Dasimah menerima informasi tentang bantuan dari YAKKUM Emergency Unit (YEU). Ia mendapatkan paket hygiene kit serta bantuan pembersihan sumur cincin.

Senang sekali rasanya. Paketnya sangat membantu untuk kebutuhan kebersihan di rumah,” ujarnya.

Kebahagiaan itu semakin lengkap saat sumurnya dibersihkan. Kini, ia tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mengambil air.

Akses air bersih yang kembali tersedia membawa perubahan besar dalam kehidupannya. Aktivitas sehari-hari seperti mandi, memasak, hingga beribadah kini dapat dilakukan dengan lebih mudah. Kondisi kebersihan keluarga pun menjadi jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Meski demikian, perjalanan pemulihan belum sepenuhnya usai. Di akhir perbincangan, Ibu Dasimah menyampaikan harapannya. Ia berharap adanya dukungan lanjutan, khususnya untuk pemulihan ekonomi dan pembangunan kembali dapur serta fasilitas MCK yang rusak akibat banjir. Di balik senyumnya yang hangat, tersimpan ketangguhan seorang perempuan yang terus berjuang di tengah keterbatasan. Kisah Ibu Dasimah menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali fisik yang rusak, tetapi juga tentang menguatkan harapan dan martabat mereka yang terdampak.

*bukan nama sebenarnya

Berita Terkait

Baca Juga Kisah Serupa

Tapanuli Tengah masih tahap pemulihan ketika Andi Joko Prasetyo pertama ...

Kisah Bu Warsilah dan Suara Petani Perempuan di Konferensi Kemanusiaan ...

Tiga bulan telah berlalu sejak banjir bandang menyapu Kecamatan Peusangan ...

Dari Program hingga Event, Semua Tercatat

Publikasi YEU menghadirkan informasi lengkap tentang perjalanan, capaian, dan kegiatan yang memperkuat ketangguhan masyarakat.